Saraswatichandra: Kumud Menari Sebelum Pernikahan, Kusum Mulai Mencintai Danny, Samud Melanggar Tradisi


Guniyal menjawab, “Kami setuju, kau sangat mencintai Kumud kaan. *Saras senyum*, Tapiii, kami sudah mengajak dia, tidak mungkin kami mengabaikannya”. Saras menjelaskan, “Aku tidak bermaksud begitu, aku tau kalau,,,”. Dugba menjewer kuping Saras, “Sudah, kita akan bertemu lagi besok, cepatlah keluar”. Dugba melambaikan tangannya, “sampai ketemu lagi”. Saras membalas lambaian tangan Dugba tapi dengan wajah memelas menoleh ke arah Kumud dan memanggilnya. Dugba langsung menarik dagu Saras supaya melihat ke arahnya, “Sampai jumpa”.

Saras menggeleng kepala sambil bilang, “Salam, sampai jumpa”. Kumud melihat tanpa berkata-kata tapi dengan tatapan yang berarti jangan tinggalkan aku. Dugba membalas ucapan Saras, “Pergilah, sampai jumpa”, sambil terus mengikuti Saras ke pintu dan dada-dada tangannya, soale Saras jalan mundur ke pintu karena Dugba terus melangkah ke hadapannya. Saras tetap aja memberi alasan sambil menunjuk Kumud, “Bibi, aku rasa akan lebih baik aku bicara dulu dengannya, dia itu sedang terluka”. Dugba memegang bahu Saras, “Ssstttt, sudah, keluar”. Dugba sedikit mendorong Saras keluar pintu, kemudian menutupnya. Kumud yang duduk di tempat tidur, tangannya seperti menggapai mau memanggil Saras. Tapi begitu Dugba membalikkan badan ke arahnya, setelah menutup pintu, Kumud menutup tangannya. Saras masih aja mengetuk pintu dari luar.

Kumud tertunduk di duduknya. Di luar pintu, Saras membalikkan badannya dan bergumam, “Apa rasanya kalau dua hari tidak bisa bertemu, pcccak”. Wajah Saras terlihat sedih, tapi harus ikut aturan.

Saraswatichandra episode 244 245 30

Selanjutnya, tangan Kumud sedang dihias. Kumari berlari membawa nampan kearahnya, “Kakak, kubawakan kue”. Dugba yang sudah berada dekat Kumud menyuruh Kumari bergeser sedikit, kemudian mengambilkan kue yang dibawa Kumari dan menyerahkan ke Kumud. Kumud tersenyum, menggigit biskuit. Dugba mengusap kepala Kumud, kemudian meninggalkannya. Kusum ikut mendekat ke tempat Kumud dihias.

Guniyal di meja duduk yanga lain, tangannya juga dihias oleh pengrajin. Kumud yang tangannya dihias tersenyum melamun. Pengrajin yang menghias tangan Guniyal bicara, “Nama pengantin prianya bagus, Saraswatichandra bukan? *Kumud menoleh kearahnya*, Kau Kumud kaan. Kumud artinya bunga teratai yang mekar dibawah sinar bulan”.

Kusum memberitau arti nama Kumud sesuai versinya, “Bukan seperti itu, Bi. Bulan yang bersinar setiap hari, untuk melihat teratai ini”, ia mengucapkannya sambil tersenyum melihat Kumud. Keluarga yang mendengarkan tertawa. Ibunya Yash sampai memegang pipi Kumud, kemudian beranjak membantu yang lain.

Kumud berkata pada Kusum, “Lukisan hennanya indah ya”. Kumud mengiyakan. Kumud berkata pada orang yang menghias tangannya, “Bibi, bisa buat gambar senyum disini kan”. Kusum tak mengerti,”tersenyum?”. Kumudmau menjelaskan, tapi kemudian terdiam. Kusum langsung paham, dan memberitau semua yang ada diruangan itu, “Oww, kedengarannya kalian berdua punya rahasia”. Kusum tertawa, Guniyal senyum geleng-geleng melihat kedua anak perempuannya. Kumud tertunduk.

Kusum berkata pada pelukis tangan Kumud, “Bibi, gambarkan wajah tersenyum disitu”. Dugba mendekat lagi ke arah tiga anak gadisnya meriung, “Gadis-gadis dijaman sekarang benar-benar aneh. Humira, tulis juga nama Saras dengan henna itu ya. Ritual kuno ini sangat menyenangkan untuk kita”. Kusum menimpali, “itu benar,bi. Dia tidak akan melewatkan kesempatan menggoda Saras”. Kusum tertawa, Kumari terkikik, Dugba menepuk punggung Kusum agar jangan jahil. Kusum belum berhenti, ia berkata pada si pelukis, “Bibi tulis tiga huruf di suatu tempat, butuh waktu yang lama menemukannya”. Semua tertawa senang.

Saraswatichandra episode 244 245 31

Kalika datang membawakan teh buat semua, berkata, “Siapapun yang lewat disamping rumah, harus tau kalau sedang ada pemingitan henna, *taroh nampan*, ayo sekarang, Kumari bantu aku”. Kalika menarik Kumari ketengah ruangan. Kumud tersenyum. Dugba menyuruh Kusum juga. Mereka bertiga menari sambil membuat irama dengan bertepuk tangan. Kalika menarik tangan ibu mertuanya untuk bergabung, kemudian menarik Dugba juga ikut bergabung. Walau awalnya menolak dengan alasan sudah tua, tapi akhirnya mereka menari semua.

Kalika sambil menari berputar membathin ‘menarilah sepuasnya diacara pingitan henna, karena tidak ada kemungkinan menari dipelaminan”. Kumud tersenyum.Kusum dan Kumari membimbing Kumud untuk maju ketengah lingkaran mereka menari. Kalika sambil berputar sambil terus memperhatikan ekspresi wajah Kumud yang terlihat sangat bahagia. Kumari sempat menggoda Kumud dengan memasangkan selendang ke kepala Kumud, layaknya pengantin. Mereka semua tertawa. Mereka yang berputar memegang wajah atau lengan Kumud sebagai tanda kegembiraan, termasuk Kalika. Kumud tak henti-hentinya tersenyum. Dugba memeluknya erat.

Saraswatichandra episode 244 245 33

Malamnya, Kumud sudah rebahan sambil melihat lukisan henna tangannya dengan tersenyum. Setelah mengamati dengan teliti, wajahnya terlihat agak mengernyit, memutar-mutar tangannya dan bergumam, “Dimana bibi, telah menulis namanya, dimana?”. Saras yang sepertinya sudah menatap Kumud dari tadi, dengan bergelayut di jendela, dengan posisi seperti orang terpesona, dengan menunjukkan wajah manis dan tersenyum, berujar tenang, “Aku bisa mencarikannya”.

Kegiatan Kumud meneliti tangannya terhenti. Ia menoleh ke jendela, Saras mengangkat tangannya, melambai, tetap dengan posisi wajah seperti mengagumi. Kumud duduk dari tidurnya dengan kaget, “Kau?! Tidak bisa masuk dari pintu?”. Saras mengernyitkan wajahnya, mengangkat tangan, seperti memberi isyarat ‘tunggu sebentar’, kemudian melompat masuk, mendekat ke Kumud, “Itu akan kulakukan setelah kita menikah”. Kumud bagun dari tempat tidur, berkata dengan menahan suaranya, “Ibu sudah bilang kan, kalau kita tidak bisa bertemu Saras”.

Saraswatichandra episode 244 245 34

Saras menatap Kumud, “Aku tidak bisa melakukannya”. Kumud menjelaskan, “Tapi kita harus mengikutinya, ini tradisi”. Saras menjawab cepat, “Akan ku ikuti semua kebiasaan dan tradisi untuk kita berdua, tapi setelah memandang dirimu, aku ingin melanggar semua aturan dan tradisi, demi bisa bersanding denganmu”. Kumud sempat terpukau oleh gombalan Saras itu.

Tapi kemudian ia ingat, duduk kembali dipinggir tempat tidur, “Tidak. Tidak, Bibi juga melarangnya. Kita teriak saja”. Saras ikut duduk disebelah Kumud, “Tidak, kalau hrus berteriak demi dirimu, aku juga siap. Kau juga akan melakukan hal yang sama, sekarang ikuti aku”. Kumud heran, “Kemana? Ngapain? disaat begini, Saras mau kemana”. Kumud mengejar Saras yang sibuk menyusun bantal diatas tempat tidur Kumud, “Kau sudah gila ya, sekarang kita tidak bisa keluar. Kita akan dimarahi kalau ada orang yang datang kemari. Kau tidak tau apa yang sedang kau lakukan”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan