Serial Ashoka

Ashoka: Pertanda Bahaya Lewat Mimpi, Musuh Kerajaan & Kelahiran Ashoka


Si prajurit menambahkan, “Setiap kali dia datang menemuiku, dia itu selalu menutup wajahnya”. Raja menunjukkan wajah geram. Helena dan Justin masih belum bisa bernafas lega. Chanakya berkata, “Siapapun orangnya, dia pasti telah mengancammu atau telah menyuapmu dengan banyak uang”. Si prajurit tertunduk. Justin melirik Helena, Amartya juga melirik Helena. Chanakya masih mengatakan analisanya, “Karena kalau tidak, mana mungkin kau sampai berani menyerang Raja”. Khorasan yang ikut mendengar mengangguk-anggukkan kepalanya.

Si prajurit bicara dengan susah payah, “Yang Mulia, dia telah menyuapku dengan uang. *Justin, Helena, Amartya, tertunduk*, Bukan itu saja, dia juga bilang padaku bahwa begitu Raja baru dinobatkan, dia, akan, menunjukku sebagai panglima perang”. Raja menunjukkan wajah geram. Khorasan terpana. Charumitra tertunduk. Helena gelisah.

Justin yang memang berdiri dekat dengan prajurit tersangka, bicara lagi, “Dasar pengkhianat, saat ditawarkan jadi panglima perang, kau berani mencoba membunuh Raja dari Magadh, aku bunuh kau”. Justin menegluarkan pedangnya. Si prajurit sudah tersungkur duluan dengan wajah membiru. Semua terkejut. Helena, Justin saling lirik dari tempat masing-masing. Amatya memberi isyarat lewat sudut matanya, si prajurit sudah selesai, masuk ke drama mereka berikutnya.

Justin memasukkan pedangnya ke sarung kembali. Helena bersuara dari tempatnya, “tabib”. Tabib muncul. Chanakya agak terkejut melihat tubuh si prajurit yang roboh tak jauh darinya. Raja terlihat menunjukkan wajah kesal. Tabib memeriksa. Helena bersuara, “Lakukan apapun agar dia tetap hidup. Karena hanya dia saja yang bisa membawa kita pada dalang yang sebenarnya. Kau obati dia, bagaimanapun caranya. Dia harus tetap hidup”.

Tabib berdiri, “Ma’afkan aku ibu ratu, tapi tidak ada penawarnya untuk racun yang seperti ini”. Helena menunjukkan wajah seperti heran. Raja agak heran. Amartya dan Justin menyembunyikan senyum mereka. Chanakya bertanya, “Racun?”. Tabib menjawab, “Iya, Chanakya”.

Ashoka episode 1, 2, 3,  80

Helena langsung menyambar dengan semangat, “Racun macam apa yang sampai tidak ada obat penawarnya”. Tabib menjelaskan, “Ibu Ratu, ini jenis racun yang sama. Kalau dipakai sedikit saja, bisa digunakan untuk melawan racun pada tubuh. Tapi kalau dipakai dalam jumlah banyak, maka hal itu sangat genting, ia akan menjadi racun di seluruh angggota tubuh, termasuk darah, dan membunuh orang itu”. Khorasan mengernyitkan wajahnya. Amartya dan Justin sudah menunjukkan wajah lega.

Helena seperti mengingat, “Ya, aku tau betul jenis racun itu. Simbol racun ini ada di kening Raja Bindusara sejak dia lahir, simbol itu”. Raja memegang jidatnya yang mempunyai warna hijau kebiruan. Chanakya terkejut. Justin tersenyum. Amartya mengangkat wajahnya sekarang, percaya diri kembali. Raja yang dari tadi bingung mendengar pembicaraan racun, bersuara, “Jadi, ini artinya, tanda ini beracun”.

Helena menjawab, “Ya, Yang Mulia. Racun yang membunuh prajurit itu adalah jenis yang sama yang diberikan ibumu. Bertahun-tahun lalu, waktu kau masih dirahim Ratu Durdara”. Semua yang hadir mulai menunjukkan wajah tegang. Raja bertanya lagi, “Jadi ibuku dulu diracuni”. Chanakya yang menjawab dengan suara tetap lantang, “Itu tidak sepenuhnya benar”.

Helena membalikkan badan kaget, menatap Chanakya dengan wajah marah, “Apakah Ratu Durdhara tidak diracuni maksudmu? Begitu maksudmu Chanakya”. Raja ikut menatap Chanakya. Justin menahan senyum. Semua menunggu penjelasan Chanakya.

Chanakya menjelaskan, “Itu benar, tapi,,”. Helena tidak memberi kesempatan pada Chanakya, “Hanya kau saja yang bisa membawa racun itu kedalam istana. Apakah itu benar atau tidak Acahya”. Raja terpana menatap Chanakya. Chanakya mencoba menjelaskan, “Memang benar racun itu dibawa atas perintahku, tapi tujuannya adalah,,,”. Helena kembali memotong, “Apapun alasannya Acahya, itu tetap saja sebuah racun. Dan ini adalah sebuah kesalahan, karena aku tidak akan pernah bisa mema’afkanmu”.

Chanakya menatap Helena dengan tatapan tak percaya. Raja mengernyitkan wajahnya kaget, informasi ini membuatnya shok. Khorasan memperhatikan situasi. Justin tetap dengan wajah senyum. Chanakya berkata, “memang benar racun itu dicampur dalam jumlah yang sedikit kedalam makanan Raja Chandragupta setiap hari atas perintahku. Dan Raja Chandragupta pun sudah mengetahui hal itu, dan tujuannya adalah hanya untuk melindungi keselamatan dari Raja Chandragupta! Untuk membuatnya menjadi lebih kuat”. Raja tercenung.

Chanakya menjelaskan dengan suara tetap tegas, “Jadi kalau ada orang yang menciptakan serangan pada Raja Chandragupta menggunakan racun, maka serangan itu tidak akan pernah berhasil”. Helena melirik Raja yang terlihat tercenung dengan wajah tersenyum. Khorasan mengernyitkan wajahnya. Chanakya masih menjelaskan, “Tapi, bagaimana racun itu bisa sampai ke Ratu Durdara dan bagaimana bisa sampai di konsumsi olehnya, masih jadi misteri buat diriku! Tapi jumlah racun yang ditemukan ditubuhnya, menunjukkan bahwa dia tidak mungkin selamat lagi”. Chanakya terlihat menunjukkan wajah gusar. Raja menunjukkan wajah juga agak gusar mendengarnya. Amartya masih dengan wajah menahan senyum.

Chanakya bicara lagi, “Yang Mulia, kau masih berada di dalam rahim ibumu Yang Mulia, kami sudah memastikan, bahwa racun itu tidak sampai kedalam rahimnya. Kau, adalah pewaris kerajaan Magadh, itu adalah kewajiban kami tertinggi untuk melindungi satu-satunya pewaris dari kerajaan kita. Hanya itu saja kewajibanku. Karena itulah, aku tidak punya pilihan lain saat itu Yang Mulia, selain membunuh Ratu Durdhara”. Raja memejamkan mata mendengarnya. Charumitra semakin mengernyitkan wajahnya. Khorasan terkesiap. Justin dan Amartya menunjukkan wajah lega. Topik pembicaraan sudah berbalik kearah Chanakya.

Helena kembali memperhatikan ekspresi Raja yang terlihat sangat terpukul. Chanakya merasa saat itu adalah tindakan yang paling memungkinkan, ia berkata sambil merentangkan tangannya, ” Dan itulah yang sebenarnya yang terjadi”. Raja yang tercenung berkata, “Kalau itu kebenaran yang ada, lalu kenapa kau menyembunyikannya dariku selama bertahun-tahun”. Chanakya terpana oleh pertanyaan Raja dengan suara pelana tapi dengan wajah terluka. Helena tersenyum, Justin semakin terlihat senang.

Ashoka episode 1, 2, 3,  70

Chanakya merespon, “Jadi maksud dari perkataanmu itu adalah aku yang telah membunuh ibumu dengan sengaja begitu?! Kalau seperti itu menurutmu, maka kau boleh menghukumku dengan cara apapun yang kau inginkan, aku juga terima meskipun itu hukuman mati buatku. Karena untuk membuktikan bahwa diriku tidak bersalah, yang aku miliki adalah pengabdian, pengorbanan dan juga komitmen terhadap Kerajaan Magadh yang aku cintai, dan tidak ada maksdu yang lain”. Raja hanya tercenung, Charumitra kembali dengan wajah yang mengernyit.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Satu tanggapan untuk “Ashoka: Pertanda Bahaya Lewat Mimpi, Musuh Kerajaan & Kelahiran Ashoka”

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.