Saraswatichandra: Terima Kasih Kusum & Syarat Cinta Kumud, Menerbangkan Layang-Layang


Kumud mendelik tak suka pada kakek. Kakek memberi instruksi lagi, “Hei Danny, ayo, kendorkan benangnya, biarkan dia longgar, Haa, begitu, Ya bagus”. Yash mendekat ke belakang kursi roda kakek, ia mulai mengajak bicara, “Ee, kek”. Ada apa sahut kakek. Yash bertanya apa Saras bisa. Kakel tetap memperhatikan layangan menjawab, “tentu saja bisa”. Yash menyampaikan pendapatnya, “kelihatannya Saras kesulitan, dia kelihatan gugup. Oh ya kek, aku perhatikan kunci rumah macet, dan semua kuci juga sudah berkarat, juga sulit untuk dibuka, apa boleh aku menggantinya”. Kakek malah sibuk memberi instruksi pada Saras, “ya ampun, ya Saras, tarik, tarik terus, bagus”. Yash terus bicara juga, “Dan kunci dilantai atas kebetulan macet”.

Kakek tak mengubris, ia tetap mengawasi permainan Saras, “Ayo tarik. Haa bagus, tarik, tarik”, kakek menyiapkan layangan yang dipegangnya. Yash bicara, “Apa tidak sebaiknya kunci itu juga diganti kek, karena nanti bisa patah”. Kakek malah menunjuk layangan Saras dan Kumud yang sedang beradu di udara, “Yaa”. Kusum yang ikut mengulur benang juga memberi instruksi, “tarik Saras”. Yash bicara terus, “dan kalau tidak salah kunci itu sudah diberikan pada Saras dan Kumud kan, *Kakek terlihat gemes melihat layangan di udara*, Kalau boleh, aku memintanya pada mereka”.

Saraswatichandra episode 232 233 16

Saras menarik layangannya sambil melihat Kumud yang tersenyum semangat menarik benang layangannya, kadang senyum mengejek Saras. Kusum berkata dengan nada kecewa, “yaa”. Saras melihat layangannya terbang tak terarah. Kakek menunjuk, “Yaaa, layangannya putus. Yaaaah”. Saras menunjukkan wajah lemes. Kumud senyum menggigit bibirnya melihat ekspresi Saras. Kakek menepuk tangannya meminta perhatian, “sudah dua kali layangannya putus. Kumud memang hebatkaan”. Saras menoleh ke arah kakek sambil mengangkat telapak tangannya yang terbuka, menandakan komentar kakek itu ngenyek dia. Saras melihat ke Kumud. Kumud menaikkan alisnya sambil menggigit bibirnya. Saras tertantang, ia ambil layangan lagi. Kakek menoleh ke Yash, “Lupakan dulu soal kunci, kita bisa melakukannya nanti, duduk, *tarik lengan Yash*, nikmati dulu permainannya”. Yash menarik nafas dalam, jongkok tertunduk di sebelah kursi roda kakek.

Saras mengikat benang layangannya dibantu Danny. Kakek ngasih tau, “Hei Danny, biarkan dia mengikuti angin ya”. Saras menaikkan layangannya. Kakek mengingatkan, “Ikuti angin saja, jangan dilawan, tarik”. Kakek jalankan kursi rodanya. Yash kaget, ia berdiri tercenung. Kakek terlihat semangat, “sekarang, sekarang ulur. Dia juga tidak tau kapan harus mengulur dan kapan harus menarik benangnya, hah”. Yash beranjak meninggalkan kakek dengan wajah sedih, merasa diabaikan. Kalika menghadangnya di teras. Yash diam saja, dia meneruskan langkahnya masuk rumah. Kalika berdiri di teras memperhatikan Saras menaikkan layangan dibantu Kusum dan Danny.

Saraswatichandra episode 232 233 18

Kumud bergegas mengikuti Saras sambil memanggil namanya, “Saras, Saras”. Saras tetap jalan cepat masuk kamarnya. Kumud cemas, “Kau tidak bilang tanganmu terluka karena benang”. Saras menjawab dengan wajah capek, “Aku, aku baik-baik saja, lagi pula aku sudah kehilangan layang-layang, kenapa aku harus mengkhawatirkan tanganku”. Kumud beranjak ke almari disitu, “Baiklah, itulah alasannya kenapa kau kesal. Ok baik, aku mengaku kalah, *di belakang, wajah Saras senyum punya maksud*, besok kau terbangkan layang-layang bersamaku, ok”. Kumud membawa kotak P3K ke dekat Saras, “Sekarang, mana tanganmu”.

