Shakuntala episode 101 06

Kemudian mereka duduk di bale-bale, makan. Bharata menyuapkan Shakuntala, menyuapkan Karan. Shakuntala menyuapkan makanan ke mulut Bharata yang terlihat senang. Shakuntala masih meneteskan air mata, gundah itu masih belum pergi darinya. Shakuntala berkata, “Sudah nak, ibu sudah cukup, sisanya kau saja yang makan”.

Shakuntala kemudian menoleh ke sahabatnya, “Karan, aku merasa kurang nyaman, rasanya aku ingin menyendiri dulu. Tolong kau jaga Bharata, aku akan segera kembali”. Karan yang tau kondisi Shakuntala menyanggupi, “Jangan khawatir Shakuntala, aku akan menjaga Bharata. Sekarang kau pergilah”. Shakuntala memegang pipi Bharata, kemudian beranjak keluar.

Di istana, Dushyant mondar mandir di kamarnya. Gelisahnya semakin bertambah, ia terbayang gadis yang dilihatnya di kuil tadi, yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Dushyant kemudian menatap lukisan gadis yang dirasanya tak pernah lengkap itu.

Di gerbang, si anak nelayan masih menunggu kesempatan bertemu. Seorang pejabat istana mau masuk gerbang, ia pun memanggi, “Pak, Pak. Tolong ketemukan aku dengan Yang Mulia Dushyant, aku ada perlu penting Pak”. Si pejabat istana menatapnya, “Kenapa nak, kau ada perlu apa”. Si anak tertunduk, kemudian mengambil cincin dari kain dipinggangnya, menunjukkannya, “Ini cincin Yang Mulia, dan ada cap kerajaannya disini”. Si pejabat melihatnya, “Ya, ini cincin Yang Mulia Dushyant. Kau dapat dari mana”.

Si anak menjelaskan, “Sebenarnya kami ini nelayan. Aku menangkap ikan besar, dan didalam perutnya kami menemukan cincin ini”. Si pejabat bilang, “Serahkanlah cincin ini padaku, aku akan menyerahkannya pada Yang Mulia Dushyant”. Si anak tersenyum setuju.

Shakuntala episode 101 08

Di kamarnya, Dushyant memperhatikan lukisan gadis hasil karyanya lekat. Di lorong, seorang petugas, menyerahkan tumpukan dokumen ke pejabat yang tadi menerima cincin. Cincin yang dipegang dan mau diserahkan pada Raja Dushyant, tanpa ia sadari terjatuh.

Di kamarnya, Dushyant mengambil kuas, mencoba menelusuri lagi lukisan gadis yang dirasanya kurang, berharap akan ingat, tangannya yang memegang kuas terarah ke jari si gadis, tapi ia tak tau apa yang harus dilukis lagi dijari itu.

Di lorong, seorang pelayan wanita memungut cincin yang terjatuh dari pejabat sebelumnya. Ia memperhatikan cincin itu.

Di kamarnya, Dushyant masih membenarkan lukisan gadis, ia kesla sendiri saat tak menemukan juga apa yang kurang, menaroh kuas dengan kesal.

Di lorong, si pelayan yang menemukan cincin, melihat Permaisuri sudah duduk di depan altar pemujaan. Ia pun bergegas menyiapkan bunga, “Aku harus menyiapkan bunga untuk Permaisuri untuk pemujaan”. Saat menaroh bunga ke nampan, cincin yang dipegangnya ikut masuk. Ketika memindahkan bunga ke nampan pemujaan Permaisuri, cincin itupun ikut. Permaisuri melakukan ritual pemujaannya.

Shakuntala episode 101 10

Setelah selesai pemujaan, Pemaisuri membawa nampan pemujaan ke kamar Dushyant. Dushyant berdiri temangu di depan jendela. Permaisuri mengusiknya, “Dushyant”, kemudian tersenyum, memberikan asap pemujaan pada putranya itu.

Pelayan masuk, memberitau, “Permaisuri, anda dipanggil Yang Mulia”. Permaisuri mengangguk, menaroh nampan pemujaan di meja kecil di kamar Dushyant sambil berpesan, “Dushyant, jangan lupa makan sesajinya”. Kemudian Permaisuri dan pelayan melangkah keluar kamar.

Dushyant mendekat ke nampan pemujaan yang ditinggalkan ibunya, mau mengambil sesaji yang ada di nampan, matanya melihat cincin di tumpukan bunga yang juga ada dinampan. Dushyant malah mengambil cincinnya. Menatap cincin tanda mata yang hilang itu, bayangan kabur yang muncul semakin banyak, Shakuntala berlari di hutan, Shakuntala meniup bulatan yang mudah terbang.

Shakuntala episode 101 11

Dushyant terkesima sendiri. Bayangan buram lain muncul, saat ia mengusap rambut Shakuntala, muncul dari kolam di ashram setelah mereka berbaikan, bayangan buram itu perlahan berubah bayangan jelas.

Dushyant terpana, terbayang saat Shakuntala berlari kepelukannya di bangunan tua, terbayang saat dia menutup mata Shakuntala dari belakang di kamar ashram. Terbayang tatapan Shakuntala saat menyadari dia menyamar memakai pakaian baju anak-anak ashram. Kening Dushyant mengernyit. Ternyata begitu banyak yang terlupakan olehnya selama ini.

Dushyant terbayang saat dia mengalungkan bunga pernikahan ke leher Shakuntala. Dushyant menarik nafas, terbayang saat dia memasangkan cincin ke jari Shakuntala sambil berkata, ‘ini adalah cincin kerajaan, jagalah dengan baik’.

Dada Dushyant semakin sesak, bayangan beberapa tahun yang selama ini buram seperti jelas di kepalanya. Ia ingat semua, terbayang ayahnya yang marah, ‘sekarang aku tidak mengakuimu sebagai kelaurgaku’. Wajah Dushyant mengernyit, terbayang saat ia terjatuh dari kuda dan kepalanya membentur batu. Dushyant mengerjapkan matanya, terbayang saat dulu Shakuntala datang ke istana untuk meyakinkannya, dengan air mata berkata, ‘aku Shakuntalamu Dushyant, cobalah, cobalah kau lihat aku. Aku, aku adalah Shakuntalamu, aku istrimu’.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :