Shakuntala: Akan Meninggalkan Hastinapura, Dushyant Bertemu Bharata & Menjemput Shakuntala (Episode Akhir)


Setelah Bharata masuk ke tenda, Dushyant merenung, ‘dia anak yang baik, dan sangat pemberani, bahkan singapun tunduk padanya, orangtuanya, pasti bangga padanya, orangtuanya beruntung sekali memiliki anak yang baik dan pemberani seperti dia’, tanpa sadar sambil tersenyum.

Di hutan, Karan terus mencari Bharata, Shakuntala ikut mencari, “Bharata kau dimana”. Karan melihat Shakuntala dengan sikap merasa bersalah. Shakuntala terus melangkah memanggil Bharata.

Shakuntala episode 102 103 104  20

Sementara di perkamahan Dushyant, dalam tenda, Bharata mencoba mengayunkan pedang. Dushyant muncul dan bertanya, “Jadi kau bisa memainkan pedang juga”. Bharata menjawab, “Tidak, aku tidak bisa bermain pedang, tapi aku ingin belajar. Paman mau mengajariku”. Dushyant tersenyum, “Ya, kenapa tidak”. Dushyant kemudian memegang tangan Bharata yang memegang pedang dari belakang, setengah merangkulnya, memandu langsung, mereka berdua mengayunkan pedang itu.

Sementara di hutan, Shakuntala sangat cemas, sampai mengeluarkan air mata, “Oh Dewa, aku tidak tau dimana putraku, lindungi dia Dewa”. Karan yang berdiri disebelahnya semakin tak enak. Shakuntala melangkah lagi memanggil, “Bhrata!”.

Di perkemahan, di dalam tenda, Bharata dan Dushyant masih belajar cara mengayunkan pedang. Dushyant kemudian berkata sambil memegang pundak Bharata, “ini sudah larut malam, sebaiknya kau tidur, besok pagi, aku akan mengajarimu lagi, setuju”, sambil usap pipi Bharata. Bharata naik ke tempat tidur. Dushyant menaroh pedang, kemudian ikut duduk di tempat tidur, mengusap kepala Bharata sebentar.

Shakuntala episode 102 103 104  22

Saat mau beranjak dari tempat tidur, Dushyant ingat sesuatu, “kita sudah melewati waktu bersama, tapi aku belum tau nama anak pemberani ini, siapa namamu nak”. Bharata yang sudah bersiap memejamkan mata, duduk kembali, “namaku Bharata, dan Paman”. Dushyant tersenyum simpul, “kau masih belum tau namaku”. Dengan polos Bharata menjawab, “Belum, paman belum memberitau”. Dushyant mau memberitau, “Nama ku adalah,,”

Tiba-tiba, Panglima masuk dan langsung bicara, “Yang Mulia, kami masih belum menemukan orang yang suruh anda cari. Yang Mulia, siapa anak ini, kami tidak pernah melihat dia disini sebelumnya”. Dushyant tersenyum, “Dia Bharata, anak yang sangat pemberani. Kau tau, dia sudah menyelamatkan nyawaku hari ini, dan dia berani menantang seekor singa dan percayalah, singa itu kabur begitu melihatnya”.

Si Panglima heran, “Benarkah?”. Dushyant meyakinkan, “Ya, tapi sayangnya, dia terpisah dari pamannya di hutan, jadi aku pikir, sebaiknya aku bawa dia kemari”. Panglima mengerti. Dushyant mengusap kepala Bharata, “Sekarang kau tidurlah, sudah malam”. Panglima keluar tenda. Bharata merebahkan diri, memejamkan matanya. Dushyant tersenyum menatap wajah polos Bharata yang tertidur pulas.

Sementara di hutan, Shakuntala terus mencari, saat melihat Karan langsung bertanya, “Karan, sudah bertemu Bharata?”. Karan tertunduk diam. Shakuntala mulai menangis lagi, “Karan, aku mau Bharata, aku mau anakku Karan. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya”. Karan menenangkan, “Tenanglah Shakuntala, aku yakin sekali, kalau Bharata tidak akan apa-apa. Kita pasti akan menemukannya”. Shakuntala menangis, mulai berjalan mencari lagi, “Bharata!”. Karan mengikuti.

Shakuntala episode 102 103 104  24

Pagi harinya, saat fajar mulai menyingsing, cicit burung mulai terdengar. Shakuntala dan Karan terduduk dengan wajah letih di pohon yang tumbang. Shakuntala bicara, “Sejak malam sampai pagi kita mencarinya, tapi Bharata belum juga ketemu. Anak sekecil itu bisa pergi kemana”. Karan tercenung, “Ini semua salahku, kalau aku menjaganya dengan baik, hal ini tidak akan terjadi. Ma’afkan aku Shakuntala”.

Shakuntala yang mulai tenang berkata, “Tidak Karan, kau tidak bersalah dalam hal ini. Mungkin Dewa masih mau menguji kita lagi. Mungkin, masih ada derita yang tersisa untuk aku jalani. Tapi aku takkan menyerah, aku akan mencari putraku, aku akan mencari Bharataku”. Karan makin tercenung.

Dua orang lelaki lewat, yang satu membawa kampak, yang satu memanggul kayu. Karan berdiri menghampiri, “Ma’af apa kalian melihat seorang anak disekitar sini, dia berusia delapan tahun”. Lelaki yang membawa kapak menjawab, “ya, kemarin malam ada seorang anak kecil yang ikut Tuan ke markas, tapi kami tidak tau, anak itu apakah yang kau cari atau bukan”. Karan melihat ke Shakuntala, yang terlihat menunjukkan sedikit harapan diwajahnya, tapi bercampur tegang. Dua laki-laki tersebut meneruskan perjalanannya.

Shakuntala episode 102 103 104  26

Di perkemahan. Bharata berdiri diluar tenda dengan wajah tertunduk. Dushyant yang baru keluar tenda, menghampirinya, “Bharata, kenapa kau kelihatan sedih. Kalau kau butuh sesuatu, katakan padaku, aku akan menyediakannya”. Bharata menggeleng, “Tidak, aku tidak perlu apa-apa”.

Dushyant jadi ikut sedih melihat wajah Bharata yang sedih, “Kalau begitu ada apa?”. Bharata memberitau, “Aku cuma mengingat ibuku, ibuku pasti sangat mencemaskan aku, ibuku tidak tau aku ada dimana”. Dushyant tersenyum, berlutut di hadapan Bharata, memegang pundak Bharata, menenangkan, “Kau jangan khawatir, aku segera menyuruh prajurit untuk mencari ibumu, dia akan segera ditemukan”. Bharata tetap terlihat sedih. Dushyant tersenyum, “Bukankah ada aku disini. Apa kau tidak senang, berada bersamaku disini”. Bharata menjawab, “Tidak, aku senang sekali, tapi ibuku,,”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.