Saraswatichandra: Kumud Terkurung di Ruang Pendingin Makanan & Saras Belajar Manari.


Saraswatichandra episode 242 243 21

Di dalam ruang pendingin, Saras yang masih merengkuh Kumud, bicara, “Kumud, ada cahaya dari jendela, biar kuperiksa. Selimuti dirimu, selimuti dirimu”. Saras mengusap wajahnya, mencium pelipis Kumud. Kemudian berdiri mendekati jendela. Memindahkan box-box sayuran yang ada di rak. Mengetok dinding cahaya yang terlihat dengan tangannya, “Kumud, benar, ada jendela kaca disini. Kita harus memecahkan jendela ini supaya bisa keluar”. Saras menggeser rak besi yang ada disitu, yang menutupi jendela.

Saras membantu Kumud berdiri, melihat-lihat yang bisa digunakan untuk memecahkan jendela. Mengambil centong yang tadi digunakan untuk memecahkan es. Kembali mendekati jendela, “Baiklah, mundur sedikit”. Saras mengayunkan centong, kaca jendela pecah. Saras melongok keluar, di parkiran ada sebuah mobil yang seperti bersiap mau mundur. Saras mengambil alat yang bisa membantu Kumud, “Panjat”. Saras memegang tangan Kumud saat naik ke jendela. Mereka berhasil keluar.

Saraswatichandra episode 242 243 26

Saras melihat kearah mobil yang lampunya nyala. Wajah pengendaranya tak terlihat jelas. Saras bicara pada Kumud yang masih kedinginan, “Itu dia penyelamat kita. Kalau orang di mobil itu tidak menyalakan lampu, aku tidak akan bisa menemukan jendela ini. Ayo, kita ucapkan terima kasih”. Saras menggandeng Kumud mau menuju mobil tersebut. Tapi si pengendara memundurkan mobilnya. Meninggalkan parkiran toko itu.

Melihat itu, Saras berhenti sambil melipat tangannya menahan dingin, “Aku penasaran, apakah dia sadar kalau dia sudah membantu kita”. Hp Kumud berbunyi, “Hallo, iya Ayah. Aku, baik-baik saja disini, dan sebentar lagi, kami berdua akan pulang. Daa”. Saras merengkuh bahu Kumud lagi, “Ayo”. Menuntun Kumud menuju mobil, Kumud menyandarkan kepalanya ke bahu Saras. Mereka saling tatap, tersenyum. Saras membukakan pintu mobil untuk Kumud. Sebelum masuk mobil, Saras Kumud saling tatap penuh cinta.

Saraswatichandra episode 242 243 29

Di rumah, diruang keluarga. Saras Kumud yang duduk di bangku panjang di beri perhatian oleh semua keluarga. Vidya mengusap-usap bahu Saras yang masih menahan dingin. Kusum mengusap-usap tangan Kumud yang masih menggigil. Kumari mengusap bahu Kumud. Saras berkata pada Vidya, “Paman, aku tidak apa-apa”. Kusum yang melihat kondisi Kumud bertanya, “Apa perlu aku panggil dokter Kak?”. Dugba tergopoh membawa selimut, “Selimuti mereka”.

Vidya mengambilnya satu dari tangan Dugba, menyelimuti Saras. Kusum membantu Dugba, “Berikan padaku Bi”, menyelimuti Kumud. Kalika memperhatikan sambil memegang pelipisnya dengan bingung. Guniyal datang menyodorkan teh, “Minum tehnya, bisa menghangatkan tubuh kalian”. Saras Kumud menerima teh. Kakek berceloteh, “Untung kau tidak terbawa sampai ke Kashmir. Kenapa kalian jadi kedinginan begitu?”.

Saras yang sebelumnya sempat bingung dengan maksud kalimat pertama Kakek menjelaskan, “Begini kakek, saat kami sampai disana,,, “.Saras menceritakan kronologi mulai dari lampu mati sampai memecahkan jendela ruang pendingin toko. “Sayang, kami tidak sempat berterima kasih. Tapi aku yakin, kalau Tuhan mengirim orang itu untuk menolong kami”. Vidya tersenyum, Guniyak menarik nafas lega. Kusum dan Dugba juga.

