Ashoka: Yakin Semua Baik-Baik, Tidak Percaya Ibunya Meninggal


Cerita serial Ashoka episode sebelumnya, di hari pertama, di hadapan guru, Ashoka menawarkan diri untuk memberikan contoh pertahahan diri dengan tubuh dalam pertarungan, Indrajit maju sebagai penantang. Ashoka: Kemenangan pertama di sekolah, Bindusara berduka, Chanakya menangis melihat bukti kematian Dharma, tentunya di tempatnya masing-masing. Bindusara berduka di hutan, di dekat jasad wanita yang dikira Shubadrangi, sementara Chanakya menangis di rumahnya melihat barang-barang Dewi Dharma yang diberikan mata-matanya.

Ashoka episode #32 00

Sinopsis serial Ashoka episode #32, di ruangannya, Helena memberikan sekantong uang pada seorang prajurit, yang begitu menerimanya, langsung meninggalkan ruangan. Helena tersenyum, bergumam dengan senang, “Akhirnya, akhirnya aku akan berhasil dalam rencana ini. Chanakya, dia akan terjebak dalam perangkapnya sendiri. Kematian ibunya, tidak akan bisa diterima oleh Ashoka. Dia tidak akan bisa dikendalikan lagi oleh Chanakya, dan ketika aku akan memberitau Bindusara bahwa Chanakya sedang bersiasat untuk memberikan tahta pada Ashoka, maka Bindusara akan sangat terkejut. Hatinya akan hancur berkeping-keping dan mengalahkan raja yang hatinya hancur itu bukanlah hal yang sulit”. Helena tersenyum mengangkat dagu dengan tatap puas membayangkan rencananya berjalan sesuai keinginan.

Ashoka episode #32 03

Di sekolah bangsawan, di ruang makan, Ashoka dan Siyamak sedang berjalan berdampingan. Ashoka ingin tau, “Pangeran Siyamak, kau selalu membantu diriku, aku berterima kasih padamu. Kalau kau tidak ada di sekolah para bangsawan ini, aku pasti akan sendirian”.

Pangeran Siyamak menjawab lugas, “Aku sudah bilang teman, kita tidak perlu saling berterima kasih. Aku belajar dari Raja Kurush (Koresh, Cyrus) bahwa ketidak adilan harus dilawan. Itulah yang aku lakukan”. Ashoka heran, “Raja Kurush?”. Siyamak menjelaskan, “Iya teman, salah satu raja terkenal di dunia, aku dengar kisahnya dari ibuku, kau tau, Sikandar juga mendapatkan inspirasi darinya. Menjadi seperti Raja Kurush adalah impianku”.

Ashoka tertarik, “Kalau begitu, ceritakan padaku tentang Raja Kurush itu, karena aku senang sekali kalau mendengar kisah orang yang ternama”. Siyamak menyanggupi, “Tentu akan ku ceritakan, tapi katakan dulu padaku, kau tidak punya pengalaman, tidak punya persiapan, lalu kenapa kau menjerat dirimu dalam situasi seperti itu, apa gunanya maju memamerkan kemampuanmu dan apa perlunya buru-buru seperti ini”.

Ashoka menjelaskan, “Aku harus banyak belajar, dan semua itu aku lakukan supaya aku sanggup menghadapi situasi apapun”. Siyamak tersenyum mendengarnya. Tapi terdengar suara Sushima bernada mengejek, “Dengan pedang kayu jangan-jangan anak ini menganggap dirinya seorang kesatria. Kalau kau berani, coba sajalah hadapi aku”. Ashoka menatap Sushima yang muncul dengan gaya sombong diikuti teman-temannya.

Ashoka episode #32 05

Siyamak memberi komentar, “Kak Sushima, kelihatannya kau tidak memperhatikan ucapan dari guru kita, *Ashoka melirik Sushima dkk dengan senyum*, dengan menilai kalau kemampuan Ashoka lebih rendah, kau dan Indrajit sudah memberi isyarat sebagai kesatria yang tidak layak. Kalau kau mengulangi kesalahan yang sama, itu tidak pantas bagimu. Ayah juga tidak akan senang dengan hal ini”. Sushima menaha geram mendengar ucapan Siyamak yang ada benarnya juga. Ashoka menatap Sushima dengan tatap yang dapat diartikan, ‘nah lo, anak ayah yang omongannya disangsikan, berani gak?’, sambil menahan geram.

Siyamak berkata, “Ayo Ashoka, kita sudah terlambat”. Siyamak dan Ashoka pun harus berjalan melewati Sushima dkk. Saat berpapasan, Ashoka dan Sushima saling tatap dengan tajam satu sama lain, kemudian dengan yakin Ashoka melanjutkan langkahnya. Sushima menatapnya tajam.

Ashoka episode #32 06

Setelah pelajaran usai, Ashoka pergi ke kuil yang ada simbol Shiwa, melepaskan sandal, melangkah memasuki pelataran kuil. Memberi sikap salam, membunyikan lonceng, melangkah kehadapan simbol Shiwa.

Ashoka mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada, bicara pada Dewa, “Aku tidak tau dalam kehidupan ini, kapan, dan mengapa segalanya terjadi. Tapi apapun yang terjadi, di dalam kehidupanku, adalah sebuah keajaiban. Ketika aku datang kesini, orang sederhana seperti aku bisa sekolah di sekolah para bangsawan dan akupun dihargai oleh Yang Mulia Raja. Aku benar-benar tidak bisa percaya atas semua yang sudah terjadi ini”.

Ashoka menggeleng-gelengkan kepalanya haru, “Ketika suatu peristiwa sedang terjadi, kita tidak bisa memahami kenapa ini terjadi. Kami manusia tidak bisa melihat masa depan hingga bisa mengira kejadian yang akan datang. Dan mengetahui masa depan, benar apa yang dikatakan orang, apapun yang terjadi itu semua pasti demi kebaikan. Dalam kehidupan ku aku juga mengalami hal baik. Ada restu dari ibuku dalam hal itu”.

Ashoka menunduk, mengingat, “Aku tau, meskipun ibu tidak setuju, tapi aku tidak akan pernah kehilangan restu dari ibuku. Aku berharap Yang Muli cepat pulang dari perburuan, sehingga aku bisa bertemu ibuku dan aku akan menceritakan padanya, bagaimana hari pertamaku disekolah para bangsawan itu dan dia pasti akan senang”. Ashoka bercerita pada Dewa dengan wajah bahagia.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

One response to “Ashoka: Yakin Semua Baik-Baik, Tidak Percaya Ibunya Meninggal

  1. Ping-balik: Ashoka: Melihat Jasad Yang Diduga Ibunya dan Jatuh Pingsan, Raja Bindusara Membopongnya | Dizaz·

Gimana Menurutmu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s