Serial Ashoka

Ashoka: Pertanda Bahaya Lewat Mimpi, Musuh Kerajaan & Kelahiran Ashoka


Helena pura-pura bertanya, “Apa maksudmu sebenarnya”. Amartya seperti menjelaskan, “Begini ibu Ratu, aku tidak tau apakah yang lain akan setuju dengan pendapatku ini. Tapi menurut pendapatku, sebagai sebuah formalitas, Pangeran Sushima harus dinobatkan sesuai dengan ritualnya. Seseorang yang yakin bisa diandalkan harus memimpin kerajaan ini, seseorang yang terpelajar, seperti yang diimpikan oleh Raja Chandragupta dan Raja Bindusara. Seseorang yang sudah banyak tau tentang cara mengatur sebuah kerajaan. Seseorang yang punya kemampuan untuk mengakhiri sebuah pemberontakan. Dan saat ini, menurut pandanganku, hanya seorang saja yang mampu melakukan itu, dan dia adalah putra ibu Ratu, Justin”.

Ashoka episode 1, 2, 3,  41

Justin pura-pura menatap kaget mendengar usulan itu. Charumitra semakin mengernyitkan wajahnya. Helena pura-pura menolak, “Tidak!”. Ia langsung berdiri, diikuti oleh anggota sidang yang lain. Helena melangkah ke depan, “Itu tidak mungkin. Aku tidak setuju dengan semua ini”. Justin juga pura-pura tak menginginkannya, “Aku juga tidak setuju. Aku sudah merasa sedih dengan kematian saudaraku Bindusara, macam apa penderitaannya, aku tidak mau mengalami hal yang lebih buruk lagi”. Helena dan Amatya tersenyum tipis melihat wajah yang ditunjukkan Justin. Justin yang terlihat sedih, “Aku tidak bisa kalau aku mengambil tempatnya, aku tidak akan pernah”, melihat ke arah Charumitra.

Amartya merespon, “Ini bukan saja untuk menjadi emosional, ambillah keputusan sebagai selamat apda Magadh, penting untuk memikirkan yang terbaik untuk Dinasti Maurya. Permaisuri Charumitra, musuh-musuh Raja Bindusara, tidak diragukan lagi, pasti mereka mengincar Pangeran Sushima setelah ini”. Charumitra tetap dengan wajah sedihnya. Helena meliriknya. Amatya melanjutkan ucapannya, “Maka saat ini hanya Justin saja yang bisa memberikan perlindungan dan menunjukkan jalan bagi Magadh. Hanya dia yang bisa mengikuti masa depan Magadh dan Dinasti Maurya”. Angta sidang mulai mengangguk-anggukan kepalanya.

Amartya berusaha lebih meyakinkan lagi, “Aku tanya pada kalian, apakah saranku ini, tidak masuk akal?”. Justin melirik Helena dengan wajah tegang. Salah satu anggota sidang bersuara, “Aku setuju dengan pendapatmu, Amartya Ugrasena, saat ini, Justin memilikinya, tapi untuk ini, persetujuan dari Raja Khorasan sangat penting, *Justin dan Helena agak sedikit terkejut*. Jika dia memberikan persetujuan untuk ini, kami tidak butuh persetujuan dari siapapun lagi”. Justin agak tertunduk. Salah satu anggota sidang lain bersuara, “Tapi dimana Raja Khorasan sekarang”.

Ashoka episode 1, 2, 3,  44

Di gerbang istananya, di atas kuda, Khorasan berkata lantang, “Ini adalah janjiku untuk putriku, jika calon suamimu Raja Bindusara masih hidup, tidak akan kubiarkan satupun nyawa bisa menyembunyikannya demi membawanya kembali”. Noor mendengar janji ayahnya itu masih dengan wajah berkabung. Raja Khorasan memacu kudanya diikuti beberapa orang pasukannya.

Di sidang istana Magadh, Amartya memberitau, “Raja Khorasan sedang berduka saat ini, tapi Magadh hanya akan tinggal debu saat dia memberikan persetujuannya. Sepertinya kita tidak punya banyak waktu lagi, apapun keputusannya, maka ini, harus dilakukan saat ini juga”. Amartya menoleh ke Helena, “Ibu Ratu, bagaimana pendapatmu kali ini”. Helena tertunduk. Charumitra dan Justin menunggu. Helena bersuara, “Jika itu yang dikehendaki semua orang, aku akan menerimanya. *Justin seperti kaget, Chrumitra bersedih*, Ini juga demi kabaikan Pangeran”.

Justin pura-pura keberatan, “Tapi,,”. Helena memotong ucapannya, “Justin, ini bukan saatnya untuk merasa ragu. Raja Chadragupta dan Raja Bindusara, pasti akan selalu menghargai keputusan sidang istana. Demi dinasti Maurya dan Kerajaan Magadh, kau harus menerima tanggung jawab yang diberikan kepadamu oelhe Dewan sidang istana ini”. Justin pura-pura merengut. Helena menunduk, pura-pura tak punya pilihan sambil melirik Amartya.

Ashoka episode 1, 2, 3,  46

Di pinggir sungai, gadis-gadis masih menggosk tangan dan kaki Bindusara. Gadis berambut panjang mulai terlihat cemas. Diatas batu sungai, muncul singa. Suhbaradangi menaroh telapak tangannya di atas luka Bindusara. Singa mengaum. Bindusara menarik nafas dan bergerak. Si gadis sangat senang, “Lihat, dia masih hidup”. Bindusara membuka matanya sedikit, melihat singa yang jauh di atas bebatuan, melihat wajah gadis yang tersenyum di sebelahnya. Singa kembali mengaum.

Paginya, Bindusara berjalan tertatih keluar pondok. Ia mendengar suara seorang gadis dan memperhatikannya. Si gadis sedang bercerita pada Brahma kecil, “Nilai dari kisah ini adalah perbuatan kita harus sesuai dengan pemikiran-pemikiran yang baik, yang ada dalam pikiran kita. Kekerasan itu mudah, kita akan jadi pemarah dan juga merasa benar sendiri. Kitapun membentuk kebencian dan arogansi di dalam diri kita, diri kita tertantang dan juga begitu cepat, kitapun akan mengangkat senjata. Tapi kelembutan, kelembutan justru sangat kuat, karena kelembutan adalah jalan dari kebaikan, itu jalan pengampunan, jalan kepedulian, dan juga kasih sayang”.

Ashoka episode 1, 2, 3,  49

Para Brahma cilik itu mendeagarkan sambil bersila dengan serius, dipagar pondok Bindusara terpesona oleh pemikiran dan juga wajah cantik si gadis. Si gadis masih bicara, “Menjadi pengampun, baik hati, peduli dan juga punya kasih sayang, semua itu butuh pengorbanan. Itu adalah tugas kita semua”. Bindusara larut dalam tatapannya pada gadis yang sedang menyampaikan nilai-nilai kehidupan yang dianutnya dengan senyum di wajahnya. Ia terbayang saat ditolong dipinggir sungai, di rawat dengan penuh kasih sayang, dan terngiang semua kata-kata si gadis sebelumnya.

Si gadis masuk pondok sambil mengulek obat ditangannya. Wajahnya terkejut saat melihat pondok kosong. Ia menaroh tempat ramuan obat ke meja, berlari keluar pondok, berdiri sebentar, memperhatikan sekitar, kemudian berlari arah ke sungai dimana dia menemukan lelaki yang ditolongnya.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Satu tanggapan untuk “Ashoka: Pertanda Bahaya Lewat Mimpi, Musuh Kerajaan & Kelahiran Ashoka”

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.