Ashoka: Pertanda Bahaya Lewat Mimpi, Musuh Kerajaan & Kelahiran Ashoka


Ashoka episode 1, 2, 3,  33

Seorang Raja tersenyum melihat siapa yang datang menemuinya. Ia langsung bangkit dari kursi kebesarannya, “Kemarilah Helena, Justin”. Helena datang mendekat, “Ayah, aku rasa ini saatnya untuk menyerang Pataliputra, apakah kau sudah siap?”.

Ayah Helena, Nicator menjawab, “Sudah bertahun-tahun aku mengalami kekalahan di tanah Chadragupta Maurya, aku menderita karena rasa malu itu dalam setiap hidupku. Itu bukan hanya sebuah kekalahan bagiku, tapi bagi seluruh Pasedonia, dan ini adalah sebuah arti, dan sampai saat ini aku tidak melakukan hal yang lain. Aku hanya melakukan persiapan untuk bisa menguasai Kerajaan Magadh selamanya, *Justin menundukkan kepalanya*, Itulah yang aku lakukan, dengan berbagai cara, bagaimanapun juga, aku harus bisa menguasai Kerajaan Magadh dan itu adalah janjiku”.

Helena dan Justin mendengar dengan wajah serius. Nicator bertanya, “Katakan, kapan kita siap untuk berperang”. Helena menjawab, “Yang aku inginkan adalah, Justin harus bisa menjadi penguasa tahtanya, dia akan kirim pasukan untuk menguasai para pemberontak di Utara dan para Menteri di Pengadilan segera akan dibunuh, itu akan menandakan akhir dari Kerajaan Maurya, dan Magadh pasti akan menjadi milik kita”.

Nicator merespon, “Aku bangga dengan strategi mu itu. Impianku tidak akan pernah sampai sedekat ini, kalau bukan karena putriku. Dan kau telah membuktikan hal itu anakku”. Helena yang tertunduk mendengar pujian ayahnya, mengangkat kepala. Nicator melihat ke arah Justin, “Aku juga bisa melihat, kau telah mempersiapkan anakmu, yang itu hanya untuk masa depanmu yang cemerlang nanti”. Helena tersenyum. Justin ikut bicara, “Aku selalu belajar sesuatu yang baru setiap harinya”. Nicator berpesan, “Ingatlah ini Justin, bahwa kau adalah masa depan, untuk Kerajaan Seleucus”. Justin tersenyum, “Begitu juga dengan Noor Khorasan”.

Ashoka episode 1, 2, 3,  37

Noor Khorasan menangis melihat jasad saudaranya yang sudah terbujur kaku. Ayahnya bersedih melihat putranya terbaring kaku. Pasukan yang sedang berjaga melakukan gerakan. Keluarga dan Khorasan yang sedang berkabung menoleh ke arah gerbang, di kejauhan ia melihat Chanakya. Khorasan memberikan tanda pada prajuritnya untuk menuerunkan senjata, membiarkan tamu itu lewat.

Chanakya melangkah mendekat. Khorasan menemuinya. Chanakya dan Radhagupt memberika sikap hormat. Chanakya bicara, “Aku disini menyatakan turut berduka. Dan aku hanya bisa membayangkan apa yang kau rasakan dengan kematian putramu yang terlalu cepat ini”. Khorasan menjawab, “Chanakya, setip jiwa di Magadh pun tau bahwa kau tidak pernah suka kepadaku”.

Chanakya berkata tenang, “Itu memang benar Khorasan. Tapi benar juga, bahwa setelah kematian putramu yang malang ini, baik Magadh maupun, dirimu sendiri, *tunjuk Khorasa*, punya musuh yang sama. Dan untuk mengalahkan musush itu, magadh butuh dukunganmu, *beri sikap salam*, Sama, seperti kau membutuhkan Magadh untuk bisa membalaskan dendam darimu, putramu”. Khorasan tak mengerti, “Maksudmu siapa”.

Ashoka episode 1, 2, 3,  39

Chanakya memberitau, “Tidakkah kau merasakan, ada nuansa Yunani dalam konspirasi ini”. Noor yang mendegar dari tempatnya berdiri, mulai tertunduk. Khorasan bertanya cepat, “Bagaimana kau merasa yakin”. Chanakya berkata, “Bukankah sudah jelas Khorasan. Ayo Khorasan kita bersatu, dan habisi semua musuh kita diluar sana dan bawa kembali Kerajaan Bindusara yang telah dihancurkan”.

Khorasan merespon, “Sadarlah Chanakya, semua orang sudah tau, bahwa Raja Bindusara sudah tidak ada lagi”. Noor dadanya terlihat sesak. Chanakya menjawab tegas, “Khorasan, sebelum aku melihat sendiri jasad dari Raja Bindusara, maka aku akan tetap menganggapnya masih hidup”. Khorasan tertunduk. Chanakya terus bicara, “Khorasan, mari kita cari Yang Mulia Raja Bindusara. Aku tidak bisa percaya siapapun, kecuali kepadamu untuk tugas yang satu ini. Jadi, satu-satunya cara untuk membuat masa depan putrimu tetap aman dan juga baik, datangnya Raja Bindusara”.

Ashoka episode 1, 2, 3,  40

Di istana. Amartya Ugrasena bicara, “Hanya kedatangan Raja Bindusara saja yang membuat masa depan putrimu tetap aman dan juga baik. Ini benar-benar sebuah kemalangan. Kabar duka yang dibawa Raja Bindusara, pemberontakan sudah menyebar keseluruh daerah Magadh. Seluruh Kerajaan melakukan protes. *Justin lirik Helena*. Negara menjadi tidak aman dan lemah ibu Ratu. Daerah Kerajaan yang sangat luas ini yang dimiliki Dinasti Maurya pun akan hancur, kalau tidak diakhiri. Ini akan menjadi aib yang sangat memalukan bagi Ratu Charumitra dan Raja Bindusara”. Charumitra mendengarkan dengan wajah mengernyit. Justin mendengar dengan wajah seperti serius.

Amartya masih bicara, “Tapi hanya ada satu cara untuk bisa mengendalikan keadaan ini. *anggota sidang serius*. Yaitu dengan memilih Raja yang baru, yang akan mengambil alih tanah Magadh”. Justin serius, Charumitra berwajah mendung. Helena melirik ke singgasana yang kosong.

Di pinggir sungai, Para gadis masih berusaha membuat lelaki yang mereka tolong sadarkan diri, Gadis berambut panjang dan teman-tamannya setelah memberi obat, menggosok tangan dan telapak kaki lelaki tersebut.

Ashoka episode 1, 2, 3,  42

Di sidang istana, Helena ikut bicara, “Tidak perlu diperdebatkan lebih lanjut, buatlah pengaturan untuk penobatan Pangeran Sushima”. Charumitra yang memangku putranya terkejut. Justin menoleh ke arah Helena. Amartya memainkan perannya, “Ma’afkan aku ibu Ratu. Apakah ibu Ratu berfikir, Magadh hanya butuh seorang bocah saja untuk mengatasi keadaannya. Pangeran Sushima masih terlalu kecil, umurnya saja, baru 1 tahun, dia belum bisa berbicara, bagaimana dia bisa mengatur Magadh”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan