Ashoka: Pertanda Bahaya Lewat Mimpi, Musuh Kerajaan & Kelahiran Ashoka


Ashoka episode 1, 2, 3,  59

Dharma ternyata sudah berdiri dibalik dinding pondok. Dia heran dan terkejut, “Raja Bindusara?”, tampayan air yang dibawanya terlepas, pecah. Khorasan berteriak, mengeluarkan pedangnya. Bindusara juga menoleh kearahnya. Dharma melangkah mendekat sambil matanya terus menatap Bindusara. Bindusara menatapnya lembut dan tersenyum.

Khorasan yang masih memegang pedangnya bertanya, “Siapa kau!”. Dharma dengan tetap menatap Bindusara menjawab, “Aku pelayannya Raja”. Bindusara mengangkat tongkatnya, menurunkan pedang Khorasan agar tidak teracung, “Dia Dharma, dia sudah menyelamatkan nyawaku, dan aku sudah,,,”. Dharma langsung memotong ucapan Bindusara dengan sikap seperti memohon, bersimpuh, “Yang Mulia, aku merasa sangat beruntung bisa merawatmu selama ini”.

Bindusara terkejut melihat sikap Dharma. Khorasan memasukkan pedangnya ke sarungnya. Dharma berdiri, tapi tetap dengan sikap memohon, “Sekarang kau sudah sepenuhnya pulih Yang Mulia, Pergilah. Kerajaanmu dan rakyatmu, mereka sangat membutuhkanmu sekarang. Penuhilah janji yang sudah kau buat sebelumnya. Lakukan kewajiban, karena tidak ada yang lebih penting daripada melaksanakan kewajiban. Aku sudah menyelamatkan nyawamu Yang Mulia, sementara itu, pergilah lindungi Magadh”. Wajah Bindusara berubah tenang.

Khorasan yang dari tadi memperhatikan Dharam bicara, langsung berkata, “Ayo”. Bindusara mengangguk, lalu menoleh ke arah Dharma yang masih dalam sikap memohonnya. Bindusara tersenyum.

Ashoka episode 1, 2, 3,  61

Bindusara sudah memacu kudanya diiringi Khorasan dan pasukannya. Ia terngiang ucapan Dharma ‘memenuhi janji yang sudah kau buat sebelumnya. Lakukanlah kewajiban’. Bindusara terbayang saat dia berpamitan, Dharma berucap, “Sudah menjadi kewajiban untuk menerima kebenaran dalam hidupmu”. Bindusara menjelaskan, “Tapi aku jga sudah menikah denganmu dan itu juga sebuah kebenaran. Kau adalah istri dari Raja Magadh, kau seorang Ratu, harusnya kau tinggal di Pataliputra, bukan disini”.

Ashoka episode 1, 2, 3,  62

Dharma mengingatkan, “Yang Mulia, cinta tidak seharusnya menghalangi jalan untuk menunaikan kewajiban, dan penyatuan kita seharusnya menguntungkan Magadh, bukan merugikannya”.

Bindusara tersenyum, “Memang ini menguntungkan bagi Magadh, tapi aku berjanji padamu, setelah aku melaksanakan kewajibanmu, aku akan kembali untuk membawamu”. Dharma dengan wajah tetap tersenyum berkata, “kau tidak perlu membuat janji. Aku sangat percaya padamu”. Bindusara melepas cincin ditangannya, meraih tangan Dharma, menaroh cincin tersebut di telapak tangan Dharma.

Di istana Magadh, Prosesi penobatan Justin sebagai Raja sedang berlangsung. Justin tersenyum. Helena masih menahan senyumnya. Charumitra memeluk putranya yang menangis. Amatya bicara, “Menurut keputusan sidang istana, anak tertua dari Chandragupta dan Ratu Helena, Pangeran Justin, akan diberikan tanggung jawab untuk melindungi Magadh untuk hari ini”. Justin lirik mahkota Raja. Helena tersenyum. Wajah Charumitra tetap mengernyit.

Amartya masih bicara, “Untuk menyelamatkan Magadh dari keadaan yang sulit. Dia akan diberikan kekuasaan kerajaan, dimana dia bisa mengambil senjata kalau seandainya itu perlu bagi Magadh. Mulai sekarang, perintah Pangeran Justin, akan dinyatakan sebagai perintah dari Raja Magadh”.

Ashoka episode 1, 2, 3,  66

Semua prosesi ritual sudah dilaksanakan. Amatya mempersilahkan dengan tangannya agar Justin melangkah menuju Singgasana. Justin tersenyum. Helena memperhatikan dengan wajah tegang. Charumitra tetap menunjukkan wajah mendung sambil memangku anaknya. Justin sudah menaiki anak tangga menuju singgasana. Di depan singgasana, dia membalikkan badan, menatap ke semua peserta sidang sambil terus ditaburi bunga-bunga.

Orang-orang suci istana membawa nampan berisi mahkota kerajaan, mata Justin tak lepas dari mahkota tersebut. Helena berdiri, mengambil mahkota tersebut, terbayang ucapannya sebelumnya saat menerima mahkota tersebut ‘aku menginginkan kepala Bindusara’. Helena tersenyum melihat ke arah Justin. Bersiap menaroh mahkota ditangannya ke kepala putranya yang baru saja diangkat menjadi Raja. Mereka berdua tersenyum.

Tangan Helena yang mengangkat mahkota sudah diatas kepala Justin, saat terdengar suara yang bilang, “berhenti!”. Helena ternganga menoleh ke arah suara tersebut. Charumitra, Amartya, Justin dan semua yang ada di ruangan tersebut juga menoleh.

Di depan pintu, berdiri Khorasan sambil mengangkat tangan, didampingi beberapa orangnya. Helena menurunkan tangannya, berkata, “Apa maksudmu dengan semua ini!”. Khorasan tak menjawab, ia dan orang-orangnya berdiri minggir, memberi jalan ke seseorang di belakang mereka.

Ashoka episode 1, 2, 3,  67

Bindusara melangkah dengan tenang, berdiri menatap semua yang hadir diruangan itu. Helena terkejut. Justin terbelalak. Charumitra menunjukkan ekspresi senang bercampur tangis haru. Anggota sidang membuka kedua telapak tangan mereka, semua tersenyum lega. Hanya Amartya yang tertunduk.

Helena yang sempat ternganga, menatap mahkota ditangannya, walau dengan perasaan berat hati, ia melirik Justin yang juga melihatnya. Helena memberi isyarat lewat matanya untuk ikut alur yang ada aja.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan