Serial Saraswatichandra

Saraswatichandra: Terima Kasih Kusum & Syarat Cinta Kumud, Menerbangkan Layang-Layang


Saraswatichandra episode 232 233 45

Giliran Kusum yang memegang kendali utama. Dia berceloteh, “Kakak, ingat yang dikatakan tadi pagi. Kita memenangkan apa yang kita inginkan”. Kumud membalas, “begitu ya. Akan kutunjukkan padamu”. Kusum menjawab tenang, “Giliranmu”. Saras memberitau, “Kusum, aku juga akan membantumu”. Kusum menolak, “Tidak Saras, aku sudah berkompetisi banyak waktu dengan kakakku. Hari ini, aku bersaing dengan calon kakak iparku. Jadi, jangan mengganggu”. Saras tersenyum pada Dugba. Kumud memperlihatkan wajah serius.

Setelah pertarungan tarik ulur benang yang serius. Saling senyum, saling tunjukkan kemampuan. Kumdu akhirnya berteriak, “Yeay”. Vidya berkata senang, “kita mengalahkannya”. Guniyal tersenyum. Skor imbang. Kumud mulai melancarkan kata-katanya, “Ayo, mengalah saja, tidak usah malu. Kenapa kau mau bersaing dengan ku”. Kumud memegang dagu adiknya, “Dengar ya, kita disini untuk tinggal bersama, karena kau adalah bayanganku”. Kumud Kusum tersenyum. Guniyal ikut tersenyum melihat kedua putrinya. Kalika meninggalkan arena pertandingan, masuk rumah.

Saras mengulur benang lagi, melirik ke Kumud. Kumud juga meliriknya. Dugba berkata, “Oya, Kusum, aku sudah mempersiapkan ladu wijen di dapur untuk anak-anak tetangga, tolong ambilkan ya”. Kusum mengiyakan dan melangkah masuk rumah.

Kumud mulai serius dengan layangannya. Saras memperlihatkan wajah tegang. Danny mendekat, “Ayo Kak, ini pertandingan final”. Guniyal cemas melihat layangan diatas, “Dua-duanya sama-sama keras kepala. Tidak satupun dari mereka mau mengalah”. Mendengar ucapan Dugba itu, kakek mulai melakukan aksinya, ia menunjukkan wajah kesakitan. Saras Kumud menoleh kaget. Guniyal, Vidya, Dugba, Danny Yash, semua berlari bertanya, “Ayah kenapa?”.

Saras, Kumud, tetap mengulur benang layangan mereka. Kumud malah berkata, “kakek tidak bisa membodohi aku lagi, hentikan sandiwaranya”. Kakek tertawa. Guniyal geleng-geleng kepala. Saras berucap, “Ini tidak adil”. Kakek masih tertawa-tawa. Dugba kembali ke dekat Saras. Danny juga berlari mendekat, “Ayo Kak”. Saras mulai mengaduh dan meringis lagi, tangannya yang terbakar kena benang lagi.

Saraswatichandra episode 232 233 47

Dugba terlihat cemas melihat layangan yang terbang. Kakek berkata, “Dua-duanya keras kepala, keduanya cerdas juga. Bagaimana menghentikannya”. Kumud sambil mengulur benang, melirik Saras. Saras tenang aja. Dugba semakina cemas. Ia melihat tangan Saras, “Saras”. Danny bergumam, “Layang-layang besar siapa itu”. Yang lain ikut melihat ke arah layangan terbang. Kakek berkomentar, “Kenapa dia hanya menyerang layang-layang Saras ya”.

Dugba memastikan lebih dekat lagi, “Saras, tanganmu berdarah ya. Lukanya dalam sekali”. Kumud sempat tertegun, tapi berkata, “Bibi, itu cuma sandiwara, dia juga begitu kemaren”. Dugba makin cemas, “Tapi ini lukanya dalam”. Kumud melihat ke tangan Saras. Saras tetap aja menarik benang layangannya. Kumud melepaskan layangannya, mendekat ke Saras, “Saras, tinggalkan benangnya, tinggalkan benangnya”. Saras bilang tidak. Kumud merebutnya, “Sudah, Lepaskan”. Saras bilang tidak. Guniyal melihat dengan cemas. Benang lepas dari tangan Saras, ia berkata kesal, “Lihat, apa yang kau lakukan”. Kumud yang belum sadar layangan sudah lepas masih berkata, “Saras, lepas benangnya”. Mereka semua melihat layangan yang terbang terbawa arah angin.

Kumud meraih tangan Saras, melihat lukanya, matanya berkaca, “Kenapa, kenapa kau tidak melepas benangnya”. Saras menjawab, “Aku bisa melepaskan benangnya, tapi tidak dirimu”. Kakek tersenyum melihat cucunya. Saras mendongak ke langit, tersenyum, “Lihat, kau menang”. Kumud menatap mata Saras, “Aku sudah kalah”. Kakek mendekatkan kursi rodanya, “Ini dia, sekarang semuanya sudah jelas, dia sudah memberikan persetujuannya”. Saras tersenyum. Dugba menepuk bahu Saras. Kumud tertunduk. Saras menatap Kumud dan Kumud pun menatap Saras.

Saraswatichandra episode 232 233 49

Di kamar, Kumud jongkok di depan Saras membersihkan luka ditangan Saras yang kali ini benar-benar meringis menahan sakit. Kumud meniup luka-luka di tangan Saras yang lumayan. Saras menatapnya. Kumud berucap, “Aku memang jahat, kau terluka dan aku,,”. Kumud tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dia mau menangis sambil menyiapkan kapas yang diolesi obat. Saras memegang wajah Kumud dengan tangannya satu lagi, “Bagaimana aku akan melepaskannya. Aku tidak akan pernah melakukan hal itu. Lalu bagaiman aku akan senang memenangkanmu”.

Kumud memegang tangan Saras yang memegang sebelah pipinya, “aku senang kau tidak melepaskannya, tapi aku tidak bayangkan kalau kita akan memulai awal baru dengan melihat tanganmu terluka”. Saras menenangkan, “Kau tidak bisa berpikir begitu, karena awal baru kita ini, akan lebih indah dari mimpi apapun juga”. Kumud menatap Saras. Saras mengangguk, “Ayolah, sekarang berhentilah menangis, *Saras hapus air mata Kumud dengan sebelah tangannya”, Dan,, *rogoh kantong celananya* Tutup matamu”, Saras keluarkan sapu tangan putih.

Saraswatichandra episode 232 233 50

Kumud menghapus air matanya sambil bertanya kenapa. Saras tak menjelaskan, “Tutup saja matamu”. Kumud tak mengerti, “Tapi,,”. Saras menaroh telunjuknya di depan mulut Kumud sebagai isyarat untuk diam. *Musik pengiring Saarswatichandra terdengar*. Saras bangkit dari duduknya, menutup mata Kumud dengan sapu tangan yang sudah dilipatnya. Saras memegang bahu Kumud dengan tangan satunya dan tangan lain menuntun tangan Kumud berdiri. Mereka mulai melangkah pelan.

Kau keras kepala
Ingin aku katakan sesuatu
Sedangkan kau tetap diam
Ketidak-berdayaan dan jarak ini
Terus melebar tanpa dikehendaki

Perasaan ini
Harapan yang tak terpenuhi
Biarkan saja seperti itu
Seluruh emosi ini
Jangan ada rahasia diantara kita
Sirnalah seluruh jarak ini
Walau kita bertemu,
kisah ini belumlah lengkap,
Kita terpisah, walau disaat bersama
Kenapa dunia tak membantu kita
Kisah cinta yang berbeda ini
Saraswatichandra

Saraswatichandra episode 232 233 51

Saras menuntun langkah Kumud sambil tersenyum. Kumud hampir terjatuh, sigap, Saras meraihnya dan kembali menuntun dengan hati-hati. Kadang, Saras memegang kedua tangan Kumud dengan tangannya, kadang mensejajarkan langkahnya. Mereka berjalan pelan menuju pintu. Walau mata Kumud tertutup, mereka tetap saling tatap.

Sinopsis serial Saraswatichandra episode selanjutnya, Saras membuat Dugba sangat terkejut, tapi akhirnya mengetahui kalau itu kejutan Saras untuk Kumud dengan ucapan, “Kumud Desai, maukah kau menikah dengan ku”.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Saraswatichandra: Terima Kasih Kusum & Syarat Cinta Kumud, Menerbangkan Layang-Layang”

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.