Saraswatichandra episode 242 243 30

Saras melanjutkan ceritanya, “Kalau dia tidak ad disana, dan kalau dia,, tidak menyalakan lampu mobilnya. Kami pasti tidak akan bisa keluar dari sana, dan keesokan harinya, kami pasti sudah jadi sayuran dan buah-buahan beku”. Dugba dan Guniyal membuat sikap berdoa. Kusum terkesima mendengar cerita tersebut. Kumari memegang lehernya. Kalika terpana.

Saras seperti melamun, “Atau mungkin dia tidak sadar, betapa besar pertolongannya bagi kami”. Kakek dan Vidya tersenyum. Tiba-tiba Kalik bersuara, “Itu benar, kita berhutang budi kepadanya, dan kita harus meminta ma’af, apa yang terjadi padanya waktu itu”. Saras meminum tehnya hanya mendengar ucapan Kalika. Ibunya Yash tersenyum ke Yash. Kumari mengungkapkan kecemasannya, “Semua ini gara-gara aku, *Saras Kumud noleh ke Kumari yang berdiri di belakang mereka* Aku yang menyuruh mereka ke toko kue, supaya mereka berbaikan”. Saras menoleh sekali lagi mendengar ujung kalimat Kumari.

Vidya memberi isyarat pada Kumari dengan menaroh telunjuk di bibirnya, agar Kumari tidak membuka rahasia mereka. Saras melirik Vidya dengan wajah berpikir. Kumari memeluk Kumud dari belakang, “Kakak, bagaimana kalau terjadi sesuatu”. Kumud memegang pipi Kumari. Dugba mengusap punggung tangan Kumari yang dibahu Kumud, “Itu tidak akan terjadi. Buktinya mereka selamat. Ini pasti hukuman karena mereka sering bertengkar, *Saras Kumud lihat Dugba dengan wajah mengernyit*. Sekarang lihat saja, bagaimana mereka duduk bersama”.

Saras minta kejelasan, “Apa kalian semua terlibat dalam rencana ini”. Vidya berkata, “Kita tidak bisa apa-apa lagi, lagi pula, kalian berdua sama-sama keras kepala”. Wajah Saras merajuk, “Paman, ini keterlaluan”. Kakek terkekeh. Yash tersenyum. Kalika menyembunyikan senyumnya. Vidya sambil tertawa, menyimpulkan, “Hari ini aku mendapat pelajaran baru, di dunia ini, segala sesuatu bisa membeku karena dingin. Tapi hati Saras dan Kumud malah mencair”. Semua keluarga jadi tertawa. Dugba menengahi, “Sekarang ini sudah waktunya untuk kita tidur, besok ada upacara pra pernikahan”. Vidya tertawa. Saras lirik Kumud. Dugba mengusir semuanya, “Ayo, ayo”. Mereka semua bubar.

Saraswatichandra episode 242 243 32

Di kamarnya, Saras tidur dengan gelisah. Ia terbayang saat-saat Kumud kedinginan. Tiba-tiba dia bersin. Ia duduk, kemudian terpikir, “Kumud tadi sangat kedinginan, aku tidak tau bagaimana keadaannya sekarang. Aku ada ide, akan kubuatkan kopi hangat untuknya”. Saras langsung bangkit.

Di kamarnya, Kumud juga bersin. Ia menggosok-gosok hidungnya. Kemudian terbayang saat-saat Saras menyelimutinya dengan jaket. Kumud tersenyum, terbayang lagi saat Saras memberinya minum, terbayang saat Saras menggosok telapak tangannya memberi kehangatan. Kumud meraba telapak tangannay sendiri. Ia bersin lagi. I berkata, “Aku mau minuman hangat, kalau tidak, besok, aaaa, haaaatchim, aku bisa bersin seharian”.

Saat mau bangun dari tempat tidur, Kumud terpikir, “Saras juga. Dia juga bisa kena flu, bagaimana jadinya dia kalau aku juga sakit”. Saras meraih pinggir jendela sambil membawa cangkir. Kumud masih dalam pikirannya, “Apalagi Danny sedang tidak ada, kalau tidak, dia kan bisa aku suruh untuk membuatkan kopi”. Kumud bangkit, turun dari tempat tidurnya. Ia terhenyak lagi ke pinggir tempat tidur begitu melihat jendela kamarnya. Matanya terbelalak, “Kau?!”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Satu respons untuk “Saraswatichandra: Kumud Terkurung di Ruang Pendingin Makanan & Saras Belajar Manari.

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.