Ashoka: Pertanda Bahaya Lewat Mimpi, Musuh Kerajaan & Kelahiran Ashoka


Bindusara menatap Noor dengan wajah datar, “Ma’afkan aku. Aku menikahimu hanya demi untuk menepati janjiku. Karena aku sudah menyerahkan seluruh hatiku padanya. Dia telah menyelamatkan aku. Aku sudah menyerahkan diriku, dan juga hatiku, sebelum aku menikah denganmu, *Noor menahan tangis, penuh marah*, Sebenarnya adalah, sebelum dia datang dalam kehidupan ku, aku merasa lebih lengkap daripada sebelumnya. Aku akan membawanya ke istana ini secepatnya, dia adalah wanita yang baik. Jadi nanti pada saatnya, maka kaupun akan siap bertemu dengannya”.

Saat Raja menoleh ke arahnya, Noor memperlihatkan senyum manis, tapi begitu Raja melihat ke arah lain sambil melamun, Noor memperlihatkan wajah marah. Ia bertanya, “Siapa dia, kau, tidak menyebutkan namanya”. Bindusara jadi tersenyum sendiri, ia membayangkan pertemuan dan ucapannya ‘terlepas orang lain mengenalmu sebelumnya, bagiku kau Dharmaku’. Taja pun memberitau Noor, “Namanya Dharma”.

Ashoka episode 1, 2, 3,  86

Taklama, Noor berlari keluar kamar dengan wajah menahan kesal, berpapasan dengan Khorasan, “Ayah”, Noor menangis. Ayahnya langsung memegang tangannya, “Ada apa”. Noor memberitau dengan mata penuh air mata, “Raja, telah mencintai Dharma, dia sudah menikah dengannya. Dia akan menjadikan wanita itu Ratunya”.

Khorasan menunjukkan wajah marah, “Itu tidak mungkin”. Ia terbayang ucapan Bindusara yang terpotong oleh Dharma saat itu ‘dia Dharma, dia telah menyelamatkan nyawaku dan aku telah,,,’. Khorasan menoleh ke arah putrinya yang menangis terisak di sebelahnya, “Noor, aku bisa manghancurkan apapun demi melihatmu bahagia, aku Mir Khorasan, tidak akan tinggal diam”.

Ashoka episode 1, 2, 3,  87

Dharma sedang menumbuk obat, di bale-bale pinggir jalan dekata rumahnya. saat dia mendengar derap kuda mendekat. Ia menoleh, melihat orang yang dulu menjemput Raja Bindusara. Dahrma tersenyum, berdiri dari duduknya, menyambut penunggang kuda yang berhenti di hadapannya, “Sudah kuduga, dia pasti akan datang untukku. Tolong tinggal disini, aku akan pamitan dulu pada ayahku”. Khorasan tanpa turun dari kudanya menjawab dengan wajah menahan marah, “Diam! Soal Raja, hanya karena dia menghabiskan malam denganmu, lalu kau terpikir kau bisa jadi Ratu dari Magadh”.

Dharma terpana mendengarnya. Ia terbayang saat Raja pertamakali memintanya di pinggir sungai, terbayang saat melakukan ritual pernikahan. Dharma bersuara, “Apa katamu? Dia sudah menikah denganku”. Khorasan tanpa perasaan menjawab, “Lalu, lalu apa”. Dharma menjawab, “Dan aku sudah mengandung anaknya sekarang”. Khorasan berkata, “Inilah yang ditakutkan oleh Raja. *Dharma terbelalak*, Karena itulah dia telah memerintahkan agar kau dibunuh”. Khorasan mengayunkan pedangnya. Dharma yang kaget dengan ucapan Khorasan, hanya berdiri memegang wajahnya sambil menunduk.

Ayah Dharma datang berlari, mendekati kuda Khorasan, “Hei! berani-beraninya kau bicara pada putriku seperti itu”. Khorasan mengayunkan pedangnya. Ayahnya Dharma roboh. Dharma terpana melihatnya, ia langsung berlari menyelamatkan diri dari pedang Khorasan. Dharma berlari sambil memegang perutnya, ia masuk rumah dan menutup pintunya. Khorasan mengehentikan kudanya.

Ashoka episode 1, 2, 3,  89

Dari dalam rumah terdengar rintihan Dharma seperti menahan sakit mau melahirkan, ia berteriak sambil memegang perutnya, memegang tiang, berlutut dilantai. Khorasan yang mendengar, tertegun, kemudian memerintahkan, “Bakar saja rumahnya!”. Di dalam rumah, Dharma merebahkan dirinya dilantai. Di luar rumah, anak buah Khorasan saling bekerja cepat, melaksanakan apa yang diperintahkan majikannya. Mereka mengambil api dari tungku perapian di dapur Dharma.

Prajurit itu membakar atap rumah yang terbuat dari ilalang kering tersebut. Dengan cepat api membakar rumah. di lantai dalam rumah, Dharma merintih kesakitan. Api sudah menjalari semua bagian luar rumah. Terdengar suara Dharma mengaduh, “Awwwww”. Khorasan tersenyum, mengajak anak buahnya meninggalkan tempat itu.

Dharma yang menahan sakit akan melahirkan, membuka matanya, ia melihat api sudah membakar dinding rumahnya. Khorasan dan pasukannya meninggalkan tempat itu.

Dharma sambil menahan sakit, sambil memohon pada Tuhan, “Tunjukkan belas kasihmu, berikan belas kasihmu padaku dan anakku”. Tiba-tiba seekor singa melompat, mendekati Dharma yang sudah terkurung api di dalam rumahnya. Singa mengelilingi tempat Dharma yang sedang berjuang melahirkan anaknya. Terdengar teriakan panjang Dharma mengedan.

Ashoka episode 1, 2, 3,  90

Tak berapa lama, Dharma sudah duduk dilantai sambil menimang seorang bayi mungil. Api yang membakar dinding rumahnya masih menyala. Singa mengaum. Dharma mencium anaknya, dia seperti berbicara pada bayinya, sambil menimangnya, “Dia yang akan menyingkirkan semua penderitaan, dia akan dikenal sebagai Ashoka“.

Selanjutnya, terlihat seorang anak remaja tanggung yang lincah, dengan gelang ditangannya, ia melompat dengan ringan, matanya penuh dengan tatap keyakinan.

Ashoka episode 1, 2, 3,  91

Serial Ashoka episode selanjutnya, Chanakya bicara pada murid-muridnya, kalau Kerajaan ini membutuhkan seseorang yang seperti Chadragupta Maurya. Kerajaan ini membutuhkan seorang penguasa yang akan bebas dari segala pengaruh. Seseorang yang mampu dalam hal membuat keputusan, seseorang yang adil pada semua orang, yang memiliki kepedulian. Seseorang yang pemberani, dan dipenuhi dengan kegigihan. Seseorang yang mampu memimpin seluruh Bangsa. Di tempat lain, Ashoka sedang membuat orasi juga, kalau dia adalah satu-satunya harapan kalian, datanglah padaku dengan beban kalian dan kalian akan aku bebaskan dari beban itu. Terdengar suara teman-teman bocahnya, “Hidup Raja Ashoka!”.

Iklan