News

Saraswatichandra: Kumud Terkurung di Ruang Pendingin Makanan & Saras Belajar Manari.


Saraswatichandra episode 242 243 34

Di kayu pembatas jendela, wajah Saras nongol sambil tersenyum menatapnya dan men-dada-kan tangan, sedang tangan satunya memegang cangkir. Kumud bangkit, mendekat ke jendela. Saras Kumud sama-sama bersin. Kumud terbatuk, “Aku kira”. Saras memotong, “Tunggu sebentar, hidungmu kenapa?!”. Kumud bingung, “Kenapa?”,sambil usap hidungnya. Saras dengan kalem menjawab, “Tidak apa-apa sedikit merah”. Kumud memukul manja tangan Saras, “Kau ini, mau apa kau. Kau pikir kau mau kopi dan akan kubawakan kopi untukmu”.

Saras menunjukkan cangkir yang dibawanya, “Sudah aku buatkan, kopi, *tunjukkan tas kopi yang tergantung di dadadnya* Boleh aku masuk, aku bisa jatuh”. Kumud ternganga, “tapi,,”, lihat ke arah pintu kamarnya. Saras menunjukkan wajah memelas, “Tolonglah, hanya untuk kopi saja, ayolah sedikit”. Kumud menaroh tangan ditelunjuknya tanda tak berisik, “Ayo”. Saras masuk.

Saraswatichandra episode 242 243 36

Mereka duduk dikursi yang ada di kamar. Saras menaroh gelasnya di meja. Kumud bersin lagi. Saras berkomentar, “Ya Tuhan”. Saras mengeluarkan termos kopi. Menuangnya ke gelas. Kumud memperhatikan dengan heran, “Itu, kenapa cuma bawa satu gelas”. Saras melihat Kumud, bersuara besar, “Sayangku, kau ingat kata-kat Tonny Singh, dia bilang bahwa cinta akan tumbuh, kalau kita mau saling berbagi. *tunjukkan gelas yang cuma satu*, Jadi hari ini, kita akan berbagi kopi dari gelas yang sama, silahkan “, sodorkan gelas ke Kumud. Kumud mencubit tangan Saras sambil tersenyum. Saras juga tersenyum.

Kumud memperbaiki duduknya, menerima gelas yang disodorkan Saras, “Baiklah, kalau begitu aku akan menikahi Tonny Singh saja”. Saras membuat kaget Kumud dengan menunjukkan telunjuk keatas di depan wajahnya dan bersuara besar, “Ooooo, aku bahkan tidak bisa marah agar yang lain tidak terbangun”, Kumud menyentil telunjuk Saras dengan manja”. Tapi agak cemas juga melihat ke arah pintu.

Saraswatichandra episode 242 243 37

Saras menarik tangannya, “Heh, bercanda. Kau nikahi aku atau dia, sama sajakan”. Kumud menyeruput kopinya. Saras mendekatkan wajahnya ke Kumud yang sedang menikmati kopi buatannya, “Kumud, besok upacara musikal kita, aku sudah tidak sabar lagi. Jadi tolong, dalam upacara besok, perlihatkan sebuah tari, aku mohon”. Kumud menjawab permintaan Saras, “Kenapa aku harus menari sendiri, bukannya kau juga menikah *Taroh gelas ditanagn Saras*, Berarti kau juga harus menari”.

Wajah Saras langsung tak bersemangat, memelas, “Aku manari?, *Kumud nagngguk*, Kau ingat apa yang terjadi sebelumnya, dalam upara Daniya, aku bahkan tidak bisa menari *Kumud nahan senyum*, Waktu itu kau juga meledekku. Tidak”. Kumud menoleh ke wajah Saras yang tersaput mendung kecewa, “Kau sendiri bagaimana, seharian kau marah-marah terus”. Saras membela diri, “Aku marah karena alasan lain, pada saat itu aku marah, gara-gara rambut mu itu, menyentuh pasangan menarimu. Dan kau sama sekali tidak menyadarinya”. Kumud yang menopang wajahnya dengan tangan teringat lagi peristiwa menari dulu, ucapan Saras benar, rambutnya ikut menari bersamanya.

Saras berujar, “Tapi menurutku, menari itu, bukan masalah besar. Aku pasti bisa menari, kalau ada seseorang yang ahli, yang mengajariku. Dan bagiku, menari itu, hal yang mudah”. Mereka sama-sama menyandarkan punggung mereka ke kursi masing-masing. Kumud menowel tangan Saras, “Kau sangat percaya diri”. Saras sombong, “Ou, tentu saja. Itu hal kecil bagiku”. Kumud membusungkan dada juga, “Baiklah, pastikan kau datang ke kelas menari jam 8 besok pagi”. Saras terpana serius menatap Kumud, “Kau akan mengajariku”. Kumud balas menatap denga percaya diri, “Siapa ahlinya disini”. Saras tunjuk Kumud, “dirimu”. Kumud, membuka telapak tangan, “ha aa”, memberitau kalau ucapan Saras tepat sekali. Saras tersenyum, “Aku pasti datang”.

Saraswatichandra episode 242 243 38

Tiba-tiba terdengar suara Dugba, “Kumud, *Saras Kumud kaget*, Minum ramuan obat ini sebelum kau tidur”. Saras menyandarkan kepalanya kesandaran kursi, dan menutup wajahnya dengan tangan. Kumud menolehkan wajahnya ke arah lain. Dugba melihat mereka yang sedang duduk dibangku, dengan wajah yang diartikan ‘Hoooo’. Dugba menarok ramuan yang dibawanya di meja. Saras bersin. Pelan-pelan membuka telapaknya, mengintip melihat ke Dugba.

Dugba melototkan matanya, “Apa”. Saras nunjuk ke meja. Belum selesai dengan Dugba, terdengar suara Guniyal, “Kumud, Ibu bawakan susu untukmu”. Kumud berdiri. Saras kembali menutup wajah dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Dugba melihatnya sambil bersedekap. Guniyal bingung, “Dugba kau,,”. Ucapannya ga selesai begitu melihat Saras mengkerut dibangku, membuka telapak tangan yang menutup wajahnya, kemudian mendadahkan telapak tangannya ke arah Guniyal sambil nyengir.

Dugba berkata, “Kakak ipar, apa kau juga,,”. Belum selesai ucapan Dugba, masuk Kusum, melangkah ke arah Kumud, “Kakak, cept minum teh jahe ini”. Kusum langsung terhenti dan terdiam begitu sampai dekat bangku Saras menyembunyikan dirinya. Saras lambat-lambat membuka tangan yang menutup wajahnya. Kumud yang berdiri menutup wajah dengan tangannya juga, membukanya sedikit, melihat malu ke Kusum. Kusum menoleh ke arah ibu dan bibinya, keduanya menahan senyum. Kusum tersenyum melihat Kumud.

Kumud bersiap menyembunyikan wajahnya lagi begitu mendengar suara ayahnya yang mendorong kursi roda kakek memasuki kamarnya, “Kumud, kau dimana!”. Saras nepok jidatnya, malu. Kumud pucat. Kakek melihat ke arah Vidya, begitu melihat punggung Saras dibangku meringkuk, membelakangi semua orang, menahan malu dengan menutup wajahnya dengan tangan. Vidya melirik Guniyal, Guniyal tersenyum menggerakkan kepalanya.

Saraswatichandra episode 242 243 39

Kusum bersuara, “Apa yang ayah bawa”. Vidya menjawab, “Sayangku ayah datang *melangkah ke dekat Kumud, Saras membenarkan duduknya*, Untuk melihat keadaan Kumud. Apa, apa dia baik-baik saja. *Saras berdiri* Dia bilang padaku, kau akan menjaganya”. “Ya”, Saras menyentuh kaki Vidya sebagai bentuk ma’af.

Dugba bicara, “Aku yakin kalau Saras akan menjaganya. Kita tidak diperlukan disini. Sebaiknya kita pergi saja. Ayo”. Guniyal, Kakek, Kusum dan juga Vidya tersenyum mendengar Dugba. Wajah Kumud tersenyum lega, ternyata ayah dan kakek mengerjai mereka. Mereka semua keluar kamar. Kumud melihat Saras dengan ekspresi gemes, “hhhhhmmmhhh”. Saras melihat Kumud senyum menaikkan alis sambil mengangkat bahu. Mereka tersenyum, ketahuan keluarga.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Satu tanggapan untuk “Saraswatichandra: Kumud Terkurung di Ruang Pendingin Makanan & Saras Belajar Manari.”

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.