Saraswatichandra episode 222 223 35

Di rumah Vidya. Kusum dengan ragu berdiri di depan pintu kamar kakek. Kakek melihatnya, “Kusum. Kemarilah Nak. Duduk disamping kakek”. Dengan ragu dan wajah cemas, Kusum melangkah dan duduk di pinggir tempat tidur kakek. Kakek yang berselonjor dan bersandal bantal, melipat kakinya dan mencondongkan wajahnya ke Kusum, meneyntuh dagu cucunya itu, “tidak usah khawatir. Mana lukamu, kau tidak apa-apakan”. Kusum sambil menggeleng menyodorkan tangannya. Kakek melihat lukanya, “jangan membuatku khawatir. Oh, Kumud dimana, bukankah dia bersamamu”.

Kusum yang membenarkan rambut yang menutupi matanya, terhenti agak kaget, “O,, begini. Sebenarnya, Saras sedang membawanya ke dokter Kek”. Kakek heran, “dia dibawa ke dokter?”. Kusum menjawab, “Iya, mereka pergi untuk mengganti perbannya”. Kakek memegang satu tangan Kusum dengan tangan satunya, dan mengusap dengan tangan lainnya, “aku sangat menghargaimu Kusum. Karena perintahku, kau memberi kesempatan pada kami. Kau sudah melakukan hal yang bijaksana. Dan aku yakin sekali, Kumud akan senang untukmu”. Kakek memberi Kusum senyum yang menunjukkannya bangga atas sikap Kusum. Kusum terlihat gelisah.

Saraswatichandra episode 222 223 37

Kalika masuk membawakan teh. Kakek menambahkan ucapannya, “Coba lihat, menantu Kalika membawakan teh untukmu dan merawatku”. Kalika tersenyum mendengarnya, kemudian menaroh teh di meja yang ada di ruangan situ. Kusum menoleh dan langsung berdiri, mendekati Kalika, jongkok disamping meja, menuangkan teh, “pergi, biar aku saja”. Kalika berbisik, “ngomong-ngomong Saras pasti akan mencari Kumud, *Kusum meliriknya*, Jangan khawatir, tapi ini benar-benar aneh, Kumud pergi tanpa meninggalkan pesan apapun, *Kusum tercenung*, Dia pasti meninggalkan pesan untuk Saras. Apa kau sudah mencari di kamarnya? Apa ada catatan atau surat”. Kusum terlihat makin gelisah, ia berdiri membawa teh untuk kakek.

Kalika memperhatikan kegelisahan Kusum sambil membathin, ‘aku sudah menghasutnya, sekarang dia akan melakukan segalanya itu juga dengan cara yang ku inginkan’. Kalika melenggang meninggalkan kamar sambil tersenyum melirik Kusum yang berdiri gelisah menunggu kakek selesai menghabiskan tehnya.

Kemudian, di kamar Kumud semalam, di rumah Saras, Kusum membongkar seprai, bantal, laci, untuk mencari catatan yang mungkin ditinggalkan Kumud. Dia panik, sehingga sangat mudah terhasut Kalika.

Sementara di luar rumah, Danny menunjukkan foto Kumud ke orang-orang dijalan, apa mereka melihatnya. Saras dan Yash juga ikut melakukan hal yang sama.

Saraswatichandra episode 222 223 38

Di rumah Saras, di kamar, Kusum masih terus membongkar semua laci dengan panik. Kemudian berpikir dan bergumam sendiri, “kalau kakak menulisnya, maka suratku, harus sampai ke tangan anggota keluarga terlebih dahulu”. Ia kemudian dengan nafas terburu membuka laci, mengambil alat tulis, kemudian beranjak ke tempat tidur menulis sebuah surat dengan terburu, melipatnya, wajahnya terlihat lega.

Di kamarnya, kakek melihat jam di lengannya, melihat ke arah pintu, melihat ke jam lagi, menyampirkan selendangnya di bahu, turun tempat tidur dan berpindah ke kursi rodanya. Guniyal yang baru masuk, menghampirinya dengan kaget, “Ayah, kenapa bangun. Dimana Kusum?”. Kakek memberitau, “dia sakit kepala, jadi dia pulang. Memang dia tidak bilang?”, kakek membungkuk di kursi rodanya, memasang sandal. Guniyal heran, “tidak, tapi ayah mau kemana?”. Kakek menjawab, “aku mau melihat Kumud”.

Saraswatichandra episode 222 223 40

Guniyal memberitau, “tapi, dia belum kembali. Saras sedang membawanya ke dokter”. Kakek mulai menjalankan kursi rodanya, “tapi ini kan sudah lama, masak belum pulang, jangan-jangan kondisi Kumud memburuk. Biar aku kunjungi dia ke rumah sakit”. Di belakangnya, Guniyal yang panik mendengar ucapan ayah mertuanya, langsung ke sampingnya, “Ayah, kalau itu terjadi, mereka pasti akan menelpon kita”. Kakek menyampaikan keheranannya, “tapi Kumud belum menelponku, bahkan sekalipun. Dari pagi dia belum menelponku, jadi aku akan pergi melihatnya”, kakek menjalankan kursi rodanya.

Guniyal dengan panik mencoba menghalangi kakek, “bagaimana caranya mau pergi”. Kakek terus menjalankan kursi rodanya, “biar aku naik bajai dan membawa dia pulang”. Guniyal semakin panik, “ayah tolong lah”. Kakek tak mendengar, sesaat, Guniyal berdiri dengan bingung.

Kusum sudah masuk rumah lagi, berjalan membawa surat di tangannya sambil berbicara sendiri, “aku akan tunjukkan surat ini pada semua orang. Aku harap kakek tidak ada disana. Auw”, Kusum mengaduh, kakinya tersandung tiang, surat terlepas dari tangannya, tertiup angin.

Saraswatichandra episode 222 223 41

Kakek terus menjalankan kursi rodanya, Guniyal mengikuti dari belakang, “tolong dengarkan aku ayah”. Kakek menjawab tenang, “sudahlah, carikan saja aku bajai, atau aku akan cari sendiri”. Guniyal terus mengikuti, “tidak ayah, tunggu dulu sebentar”. Surat yang dibawa Kusum terbang ke dekat kakek menjalankan kursi rodanya, kakek berhenti, Kusum yang masih di tiang, cemas melihatnya.

Kakek memperhatikan kertas tersebut, Guniyal juga. Kakek melihat ke arah Kusum yang menunjukkan wajah cemas. Kalika yang baru muncul di ruangan itu, menoleh dengan curiga, matanya melihat kertas dekat kursi roda kakek. Kusum ternganga, ia berlari ke dekat kursi roda kakek, mengambil kertas itu dengan cepat, mundur beberpa langkah. Kalika mendekat kesitu dengan tersenyum melihat kepanikan di wajah Kusum, ia langsung membathin, ‘woau Kusum, ternyata kau menemukan suratnya ya. Mungkin itu, surat yang tidak pernah ditulis oleh Kumud’. Kalika terus memperhatikan Kusum yang gelisah. Kakek dan Guniyal juga memperhatikannya sambil mengerutkan wajahnya. Kusum mengusap wajahnya yang panik.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :