Ashoka: Dharma, Istri Kesayangan. Dalam Keadilan, Raja Bindusara Pilih Kasih Atau Tidak


Cerita serial Ashokan episode sebelumnya, Ashoka menanyakan keadilan Raja Bindusara pada Chanakya sebagai guru. Ashoka yang mulai menaruh simpati pada kepemimpinan Bindusara, justru ditanamkan benih kecurigaan oleh Chanakya, agar Ashoka bisa menilai sendiri. Radhagupt bingung dengan sikap Acharya. Acharya akhirnya menjelaskan, alasan Chanakya merahasiakan Dharma dan Ashoka. Raja Bindusara memilih permaisuri yang dicintai pada malam Shivaratri sesuai tradisi dan hak yang dimiliknya. Bindusara mengajak Shubadrangi bertemu dengan permaisuri yang paling dicintainya itu.

Ashoka episode #20 (15A) 00

Sinopsis serial Ashoka episode #20 (15A), Mata Shubadrangi terbelalak, saat Yang Mulia Bindusara membalikkan badan, sehingga ia bisa leluasa melihat ke depan, ia  melihat patungnya sendiri sedang berdiri dengan anggun, ditaroh di sebuah altar, di belakangnya ada bangku dan di depannya juga ada meja. Seakan permaisuri yang dalam bentuk patung tersebut memang pemilik ruangan.

Ashoka episode #20 (15A) 02

Raja Bindusara yang berdiri di depan Dharma menatap patung permaisuri yang sangat dicintainya itu dengan mata penuh kerinduan. Ia tak melihat ekspresi Shubadrangi yang shok, terkesima, tak bisa berkata.

Mata Shubadrangi berkaca-kaca, nafasnya sesak menahan tangis, ia sampai tak menyadari selendang yang menutupi kepalanya terjatuh di tiup angin. Shubadrangi tak menyangka kalau Bindusara memperlakukannya sangat istimewa, ia pun menangis dalam diam sambil menatap patung Dharma alias dirinya sendiri.

Raja Bindusara mulai bergerak membalikkan badan, Shubadrangi kelabakan memegang kepalanya yang sudah tak berselendang lagi. Dengan cepat, ia mengambil selendang yang terjatuh ke lantai, menaroh dikepalanya, kembali ke posisi berdirinya sebagai seorang pelayang, agak miring, sambil menutupi wajahnya dengan selendang tipis tersebut. Bindusara membalikkan badan, melihat wanita yang merawatnya itu tetap dalam posisi sebelum ia membalikkan badan menatap patung Dharma.

Ashoka episode #20 (15A) 03

Raja Bindusara berkata pada Shubadrangi, “Pengorbanan, ikhlas, wujud dari kewajiban”. Bindusara kembali menatap patung Dharma, “Dia lah istri kesayanganku, Dharma”.

Mendengar itu, Shubadrangi menangis dibalik selendangnya. Bindusara menjelaskan, “Yang memberi beberapa hari di kehidupannya dan mengilhami aku untuk hidup sepanjang masa. Tapi kematiannya membuat kehidupan ku menjadi hampa. Dan kehampaan ini mungkin baru akan terpenuhi setelah kematianku”. Dharma menangis tergugu, agar suara tangisnya tak terdengan, ia menggigit pinggir selendang dan menutup mulutnya dengan tangan.

Setelah bisa menenangkan diri, Shubadrangi bertanya, “Tapi, bagaimana dia bisa meninggal”. Raja Bindusara bercerita sambil terbayang saat Mir Khorasan menjemputnya di pondok Dharma, ‘ayo Yang Mulia, ikutlah denganku, mereka telah memberontak. Sebelum Magadh terbakar, dan kini rakyat membutuhkan anda’. Terbayang saat Dharma memintanya untuk pergi menjalankan kewajiban . Juga terbayang saat mengucapkan kata perpisahan pada Dharma, ‘aku berjanji padamu setelah menyelesaikan kewajibanku, aku pasti akan kembali untuk menjemputmu’. Mata Dharma terbelalak mendengar kisah ulang kehidupannya itu.

Raja Bindusara menjelaskan, “Dengan mengendalikan semua pemberontakan yang telah terjadi di negeri ini. Dan logika menikah dengan Noor demi kebaikan Magadh sudah ku lakukan, tapi dari Noor kenyataan ini tidak bisa ku sembunyikan untuk selamanya”. Bindusara pun menceritakan malam pertamanya dengan Noor yang diawali oleh pengakuan jujurny, ‘aku dan hatiku, tubuhku, sudah kuserahkan pada dia sebelumnya’. Saat itu Noor ingin tau, ‘Yang Mulia, siapa dia’. Dengan tersenyum, dia memberitau, ‘Dharma’. Shubadrangi semakin menggigit ujung selendang yang digenggan menutupi wajahnya.

Bindusara melanjutkan ceritanya, “Sesuai janjiku, aku pergi menjemput Dharma. Aku mengetahui, bahwa beberapa hari sebelumnya, gubuknya sudah hangus, terbakar. Aku berusaha keras untuk mencarinya, tapi saat itu bukannya aku mendapatkan bukti bahwa dia masih hidup, semua orang mengatakan bahwa Dharmaku itu sudah mati”. Shubadrangi semakin tergugu dalam diam, saat Raja Bindusara menoleh ke arahnya, dia dengan cepat kembali ke posisinya berdiri, menyamping dan menutup wajahnya dengan selendang.

Ashoka episode #20 (15A) 04

Raja Bindusara sambil menoleh, memberitau, “Tapi dia masih hidup”. Deg!! Shubadrangi memegang dadanya agar detak jantungnya yng semakin cepat hanya dia yang merasakan, tidak sampai terdengar Raja Bindusara. Ia hanya menatap patung permaisuri Dharma. Mata Shubadrangi semakin terbelalak saat Raja Bindusara mendekat ke arahnya, ia gelagapan dibalik selendangnya. Raja Bindusara seperti ingin melihat ekspresi wajah dibalik selendang tersebut, memberitau, “Dia masih hidup”.

Dharma memegang tangannya yang memegang selendang dengan tangan satunya, agar tidak ketahuan kalau dia sangat grogi, mana Raja Bindusara menambahkan, “Dan saat inipun dia sedang bersamaku”. Shubadrangi semakin gelagapan di balik selendanganya. Untung saja Raja Bindusara kembali melangkah, melihat patung permaisuri Dharma, “Tapi ketika aku datang ke tempatnya, aku menjadi bimbang, *Shubadrangi, menarik nafas lega*, Apakah aku harus merasa bersyukur pada Dewa bahwa dia mempertemukan aku dengan Dharma yang sangat aku cintai, atau mengeluh, kenapa masa-masa cinta kami begitu singkatnya”. Raja Bindusara menahan perasaannya agar tak menumpahkan air matanya.

Raja Bindusara menyadari sudah terlalu banyak menceritakan perasaan terdalamnya, pada wanita yang merawat kesehatannya saat ini. Saat ia menoleh ke belakang, Shubadrangi sudah tak ada. Bindusara tertegun tak mengerti, kenapa pelayannya itu pergi begitu saja. Tapi kemudian Raja Bindusara larut kembali dengan patung Dharma yang berdiri anggun di depannya.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

One response to “Ashoka: Dharma, Istri Kesayangan. Dalam Keadilan, Raja Bindusara Pilih Kasih Atau Tidak

  1. Ping-balik: Ashoka: Raja Hutan Mengadili, Ibu Suri Helena Mencurigai Chanakya Membawa Ashoka ke Istana | Dizaz·

Gimana Menurutmu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s