Saras menyembunyikan senyumnya, duduk dibangku, “Aku bilang, aku tidak apa-apa”, Saras berlagak masih kesal. Kumud jongkok disampingnya, “Saras, jangan menolak, mana tangan mu”. Saras membuka telapak tangannya yang terlukan, sementara tangan satunya memegang pelipisnya memberi kesan dia agak menahan sakit. Saat Kumud mau membersihkan luka ditangannya, wajahnya mengernyit sambil mengeluarkan suara seperti menahan sakit, “pelan-pelan, ini terluka”. Kumud minta ma’af. Kemudian mempersiapkan cairan untuk membersihkan lukanya, Saras mengintip lewat tangan yang menutup wajahnya. Kemudian pura-pura sakit lagi.

Saraswatichandra episode 232 233 20

Kumud sebelum membersihkan memberitau, “aku akan pelan-pelan”. Saras terkejut menahan sakiti, “adduuh, rasanya sakit”. Kumud minta ma’af lagi, “aku akan pelan-pelan ya”. Kumud membersihkan luka Saras. Saras mengintip lewat tangan yang sengaja menutupi wajahnya. Kemudian menunjukkan wajah menahan sakit lagi. Kumud konsentrasi membersihkan luka Saras. Dia terkejut, melihat telapak tangan Saras setelah dibersihkannya. Ia melihat kapas ditangannya, berdiri, “Apa kau yang melakukan ini?”. Saras menunjuk tangannya, “Nggak, apa yang kulakukan”, ia ikut berdiri. Kumud menowelnya, “kenapa kau berbohong padaku”. Saras membela diri, “kapan aku berbohong”. Kumud mendorong bahu Saras, berbicara sambil terus membuat Saras, melangkah mundur, berbicara sambil menunjuk Saras, “kau pendiam, tapi nakal ya. Aku mengkhawatirkan keadaanmu, tapi kau malah berbohong padaku. Aku, aku tidak akan mema’afkanmu. Tidak akan pernah”, Kumud membalikkan badannya.

Saras langsung menarik lengan Kumud, manariknya kencang, sehingga tubuh Kumud ikut tertarik, Saras menyandarkannya ke almari, menguncinya dengan memegang bahu Kumud, menatapnya, “Aku hanya ingin lihat, apa kau sudah lupa cara mencintaiku di dalam beberapa hari ini. Apa kau masih merasakan sakit ketika aku terluka. Apa kau masih merasa hal yang sama ketika aku menyentuhmu”.

Kumud juga tak berhenti menatap mata Saras, bertanya dengan suara terdalam, “apa yang kau temukan”. Saras menatap wajah Kumud, “Aku menemukan, perpisahan ini membuat kita lebih dekat”. Kumud bertanya, “dan,,”. Saras mengusap kepala sampai pipi Kumud, Kumud terpejam, “ketika aku menyentuhnya, Kumudku pun mulai memerah. Saras dan Kumud mungkin bisa melupakan diri mereka, tapi mereka tidak pernah bisa melupakan untuk saling mencintai”. Saras mengusap kepala dan pipi Kumud dengan penuh cinta dan sayang.

Saraswatichandra episode 232 233 21

Sebelum Kumud tenggelam dalam tatapan cinta Saras, ia melepaskan diri, melangkah ke meja. Saras menatapnya dengan senyum kecil. Kumud mengambil pulpen, kembali kehadapan Saras, “Tunjukkan tanganmu”. Saras menunjukkan tangannya yang tadi pura-pura luka, Kumud memukul dengan pulpennya, “Bukan yang ini, yang satunya”. Saras menunjukkan wajah murid yang bersalah dihadapan gurunya, menyodorkan telapak tangan satunya lagi. Kumud membuat simbol senyum telapak tangan Saras, dekat jempol.

Kumud memberitau, “untuk besok, semoga berhasil”, menaroh pulpen di telapak tangan Saras. Saras menggenggamnya. Kumud membalikkan badan, mau melenggang pergi, Saras memegang lengannya, kemudian bicara, “Semoga kau juga beruntung”. Kumud melirik Saras dengan tatap menantang. Saras melepaskan pegangannya, mempersilahkan Kumud pergi. Kumud melangkah meninggalkan ruangan itu. Saras tersenyum.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan