Ashoka episode #51 19

Di sekolah bangsawan, seorang guru berdiri dihadapan murid-murid, “Kalian tau siapa aku?”. Semua murid menjawab nama sang guru serentak. Ashoka yang ikut bersila di deretan murid-murid tersenyum memeprhatikan semua murid menjawab. Sang guru tersenyum, “Bagus sekali. Apa yang aku ajarkan pada kalian”. Semua murid pun menjawab apa yang diajarkan sang guru, pelajaran sejarah dan olah raga. Sang guru kembali tersenyum, “Bagus sekali”.

Sushima yang bosan dengan tanya jawab seperti itu, lalu bicara, “Kami tau siapa dirimu. Tapi alangkah lebih bagus kalau kau mengenalkan murid baru yang masuk ke sekolah ini pada kamia”, sambil melirik Ashoka yang duduk bersila di deretannya, di bagian ujung. Ashoka yang mendengar usul Sushima itu langsung mengeraskan gerahamnya.

Sushima masih bicara, “Karena yang kutau, dia bukan dari keluarga kerajaan, ataupun keluarga bangsawan. Karena pasti yang lain ingin tau siapa dirinya. Kalian semua ingin tau!”. Murid-murid lain serempak menjawab, “Yaa”. Sushima melirik Ashoka dan menyuruhnya, “Ayo Ashoka, kenalkan dirimu. Jarak antara anak sederhana dan dari keluarga bangsawan akan hilang dengan cara seperti ini”. Ashoka berpikir, Siyamak mencium aroma tidak sehat dari usulan Sushima.

Sang guru setuju dengan Sushima, “Pemikiran yang bagus. Ayo Ashoka kenalkan dirimu pada semuanya”. Ashoka yang masih menahan marah atas kematian ibunya, sangat tertekan dengan usulan perkenalan asal usul ini, wajahnya mengeras, melirik Sushima yang tersenyum licik ke arahnya. Ashoka menenangkan dirinya, dengan menarik nafas dalam, lalu bangkit dari bersilanya, dengan langkah berat, maju ke depan.

Ashoka episode #51 20

Ashoka berdiri di hadapan murid yang lain dengan wajah menahan sedih, karena ia sendiri belum bisa berdamai dengan keadaan dirinya saat ini, yang tanpa kehadiran ibu. Siyamak melihat Ashoka dengan tatap prihatin. Sushima menatap Ashoka, menunggu apa yang bisa dilakukan Ashoka.

Ashoka yang rasa percaya dirinya masih terluka, akibat kepergian ibunya yang mendadak, ditambah peristiwa didorong Sushima ke jurang, dengan terbata memperkenalkan diri, “Aku Ashoka, dan ibuku, ibuku telah meninggal beberapa hari lalu. Tapi didikannya abadi. Aku tidk akan pernah melupakan ajaran dari ibuku, aku akan berusaha mentaati semua yang diajarkannya. Aku berharap, sekolah bangsawan ini akan menjadikanku layak untuk itu”.

Sushima memberikan komentarnya, “Semua orang disini sudah tau siapa ibumu, tapi kau tidak pernah mengatakan apapun tentang ayahmu. Dan mereka semua tidak tau tentang ayahmu”. Ashoka menahan marahnya, “Aku tidak ingin membicarakan tentang hal itu”. Sushima tak berhenti, “Tidak mau bicara atau tidak bisa bicara. Karena kau tidak tau siapa ayahmu yang sebenarnya”. Ashoka semakin menahan geram menatap Sushima.

Subahu ikutan nyahut, “Kenapa tidak tau?! Apa kau tidak pernah melihat dia”. Indrajit ikut bicara, seakan ingin tau, “Benarkah, tidak pernah lihat, atau dia telah meninggalkanmu dan ibumu”. Ashoka mengepalkan tangannya, dengan geraham mengertak. Sang guru malah tersenyum melihat keadaan Ashoka yang tak nyaman dengan semua pertanyaan itu. Sushima tersenyum melihat Ashoka yang terpojok. Siyamak menatap kasihan Ashoka.

Subahu menambahkan ucapannya, “Jadi kau ini yatim atau hasil dari hubungan terlarang, atau jangan-jangan keduanya”. Ashoka menatap Subahu, Suhima dan Indrajit dengan tatap marah. Mereka malah tersenyum lebar. Siyamak menatap Ashoka yang berusaha mengendalikan rasa marahnya.

Ashoka episode #51 22

Di istana, Raja Bindusara melangkah mendekat kearah Justin yang menatapnya dengan wajah pucat. Noor yang hanya menatap wajah Justin tidak melihat kehadiran Bindusara, ia malah bertanya dengan wajah geram, “Kenapa kau diam Justin. Ayo jawab aku!”.

Justin dengan terbata, senormal mungkin, mencoba membuat situasinya yang sedang berhadapan dengan Noor yang marah, terlihat sewajar mungkin. Ia menjawab, “Permaisuri Noor, kau berhak untuk marah, tapi percayalah, dan aku tidak percaya bahwa Yang Mulia akan memberikan persetujunnya. Dan tanpa persetujuannya, bagaimana, aku bisa mengatakan, kalau pernikahanku sudah ditetapkan. Bukankah begitu Yang Mulia”, sambil tersenyum ke arah Bindusara yang sudah dekat dengan mereka berdiri.

Noor yang terpana dengan gaya jawaban Justin, dan siap melabrak, langsung mengerti situasinya saat ini, ia melirik. Tak jauh darinya, berdiri Bindusara yang tersenyum pada Justin. Wajah Noor langsung berubah pucat menatap Justin. Justin mengisyaratkan lewat mata dan anggukan tipis untuk tetap tenang, Noor mengerti.

Justin bicara pada Bindusara yang sudah semakin dekat, “Yang Mulia tolong jelaskan pada Permaisuri Noor”, sambil tersenyum. Bindusara bicara pada Noor, “Aku tau saudaraku Justin ini, sangat menghormatimu dan sayang pada Siyamak. Karena itu kau pasti berharap setiap keputusan penting, pertama-tama dia harus memberitaukan padamu lebih dulu. Aku mengerti itu”. Noor menunduk sambil mengendalikan marahnya.

Bindusara menjelaskan lagi, “Tapi kalau itu menyangkut kerajaan, maka keputusan seperti ini lebih mengedepankan, pada urusan politis daripada urusan pribadi. Dan aku tau bagaimana, cara menilai ganti rugi yang kau rasakan ini. Kau akan mendapatkan semua hakmu, kau tau bagaimana caranya, kau harus melakukan persiapan pernikahan adikku Justin ini, tentu bersama ibu suri Helena, dan semoga kau puas”. Justin dan Noor jadi terkejut mendengar solusi yang ditawarkan Bindusara. Bindusara tak sedikitpun curiga pada ekspresi dua orang yang berlainan jenis dihadapannya itu, yang laki saudara, yang perempuan, istrinya. Bindusara tetap tersenyum menatap Noor.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :