News

Saraswatichandra: Kumud Terkurung di Ruang Pendingin Makanan & Saras Belajar Manari.


Saraswatichandra episode 242 243 15

Di dalam ruang pendingin Saras berujar heran, “Kenapa lampunya tiba-tiba mati”. Kumud yang barada di ujung meja melihat Saras. Saras langsung melangkah ke pintu, memutar pintunya, kaget, “Pintunya terkunci”. Kumud bersuara juga dengan kaget, “Apa”. Saras menjawab sambil terus putar gagang pintu, “Apa ada seseorang yang tidak sengaja menguncinya”. Kumud yang sudah berdiri dibelakang Saras, mulai panik, “Lalu kita bagaimana”, keangkuhan Kumud dari tadi bilang tak dingin langsung hilang. Ia menggigil kedinginan, tak bisa disembunyikan lagi dari Saras.

Saras menenangkan, “Kau, kau jangan takut. Aku, aku akan menelpon Tuan Candur”. Saras menegluarkan hpnya, sentuh layarnya. Kumud menyilangkan tangannya di dada, menahan dingin. Saras bergumam, “Disini tidak ada sinyal. Coba kau lihat ponselmu”, sambil terus mencoba lewat hpnya sendiri. Kumud melihat hpnya, “ponselku juga tidak ada jaringannya”.
Saras melihat ke arah Kumud, yang terlihat berdiri setengah meringkuk menahan dingin.

Di luar, pintu toko dikunci oleh karyawan. Pemilik toko menunggu di dekat skuternya. Lelaki lengan bertato masih menunggu di dalam mobilnya, karena dia dari tadi mengikuti, dan mobil Saras Kumud juga masih terparkir dihalaman toko. Karyawan menyerahkan kunci toko pada pemilik toko. Pemilik toko memasang helm, karyawan memberi salam, pemilik toko menjalankan skuternya meninggalkan toko. Si lelaki lengan bertato memperhatikan semuanya.

Di dalam ruang pendingin, Kumud sudah duduk memeluk lutut, menggigil kedinginan. Saras mengetok-ngetok pintu. Menoleh ke Kumud yang kedinginan. Saras, walaupun dingin, tapi tidak sampai menggigil seperti Kumud. Saras melihat ke jaket yang dipakainya, ia kemudian melepaskannya, menyelikutkan ke tubuh Kumud. Ikut jongkok disebelah Kumud, kemudian menenangkan, walau ia sendiri ragu, “Kumud, jangan cemas, keluarga kita pasti menelpon. Dengar, kalau, kalau mereka tidak bisa menghubungi kita, mereka pasti akan menelpon Tuan Candur dan mereka pasti akan menemukan kita. Percayalah”.

Kumud menggigil kedinginan. Saras kedinginan juga, tapi terus mengusap kepala Kumud. Kumud bilang, “Air, air”, kemudian terbatuk-batuk sambil memegang lehernya. Mata Saras melihat ke sekeliling. Ia berdiri, memeriksa apa yang ada diruang tersebut yang bisa diminum. Kembali ke Kumud, memastikan kondisi Kumud dengan mengusap kepalanya. Berdiri lagi sambil menahan dingin. melihat ada bongkahan es batu gede, memukul dengan tangannya, ga bisa, memperhatikan lagi, ada centong besi, memukul sedikit bagian es batu menjadi potongan kecil, memasukkan ke wadah yang ia temukan disitu. Meminumkannya ke Kumud. Kumud terbatuk-batuk. Saras terus membantu meminumkan dengan cemas. Kumud menatap Saras dalam diam. Melepas wadah yang dipegang Saras. Mengusap tangan Saras, mencari kehangatan. Saras juga mengusa tangan Kumud. Saras ikut duduk disebelah Kumud, merangkulnya sambil terus mengusap telapak tangannya biar hangat. Kumud terus menatap mata Saras. Mencari kehangatan lewat tatapan juga.

Saraswatichandra episode 242 243 17

Saras Kumud memeluk lutut masing-masing. Kumud terbatuk lagi, Saras merengkuhnya, “Kumud, kenapa kau tidak makan apapun sejak sore. Kau membawakan makanan untukku saat sorekan, lalu kenapa tidak kau makan”. Saras terpikir sesuatu, “Tunggu sebentar”. Saras melongok meja, berdiri sambil memeluk tangannya, mencari yang bisa dimakan. Mengambil sebuah buah, memukulnya dengan tangan, tak bisa, memukulkannya ke lantai, buah terbelah. Menyuapkannya pada Kumud. Kumud terbatuk, Saras panik, “Apa yang terjadi?”.

