Saraswatichandra: Terima Kasih Kusum & Syarat Cinta Kumud, Menerbangkan Layang-Layang


Saraswatichandra episode 232 233 30

Saras berbisik, “Cinta seharusnya tidak bersyarat”. Kumud menjawab, “mereka yang mencintai, tidak pernah merasa takut”. Saras tersenyum. Kumud melepaskan tangan Saras yang menghalanginya, mau melangkah meninggalkan Saras. Saras belum memberi kesempatan, ia memegang lengan Kumud. Kumud mencoba menggerakkan lengannya untuk melepaskan dari pagangan Saras. Saras tetap memegangnya. Saras mendekati tubuh Kumud dari belakang, berbisik ditelinganya, “Kumud ku tidak pernah begitu tegang sebelumnya”. Kumud melirik dan menjawab, “Dan Sarasku bukan seorang pengecut”.

Ada yang menaroh lilin di nampan pemujaan, di atas bufet.

Kumud mengingatkan, “Makanlah dulu ya”. Saras bertanya, “apa kau yang buat?”. Kumud melirik Saras penuh arti. Saras melepaskan pegangannya ditangan Kumud. Kumud melangkah meninggalkan kamar. Saras tersenyum melihat ke arah Kumud yang melangkah meninggalkannya.

Terdengar suara Dugba, “Saras, aku sudah menaroh piring penghormatan di kamarmu. Cepat kau ambil ya”. Saras menjawab, “Aku akan mengambilnya Bi”. Saras yang masih senyum-senyum main sodorkan tangan aja pada piring yang dimaksud bibi Dugba, tangannya terkena api. Saras mengaduh, “Siapa yang manyalakan lampu disini?”. Saras meringis menahan sakit.

Saraswatichandra episode 232 233 32

Di halaman terdengar suara Vidya yang berkomentar, “Cuacanya bagus ya”. Danny yang berjalan disamping Kusum menyahut, “anginnya juga kencang”. Vidya menghentikan langkahnya, melihat ke arah anak dan menantunya itu, “Ayo”, dengan gerakan kepala penuh tantangan, karena mereka berada di tim yang berbeda. Vidya langsung melangkah meninggalkan mereka. Kusum tertawa melihat semangat ayahnya. Danny berkata, “Kusum, pokoknya kau harus bimbing tim, dan aku yang urus sisanya”, Danny memeluk Kusum sepintas. Kusum tersenyum, “Hmmm”, mulai mengatur layangan.

Bibi Dugba muncul dari dalam rumah membawa nampan besar, “Ayo, ayo kemari, aku punya ladu wijen. Ladunya sudah aku bagi-bagikan, untuk tim ini dan untuk tim itu”. Guniyal Nyahut, “Dan, ladu ini dari kami. Dugba, kita tidak boleh berpihak pada siapapun saat membagikan makanan lezat”. Keluarga yang mendengar tersenyum. Vidya tersenyum, bilang ‘ayo’ pada Yash untuk terus bersiap.

Saraswatichandra episode 232 233 33

Saras dan Kumud baru muncul dari dalam rumah, mereka berjalan bersisian. Saat turun tangga rumah, mereka bertatapan, menunjukkan sikap siap bartarung. Mereka melangkah ke tim masing-masing.

Saras sempat mengibaskan tangannya yang terkena api diatas nampan pemujaan di kamar. Ia menyentuh kaki Dugba, memeluk Dannya dan tersenyum pada Kusum sebagai timnya. Kumud tos sama timnya, yaitu Vidya dan Yash.

Kedua tim mulai bersiap. Dugba menawarkan makanan pad timnya, Saras, Danny dan Kusum. Kumud mengikat layangan. Yash membantu Vidya. Kumud melirik Saras, yang terlihat menekan bambu layangan diatasa kepala untuk menguji kelenturannya. Saat Saras menoleh ke arahnya, Kumud sibuk mengikat layangan, bersama Yahs dan Vidya. Mereka adu cepat. Danny juga terlihat mentes kelenturan layangan dengan kepalanya. Dugba ikut membantu Saras.

