Ashoka: Pertanda Bahaya Lewat Mimpi, Musuh Kerajaan & Kelahiran Ashoka


Ashoka episode 1, 2, 3,  24

Gadis berambut panjang itu lalu bicara, “Baik Yang Kuasa maupun iblis, ada di dalam setiap manusia. Egoislah yang memisahkan mereka. Dia yang mendapatkan kemenangan karena keegoisannya, juga bisa menjadi penguasa. Dan dia yang kalah karena itu akan menjadi iblis. Jalan yang termudah untuk membuat seseorang kehilangan egoismenya adalah dengan memberikan senjata padanya”.

Si gadis melihat salah satu dari tubuh-tubuh yang tergolek berlumuran darah itu ada yang bergerak dengan tangan menggapai. Ia langsung jongkok di sampingnya, berteriak pada temannya untuk cepat diambilkan air. Baru selesai dia menyuruh temannya, tubuh si prajurit sudah kaku.

Si gadis berambut panjang melihat tetesan darah yang menjauh dari lokasi, ia dan teman-temannya mengikuti tetesan darah tersebut, yang ternyata membawa mereka ke pinggir sungai yang berbatu, menuju ke dekat tebing yang ada jeramnya. Disana, tetesan darah itu terhenti, bahkan ada bekas telapak tangan, yang menandakan orang yang terluka tersebut, sempat menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Si gadis menutup mulutnya, membayangkan apa yang dialami orang yang sudah terluka tersebut. Si gadis berambut panjang, melihat ke arah air terjun bagian bawah. Matanya terpana saat melihat ke kejauahan.

Ashoka episode 1, 2, 3,  27

Matahari sudah mulai condong, saat Helena dan Justin yang berdiri di teras atas istana melihat dari kejauhan, seseorang memacu kudanya dengan cepat, menuju istana. Semakina dekat, semakin jelas kalau si pemacu kuda adalah si pemanah Bindusara.

Si penunggang sudah memasuki gerbang istana, berhenti di depan Amatya yang sudah berdiri menunggu. Helena dan Justin mengamati dari teras atas. Si penunggang turun dari kudanya, menyerahkan apa yang dibawanya, mahkota kebesaran dan pedang Raja, ke tangan Amartya. Amartya langsung membawanya ke dalam istana.

Amartya menaiki tangga istana menuju tempat Helena dan Justin yang sedang menunggu dengan wajah cemas. Amartya menyodorkan mahkota Raja ke tangan Helena. Helena dengan wajah tegang menerima dan melihatnya, “Darah, pedang, aku tidak meminta semua ini”. Helena mengangkat mahkota dan pedang di terpaan sinar matahari sore, ia berkata geram, “Tetapi aku meminta kepala Bindusara”. Helena menunjukkan wajah dingin.

Di hutan, tepi sungai, Subadrani dibantu teman-temannya, menuju ke tempat mereka melihat sesosok tubuh yang tersangkut di bebatuan pinggir sungai.

Di istana, Amartya bicara, “Ma’afkan aku Yang Mulia Ratu. Kami tidak punya banyak waktu. Kalau prajurit kita ada disana lebih lama, mereka pasti akan ketahuan. Tenang saja ibu Ratu, aku bisa memastikannya padamu, bahwa tidak akan mungkin Raja Bindusara bisa terselamati”.

Ashoka episode 1, 2, 3,  29

Di pinggir sungai, gadis berambut panjang terus mencoba menyelamatkan laki-laki yang kena panah dan terjatuh ke jeram sungai. Mereka sudah menaroh si lelaki diatas batu dipinggir sungai tersebut. Si gadis meminta salah satu temannya untuk mengambilkan obat, yang dua orang menggosok kaki dan satunya menggosok tangan sebelahnya. Sementara ia sendiri menggosok telapak tangan di bagian dada yang terluka.

Di istana, Helena berkata pada Justin, “Chanakya, tidak akan membiarkanmu menjadi seorang Raja. Bindusara, kini telah membayarnya dengan hidupnya. Berita tentang kematian Raja Bindusara, harus tersebar sampai ke ujung Magadh. Musuh-musuh kita sudah pasti tidak sabar. Mereka sudah lama menunggu kemerdekaannya. Aku pastikan saat ini, Magadh tidak punya Raja untuk mengendalikan mereka. Biarkan saja mereka memberontak, biarlah terjadi ketakutan diantara rakyat. Biarlah waktu yang terbakar”. Justin mendengar semuanya dengan seksama.

Setelah itu, terlihat api dimana-mana dan suara teriakan, “Kebakaran, Kebakaran”. Teriakan minta tolong diambilkan air. Rakyat yang berlarian kesana kemari. Ada teriakan dari seorang pemimpin yang menyampaikan pesan bahwa setelah kematian Raja Bindusara, dia menyatakan bahwa daerah tersebut bebas, dan dia juga menyatakan bahwa ia adalah penguasa baru disitu. I adalah Neerbadra. Rakyat mengelukan namanya.

Ashoka episode 1, 2, 3,  32

Di padepokannya, Chanakya tercenung dengan wajah gundah. Salah satu dari temannya mengingatkan kalau tidak ada yang menangani kekacauan ini, semuanya akan hancur. Yang lain juga mengatakan kalau seluruh bangsa akan terpecah-pecah menjadi musuh. Yang lain menimpali, “Lalu siapa yang bisa mencegah semua itu terjadi”. Chanakya menoleh, berlari ke teras padepokannya, ia melihat api sudah berkobar dimana-mana. Sementara di kejuahan, istana berdiri dalam diam.

Chanakya kembali melihat singa seperti berdiri di atas bebatauan yang tinggi, mengaum. Chanakya tanpa menoleh ke teman-temannya yang sudah berdiri dibelakangnya, bicara, “Siapakah yang punya kecerdasan untuk melakukkannya. Seseorang telah menyebarkan kekacaauan ini di Magadh, dia pasti rang yang sangat cerdas. Aku tidak akan pernah membiarkan Raja Mahgadh menderita karena ketidak adilan”.

Justin dan Helena baru turun dari kuda, membuka jubah penutup tubuh mereka yang berwarna hitam.

Chanakya di padepokannya masih berdiri di teras dan masih bicara, “Orang yang melakukan ini pasti musuh Magadh”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Satu respons untuk “Ashoka: Pertanda Bahaya Lewat Mimpi, Musuh Kerajaan & Kelahiran Ashoka

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.