Kumud menjawab, “terlalu sulit”. Saras mencoba mengakalinya, tapi kepala Kumud sudah terkulai ke bahu Saras. Saras memegang wajah Kumud dengan panik, “Kumud, Kumud! Kumud, buka matamu, jangan tidur, buka matamu. Kumud, buka matamu!”. Kumud tetap diam, Saras berpikir, kemudian menyandarkan kepala Kumud ke bahunya, mulai bicara sendiri, “Kumud kita akan menikah seminggu lagi, apa kau mempercayai itu?”. Kumud menggerakkan kepalanya, bereaksi terhadap mimpi mereka itu.

Saras bicara lagi, “Aku sedang berpikir, merubah ruang toko menjadi ruang untuk belajar. Supaya saat kau pulang dari sekolah, kau, kau bisa belajar disana. Dan, dan kalau kau, sedang, sedang sibuk belajar, maka aku pasti akan membuatkanmu teh yang hangat untuk dirimu”. Kumud menjawab pelan, “pasti tehnya pahit sekali”. Saras jadi tersenyum, bercampur sedih dalam dinginnya, “Tidak, aku akan membuatnya manis. Tapi setiap hari, kau harus membawa makanan untukku saat bekerja, kau maukan”. Saras mengusap kepala Kumud yang tersandar ke bahunya. Kumud menjawab dengan susah payah, “Kenapa aku harus melakukannya, aku harus mengajar setiap hari”. Saras juga menjawab dengan terbata, “Kalau begitu, lakukan saja sepulang sekolah”.

Saraswatichandra episode 242 243 20

Di rumah, diruang keluarg, Dugba bicara dengan cemas, “Ini sudah terlalu lama Kak Vidya, harusnya tidak selama ini, dimana mereka”. Kumari dan Kusum membantu Guniyal menghidangkan makanan. Guniyal ikut bicara pada suaminya, “Tolong hubungi mereka”. Vidya mengiyakan, mencoba menelpon, “Tidak bisa dihubungi”. Kusum berkata, “Biar aku coba ayah, mungkin aku bisa menghubunginya”. Kumud menelpon lewat hp-nya. Kemudian melihatkan wajah sedih, “Tidak bisa juga”. Yash memperhatikan kecemasan di wajah Vidya dan Kusum. Mereka saling pandang dengan wajah cemas. Vidya dan Kusum mencoba menghubungi lagi.

Di ruang pendingin Saras masih bicara sambil mengusap kepala Kumud, “Dan aku akan memberikan semua gajiku untukmu. Apa kita bisa membina keluarga dengn itu”. Kumud menjawab, “Aku juga terima gaji, gaji kita berdua akan membantu kita dalam membina keluarga”. Saras mengusap telapak tangan Kumud sambil terus merengkuhnya, “Apa kita juga akan bertengkar”. Kumud berkata, “Kita akan terus bertengkar”. Saras bertanya, “Lalu”. Kumud mejelaskan, “Lalu kau dan aku, akan berbaikan. Lalu, kau akan membahagiakan aku”.

Kumud angkat kepalanya dari bahu Saras, bersandar ke meja dibelakang,”Lalu kita, apakah kita bisa keluar”. Saras masih terus menggenggam tangan Kumud, “Kita sudah menghadapi berbagai cobaan bersama-sama. Ini bukan apa-apa dibandingkan dengan yang lainnya Kumud. Kita pasti akan keluar dari sini”. Saras pegang wajah Kumud lagi, “Dan aku sudah bersumpah akan tetap bersamamu”. Saras raih kepala Kumud lagi ke bahunya, memeluknya erat.

Saras memperbaiki jaket yang menutupi Kumud. Memegang wajah Kumud lagi, menangis tak tega melihat Kumud yang mulai lemas lagi, meraih kebahunya lagi. Memeluknya erat.

Pengendara yang masih menunggu diluar, menyalakan lampu mobilnya. Saras melihat ada cahaya masuk ke ruang pendingin dari luar lewat sebuah jendela. Matanya berpendar. Di parkiran, si pengendara terlihat turun dari mobilnya, melihat ke arah pintu toko yang sudah tergembok, melihat ke arah jendela kaca yang ada di dinding toko tersebut.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Satu tanggapan untuk “Saraswatichandra: Kumud Terkurung di Ruang Pendingin Makanan & Saras Belajar Manari.”

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.