Vidya memberi aba-aba, “Para pemain segera bersia-siap untuk memulai permainan”. Saras menoleh ke arah tim Kumud. Kumud menoleh ke arah tim Saras. Kalika dan Ibunya Yash berdiri agak dibagian belakang dengan wajah tak bersemangat. Kumud melepas satu jelit rambutnya untuk membuat bolongan pada layangan untuk tempat masuknya benang. Vidya membantu, Saras memperhatikan mereka. Saras mengambil tanah halaman, menaburkannya sebagai minta restu bumi dan agar tangannya tak licin memegang benang.

Saraswatichandra episode 232 233 35

Kumud melirik persiapan tim lawan. Saras melepas kaca matanya. Danny dan Kusum membawakan layangan yang sudah siap. Yash masih membantu Kumud. Di belakang, agak jauh, Kalika memperhatikan sambil membathin ‘pria bodoh ini akan membantu orang lain sepanjang hidupnya. Jika aku bisa hidup sesaui dengan caraku, maka aku akan melakukan semuanya sendiri’. Kakek memanggilnya, “Kalika, *Nyahut Ya*, Kau yang bertanggung jawab menuliskan poin ya. Dan ingat, fokus lah pada permainan”. Kalika mengiyakan. Sambil meperhatikan kesibukan orang-orang, Kalika terpaksa mendekat ke papan tulis yang sudah disiapkan.

Kakek memberitau, “Ingat Saras, jika ada hanya satu layang-layang yang tetap bertahan, maka berarti kau kalah ya”. Danny nyahut ucapan Kakek, “Oh ya, Apakah semudah itu Kek”. Kakek menunjukkan wajah bingung pada Danny, Guniyal juga menahan senyum mendengar komentar menantunya itu. Danny seperti memberitau kakaknya, “Hanya akan ada satu layang-layang yang terbang, dan itu layang-layang milik kakak”. Kakek tertawa mendengar Danny. Vidya menambah panas suasana, “Saras terlihat percaya diri”.

Saras menoleh dengan wajah merengut. Danny menghibur,’ ayo Kak, tunjukkan’. Saras mencoba menaikkan layangannya, malah mengenai wajahnya. Timnya Kumud plus kakek langsung tertawa melihat itu, mereka saling menepuk tangan. Yash menyampaikan komentarnya, “Danny, bagaimana kau melihat layang-layang di langit, terbang aja tidak bisa”.

Saraswatichandra episode 232 233 36

Danny cuek, “tidak apa-apa Kak, layang-layang ini akan terbang, dan turun setelah mengalahkan musuh-musuhnya”. Kumud membalas untuk mengingatkan Danny, “Jangan berharap terlalu tinggi, jika tidak, kehormatanmu akan hilang bersama layang-layang itu”. Tim-nya Kumud tertawa lagi. Danny ga bisa membalasnya lagi.

Kumud mulai menaikkan layangannya. Layangan Saras juga sudah naik. Kakek memberi instruksi pada Vidya, “tarik terus ke arahmu”. vidya menjawab, “Baik ayah, baik”. Dugba di sebelah Saras memandunya, “Bagus Saras, bagus. Longgarkan benangnya sedikit, ya, ya, cukup, cukup”. Saras melirik Kumud, Kumud mendongakkan wajahnya. Yash agak panik mengingatkan, “Paman, paman santai saja. Nanti layang-layang bisa beradu dengan Saras”. Vidya nyahut, “biarkan aku konsentrasi”.

Dugba tersenyum melihat layangan yang diterbangkan Saras, “Saras, layang-layang Kak Vidya sedang menuju ke arahmu. Kak Vidya, terima ini!”. Yash mengingatkan, “Paman, paman pindah kemari”. Vidya pun bersuara, “Kumud cepat kemari”, mereka pun bergeser tempat mengulur benang.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan