Saraswatichandra: Terima Kasih Kusum & Syarat Cinta Kumud, Menerbangkan Layang-Layang


Saraswatichandra episode 232 233 05

Kumud dengan gaya seorang guru, tangan ditaroh dibelakang punggung, mendekat, mulai menggoda Saras lagi, “Ayolah, nanti juga bakal robek juga. Ngomong-ngomong, tidak masalah kalau kau tidak bisa menerbangkan, tapi saat itu aku akan terbang dari mu”, Kumud melirik menggoda Saras. Saras menatap Kumud, “bagaimana kau akan terbang jauh, lagi pula, aku punya gulungan benang”. Kumud menatap Saras, dengan suara setengah berbisik, “aku akan menghilang dengan benang itu”. Saras menatap tajam mata Kumud.

Kumud kembali usil, “Baiklah, boleh aku memberi saran, *ambil gulungan benang dari tangan Saras*, cara untuk mengikat sebuah akhir, coba lihat ya”. Kumud memperagakan cara mengikat layangan. Saras, Danny juga Kusum, memperhatikan dengan serius. Vidya yang sudah bergabung dan berdiri di sebelah kursi roda kakek, tersenyum melihat ulah anak-anaknya.

Kumud menerbangkan layangan yang sudah diikatnya, mengulur benangnya di sebelah Saras berdiri. Layangan terbang dengan baik. Kumud melirik Saras. Saras memperhatikan layangan yang diterbangkan Kumud dengan wajah pasrah. Kumud tersenyum. Danny yang berdiri tak jauh di belakang mereka, saling pandang dan tersenyum pada Kusum yang berdiri disampingnya. Tak jauh dari situ, Kakek dan Vidya juga tersenyum.

Saraswatichandra episode 232 233 08

Kumud memberitau Saras, “kalau kau tidak tau cara mengikat akhirnya, bagaimana kau akan mengikat benang ini”, Kumud mengembalikan gulungan benang ke tangan Saras. Kusum Dan Danny tersenyum melihat kakak mereka yang sedang berjuang mempersiapkan kompetisi. Kumud mau melangkah meninggalkan Saras. Saras memegang lengannya, dan menatap Kumud, “Tapi besok, aku akan menaruh hatiku pada benangnya. Aku bisa kehilangan layang-layang, tapi tidak dengan mu”. Danny dan Kusum kembali senyum-senyum.

Kumud tertunduk sebentar, menatap Saras, “Tetaplah yakin dengan ucapanmu. Coba lihat layang-layang mu”, Kumud melihat ke layang-layang yang ditiup angin kesana kemari. Saras melihat layang-layang dan menjawab kalem, “bukan layang-layang, tapi aku harus memenangkan hatimu”, Saras lirik Kumud dengan tatap menggoda, Kumud tertunduk malu. Saras langsung sibuk dengan benang layang-layangnya. Kumud langsung berkomentar, “putuskan”. Kusum tertawa sampai menutup mulutnya. Saras mengernyitkan wajahnya. Kusum mendekat ke Kumud berdiri, merangkul bahunya, mereka berdua mentertawakan Saras. Danny juga memegang bahu Saras sebagai bentuk dukungan, tapi sambil ikut tertawa. Kakek dan Vidya pun ikut tertawa.

Saras mendekat ke meja kecil tempat tumpukan layang-layang di taroh dengan wajah merengut kesal. Kusum ikut menggoda melihat langit, sambil terus tertawa-tawa bersama Kumud, “tidak ada. Saras, kau sudah menjatuhkan martabat kita”. Wajah Saras makin merengut. Kakek bersuara, “tidak apa, hari ini kan cuma latihan. Kita lihat saja siapa pemenangnya besok”.

Saras akhirnya kesal, ia menaroh kembali layang-layang yang akan dia ikat, kemudian melangkah masuk rumah dengan sikap kesal, mana benang layang-layang nyangkut di sepatunya. Kusum tertawa-tawa bersama Kumud sambil pelukan. Kakek bersuara melihat Saras masuk rumah, “mau kemana dia”. Danny duduk di meja kecil samping layangan sambil tersenyum. Kumud teriak menggoda Saras, “Hei, mau kemana! Katanya mau latihan”.

Vidya bicara pada kakek, “Ayah, bahkan Brahma cukup ramah pada kita hari ini, memberi setumpuk suka cita-cita, setelah sekian lama, kedua putriku bahagia”. Kusum dan Kumud saling mentertawakan Saras yang ngambek. Kakek yang melihat cucunya, setuju, “Saras telah membawa kebahagiaan ini, dan dia juga sudah kembali”. Vidya memegang bahu ayahnya, “tentu saja ayah. Kita telah diberkahi dengan anak-anak yang cantik, dan juga menantu-menantu yang tampan”. Kakek menatap langit, melihat kemungkinan menerbangkan layangan lagi.

Saraswatichandra episode 232 233 11

Di kamarnya, Yash duduk seperti orang pusing diapit ibunya dan Kalika yang berdiri di samping kira dan kanannya. Yash berujar, “Ya Tuhan, lindungilah kami dari orang-orang yang jahat”. Ibunya langsung nyelutuk, “Iya, hanya kami berdua yang rela sakit untukmu. Ayo”, Ibunya pegang lengan Yash, mengajaknya bangun ke arah jendela, “coba lihat diluar. Lihatlah, perhatikan baik-baik, *dihalaman Saras, Danny, Kumud Kusum sedang serius menatap langit menaikkan layang-layang dilihat oleh kakek dan Vidya*, Apa mereka keluargamu. Kedua pria asing itu, semakin dipuji-puji, bukan hanya adik-adikmu, bahkan kakek dan Paman juga melakukan itu. Mereka sudah mengabaikanmu”. Kalika yang berdiri di belakang ibu dan anak itu, menahan senyumnya, pionnya sedang bekerja.

Yash heran, ia beranjak ketempat duduknya lagi, “Tapi bu, apa salahnya membiarkan mereka bahagia. Mereka itu juga bagian dari keluarga ini kan”. Ibunya Yash terdiam. Kalika mulai bertindak, ia jongkok di samping Yash sambil memijat lengannya, “Yash, hatimu, benar-benar sangat tulus. Itu sebabnya aku menghormatimu. Tidak semua orang seperti dirimu, aku juga pernah, melihat keluarga ku sendiri berubah”. Yash mulai terpancing ucapan Kalika, ia terlihat tercenung.

Kalika menambahkan ucapannya, “Yash, jika mereka menganggapmu sebagai ahli waris mereka, mereka, akan memberi tanggung jawab pabrik itu daripada Danny dan Saras, *Yash tercenung, lirik Kalika*, Sebenarnya Paman ingin menantunya mendapatkan bagian yang lebih besar, sehingga anak perempuannya bisa hidup bahagia. Siapa yang akan menghentikan Paman, bibi Dugba? Bahkan Bibi Dugba pun menginginkan hal itu, dia hanya menganggapmu sebagai ponakan dan Saras sebagai anaknya”.

Yash mencoba berpikir jernih, “Tapi Kalika, Kakek tidak mungkin melakukannya, dia pasti akan membagikannya sama rata”. Ibunya ikut bicara, “Ibu ini tidak bohong Yash, kakekmu itu tidak melihat orang lain selain Saras hari ini. Tuhan tau apa yang direncanakan mereka. Mereka bahkan tidak membiarkan kita untuk mendpatkan sedikitpun. Sekarang perjuangkan hak-hak mu yang ada di rumah ini Yash!”.

Yash terlihat pusing mendengarnya. Kalik mengangguk tanda setuju dengan ucapan ibu mertuanya. Yash berdiri, “Apa benar ibu pikir kakek akan melakukan itu”. Ibunya baru mau bicara, Kalika udah nyahut, “Hapus keraguan mu Yash. Mintalah pada kakek, kunci ruangan atas. Jika kakek memberikan kuncinya, aku tidak akan mengeluh lagi. Lakukan itu Yash”. Yash berpikir sebentar, kemudian beranjak keluar. Kalika berdiri mendekat ke sebelah ibu mertuanya. Ibunya Yash tersenyum, memegang bahu Kalika.

Saraswatichandra episode 232 233 12

Di halaman, wajah Saras sudah terlihat santai mengulurkan benang layang-layang di sebelah Kumud. Kumud memulai ejekannya lagi, “kesempatan untuk menang tipis sih, tapi jangan menyerah tanpa memberikan perlawanan terlebih dahulu”. Saras memonyongkan mulutnya melihat Kumud. Kakek bersuara dari kursi rodanya, “Hei, Saras, jangan dengarkan dia, dia itu mencoba mengganggu konsentrasimu, *Yash muncul di teras*, Konsentrasi saja sendiri”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Satu respons untuk “Saraswatichandra: Terima Kasih Kusum & Syarat Cinta Kumud, Menerbangkan Layang-Layang

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.