Saras tanpa rasa bersalah dan bertanya komentar Kumud, mengambil mie, menyendokkan ke mulut Kumud yang masih ternganga bengong. Mau tak Kumud menelannya. Ada mie yang agak panjang, Saras bilang, “Tunggu dulu”, sambil membantu memasukkan ke mulut Kumud dengan jarinya dan tentu saja dengan tatapan plus cinta. Kumud curiga, “Kau mau apa”. Saras ngelesh, “Ada makanan tadi di dagu, aku cuma mau,,”. Kumud menatap Saras curiga.

Saras mencondongkan badannya ke arah Kumud, “Kumud, aku merasa sangat gembira memikirkan tentang, hari pernikahan, hari pernikahan kita ini”. Saras menunjukkan wajah antusias. Kumud menjawab, “Pernikahan kita”. Kumud terlihat agak berpikir. Saras terlihat was-was.

Saraswatichandra episode 244 245 43

Di belakang mereka duduk, di balik rimbunan tanaman, terlihat tangan yang pergelangannya ber tato yang sama dengan pergelangan yang menolong Saras sebelumnya, mengantarkan ke rumah saat tak ada kendaraan dan menyalakan lampu mobil hingga Saras Kumud keluar gudang pendingin makanan. Tangan itu menyibakkan rimbunan pohon, melihat Saras Kumud dari belakang, sedang berbicara di bangku taman.

Saras yang memperhatikan Kumud, berbicara, “Kau kelihatannya pucat”. Kumud langsung menjawab, “Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa, aku,,”. Saras menenangkan, “Aku tau, kau sangat tergantung rumah, karena itu aku, sudah menyewa rumah yang ada tepat di depan rumahmu, *Kumud lihat Saras*, dan jika kau kangen rumahmu, kau bisa masuk rumah mu dalam satu menit, bagaimana, bahwa Saraswatichandra suami mu ini hebat”. Saras tersenyum membanggakan dirinya. Kumud yang tadinya pucat jadi tersenyum. Kumud melihat kelangit melihat bulan, Saras juga ikut mendongak. Tangan bertato dibalik rerimbunan pohon, merekam mereka dengan kameranya.

Kumud memandang bulan, berkata pada Saras, “Coba kau lihat bulan, saat kau tidak ada disini, tapi ada bulan, bulan itu kau, *tatap Saras*, dia penerang kegelapan dalam diriku”. Saras menatap Kumud, mencondongkan wajahnya, “Karena dirimulah bulan itu bersinar, tanpa dirimu pasti bulan ini tidak akan bercahaya”. Kumud tersenyum, merebahkan kepalanya kebahu Saras. Saras menaroh jidatnya di jidat Kumud. Tangan bertato masih merekan dengan kameranya.

Saraswatichandra episode 244 245 45

Kepala Kumud masih bersandar dibahu Saras. Saras pun masih menyandarkan kepalanya ke kepala Kumud, matanya melihat ke mutiara yang mereka perebutkan terikat di ujung selendang Kumud. Mata Saras langsung melirik Kumud. Tangan Saras yang satunya memegang mutiara dengan pelan-pelan. Kumud curiga, “Apa yang kau lakukan”. Saras menjawab, “serangga”. Kumud kaget, “Serangga? Mana-mana”, Kumud merasa geli. Saras meyakinkan, “dekat kaki mu, *Kumud gerakkan kakinya*, yaa sudha hilang”. Kumud meminta keyakinan serangganya sudah hilang, “benar”.

Saras tidak membahas itu lagi, dia menunjukkan wajah serius, kemudian tersenyum, “Kumud, apa kau tau, betapa indahnya penampilanmu pada hari ini”. Kumud tersipu malu, sekaligus bangga, ia mengibaskan poninya dengan tangan, kemudian tertunduk. Saras menggoda lagi, “kau sangat cantik”. Kumud semakin tersipu dengan wajah tertunduk. Si tangan bertato masih merekam mereka dari belakang.

Tangan Saras, mulai bergerak ke mutiara yang terikat. Kumud yang tersipu malu tapi tetap waspada, memukul tangannya, “Kau jangan iseng padaku”. Saras membela diri, “Aku tidak sengaja melakukannya, hal itu terjadi karena ada yang tidak biasa”. Kumud bingung dengan ucapan Saras. Saras kembali menunjukkan wajah serius, menatap Kumud, “Kumud, *Kumud mengernyit*, matamu, rambutmu, dan semua itu, dengan melihatnya saja, aku ingin mengatakan”. Kumud penasara, “Apa”. Saras semakin terlihat serius, “Aku ingin sekali mangatakan,,”. Kumud melihat Saras dengan bol mata membulat, “Kau mau bilang apa”.

Saraswatichandra episode 244 245 44

Saras mengernyitkan wajah seriusnya, tiba-tiba bilang, “Lihat! ada bintang jatuh disana!”. Kumud menoleh ke arah yang ditunjuk Saras, “Bintang jatuh? dimana?”. Saras sambil membuka ikatan mutiara dari sari Kumud menjawab, “di sebelah kiri”.

Kumud tak menyadari kalau Saras hanya mengalihkan perhatiannya, ia terus bertanya sambil melihat ke arah bintang jatuh yang dikatakan Saras, “Dimana, aku tidak bisa melihatnya Saras”. Saras tersenyum melihat mutiara yang sudah ditangannya, menyimpan disaku celana, ikut menunjuk, “Itu, disana”. Kumud sibuk dengan mana,mana. Saras kemudian dengan tenang bilang, “tadi ada disebelah sana, mungkin sudah tidak ada lagi. Sudahlah, tunjukkan desain ditanganmu”. Kumud masih bertanya, dimana, aku tidak lihat. Saras mengalihkan parhatian Kumud ke yang lain lagi, “Sudahlah, sekarang tunjukkan desain di tanganmu, mana Kumud, aku mau lihat”. Kumud yang awalnya kecewa tidak melihat bintang jatuh, menunjukkan tangannya ke Saras.

Saras mulai ngegombal lagi, “Ya ampun, ada gambar smilling, tapi,, namaku ada dimana?”. Kumud memberitau, “Kau harus menemukannya”. Saras melihat tangan Kumud lebih dekat lagi, “bagaimana bisa ditemukan kalau namaku tidak ditulis”. Kumud membantah, “Maksud mu apa, pasti ditulis disini”. Saras berkata, “Oya, kalau begitu, dimana posisinya”. Kumud dengan pedenya bilang, “Aku tau dimana, tapi aku tidak akan memberitaukanmu”. Saras mulai menunjukkan wajah kesalnya lagi, “Kalau tidak dituliskan, bagaimana bisa aku menemukannya”. Mereka ribut soal nama Saras ditulis dan tidak ditulis.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :