Serial Ashoka

Ashoka: Bindusara Mendengarkan Hati Nurani Memikul Tanggung Jawab Pada Shubadrangi


Cerita serial Ashoka episode sebelumnya, Ashoka yang sedang curhat di kuil di datangi Chanakya, diminta untuk menyulut api pada ritual pemakaman ‘jasad’ Shubadrangi, Ashoka marah, karena yakin ibunya masih hidup. Ashoka bersumpah demi keselamatan ibunnya, Chanakya mempertanyakan tanggung jawab Bindusara terhadap Shubadrangi yang telah menyelamatkan nyawanya. Ashoka melaksanakan sumpahnya dengan membaca mantra suci dia atas satu kaki. Bindusara memutuskan akan bertanggung jawab terhadap jasad Shubadrangi dengan meninggalkan kedudukan satu hari sebagai penguasa dan menyulut api untuk Subadrangi sebagai rakyat biasa.

Ashoka episode #37 00

Sinopsis serial Ashoka episode #36, Helena memprotes keputusan Bindusara, “Apa yang kau katakan Yang Mulia”. Raja Bindusara menjelaskan, “Inilah yang pantas dilakukan ibu. Ini rasa hormat yang bisa ku tunjukkan padanya. Kalau kedudukan sebagai penguasa menghalangiku melakukan itu, maka untuk satu hari aku hilangkan rintangannya”. Helena terpana tak percaya. Chanakya menunjukkan wajah lega. Calata hanya melirik, Khorasan mengernyitkan wajahnya, tapi tak bisa protes lagi.

Raja Bindusara menegaskan, “Supaya tidak ada yang merasa dirugikan dengan keputusan yang aku ambil”. Helena terpana, Noor dan Subrasi terbelalak. Raja Bindusara berdiri, diikuti oleh anggota pertemuan yang duduk. Chanakya menatap Bindusara dengan senyum tipis.

Ashoka episode #37 02

Perlahan-lahan, Raja Bindusara memegang mahkota di kepalanya. Calata, Khorasan, Justin terpana melihat tindakan Bindusara. Raja Bindusara melepas mahkota kebesarannya, perlahan menaroh di singgasana. Chanakya menatap dengan tatap lega. Tapi tidak bagi Calata, Justin, Helena dan yang lain, mereka masih tetap terpana.

Raja Bindusara kemudian turun dari singgasana, melangkah dengan yakin ke luar ruangan diikuti tatapan semua yang hadir.

Ashoka episode #37 04

Chanakya sedang berjalan sendiri di lorong, langkahnya terhenti, dari arah depan muncul Khorasan dengan wajah tak bersahabat. khorasan menatap tajam Chanakya yang juga dibalas tatapan tajam oleh Chanakya. Khorasan bicara, “Untuk seorang wanita sederhana, seorang Acharya Chanakya, berusaha sekuat tenaga, rasanya tidak bisa dipercaya”.

Chanakya menjawab kecurigaan Khorasan, “Kenapa, apakah seorang wanita sederhana, tidak punya hak untuk dikremasikan secara terhormat?”. Khorasan membalas, “Cara kau membela wanita itu dengan putranya berkali-kali, aku mulai curiga, apakah wanita itu, seorang wanita sederhana, atau sebaliknya, dia adalah seorang wanita yang istimewa”.

Chanakya tetap dengan wajah tenangnya, “Wanita yang demi menyelamatkan Yang Mulia, rela mengorbankan nyawanya sendiri, biarpun ada orang yang mengatakan wanita itu sederhana, dia tidak mengerti harga nyawa Yang Mulia”. Khorasan berkata dengan nada agak mengancam, “Dengan menunjukkan rasa ketertarikanmu pada wanita itu dan putranya, kau mengubah pendapat Yang Mulia. Ini tidak baik Acharya”.

Chanakya tetap tenang, “Seorang wanita yang tidak bersalah telah dibunuh dan putranya menjadi yatim, itu hal yang tidak baik Mir”. Khorasan menahan emosi, “Itu sebuah tragedi, dia dibunuh oleh serigala. Aku tidak mengerti padamu, sebuah tragedi berkali-kali kau sebut sebagai sebuah pembunuhan. Apa yang ingin kau buktikan”.

Chanakya menatap Khorasan tajam, “Wanita itu telah dengan sengaja dibunuh, dengan mengatakannya sebagai sebuah tragedi, apa kau ingin menutup kasus ini?!”. Khorasa terkejut dengan nada tajam Chanakya. Khorasan tak ingin berdebat lagi, ia memegang gagang senjatanya yang selalu terselip dipinggang, kemudian melangkah pergi, memutar selendang dipergelangan tangannya dengan kesal. Chanakya tetap berdiri kaku dengan wajah berpikir.

Ashoka episode #37 05

Di ruangan para permaisuri biasa bercengkrama, walau lebih sering saling sindir, semuanya sedang duduk di temani Helena. Mereka sedang diskusi.

Permaisuri Noor terlihat sangat kesal, “Bagaimana Yang Mulia bisa melakukan hal ini ibu suri. Dia hanya seorang pelayan. Yang Mulia sudah memberikan segala penghormatan padanya. Dan sekarang mau dikremasikan”. Helena mendengar, Charumitra ikut menahan kesal, Subrasi angguk-angguk setuju.

Noor masih sangat emosi, “Bagaimana Yang Mulia mengkremasikan dia! Apakah Yang Mulia lupa, hanya ayah, anak atau seorang suami yang bisa melakukan. Bagaimana Yang Mulia bisa menyulut api pada mayatnya! Apakah ini bukan melanggar peraturan kita disini. Apakah ini bukan melawan tradisi yanga ada?! Bagaimana Yang Mulia bisa melupakan semua peraturan yang ada!”.

Permaisuri Charumitra ikut berpendapat, “Ashoka, dengan memainkan sandiwara, sedang mengendalikan Yang Mulia. Tapi ibu, kenapa meski ibu tau segalanya, tidak sanggup berbuat sesuatu?! Kau adalah ibunya, apakah kau tidak mencemaskan tentang harga diri dan kehormatannya? Hanya kau lah yang bisa mencegah Yang Mulia”. Noor juga menunjukkan wajah cemas, Helena masih mendengar.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Satu tanggapan untuk “Ashoka: Bindusara Mendengarkan Hati Nurani Memikul Tanggung Jawab Pada Shubadrangi”

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.