Saraswatichandra episode 222 223 27

Di ujung tangga Danny menghentikannya dengan memegng pundaknya, “Kakak, ada apa?”. Saras bertanya, “Apa kau melihat Kumud?”. Danny menjawab tidak. Saras terlihat panik, “Dia tidak ada dikamar, kemana dia pergi. Bibi, carilah di kamar Kusum. Ayo, kita harus mencarinya”. Danny bergegas mengikuti Saras.

Dugba menggedor pintu kamar Kusum, “Kusum. Kusum, buka pintunya. Kusum!!”. Pintu kamar terbuka, “Apa Kumud bersamamu!”. Kusum menjawab tenang, “tidak Bi”. Dugba semakin panik, “Ya, ampun, pergi kemana dia, dia tidak ada dikamarnya, dia tidak ada dimana-mana sudah dicari. Biar aku periksa lagi”. Dugba bergegas lagi beranjak dari situ.

Kusum baru terpana di pintu kamarnya. Ia teringat ucapan sebelumnya pada kakaknya, ‘Jika bukan untukmu. Saras harus menjadi milikku!’. Kusum bergumam sendiri, “Apa dia pergi karena aku”. Kusum mulai panik, ia ikut bergegas. Dugba masih terus berteriak memanggil Kumud, mengecek setiap ruangan, “kemana dia, Kumud! Ya Tuhan. Kumud!”. Wajah Dugba semakin panik.

Saraswatichandra episode 222 223 29

Saras ikut memanggil Kumud. Danny juga menegcek setiap ruangan. Kusum ikut memanggil, “kakak”. Saras bertemu Dugba di runag tamu, “Bibi, bisa kau hubungi lewat telpon”. Dugba dengan panik menjawab, “tidak, ia tidak menjawab telponnya”. Danny muncul, “Ini handphone-nya, mungkin dia meninggalkannya saat memperbaiki sekring listrik”. Dugba semakin panik, “lalu dimana dia?!”.

Kusum muncul disitu, dibelakang Saras dengan wajah tertunduk. Saras berkata, “Dia sudah pergi. Dia sudah pergi meninggalkan rumah ini”, Saras ingat ucapan yang dikatakan Kumud sebelumnya, kalau dia pergi maka semuanya akan baik-baik saja. Kusum semakin tertunduk. Dugba bertanya, “Maksudmu? Apa kalian berdua saling bertengkar? Katakan yang sebenarnya Saras”.

Saras menjawab bibinya dengan tenang, “Tidak ada yang terjadi. Tapi ada sesuatu yang telah memaksanya untuk meninggalkan rumah ini”. Saras kemudian menoleh ke arah Kusum yang berdiri di belakangnya. Kusum gelisah, ia meremas-remas tangannya, mengusap wajahnya yang cemas.

Saras kemudian melihat ke Dugba lagi, “Bibi tidak perlu khawatir. Apapun yang memaksanya untuk meninggalkan rumah ini, aku akan menemukannya. Tidak akan kubiarkan apapun terjadi padanya. Aku akan membawanya pulang Bi. Tapi untuk saat ini, Bibi, tolong beritau semua orang tentang hal ini. Kalau tidak, mereka akan membawa kakek kemari”. Dugba mengangguk. Kusum yang dibelakang Saras hanya mendengarkan dengan gelisah, ia berkali-kali mengusap wajahnya.

Saraswatichandra episode 222 223 31

Di rumahnya, Vidya sedang meminum teh yang disuguhi Guniyal saat telpon berbunyi. Kalika yang sedang menaroh camilan di meja mau mengangkatnya, saat tangan Guniyal lebih dulu meraihnya., “Hallo,, Apa?”. Wajah Guniyal yang tak bersemangat, langsung terpana, “Kumud telah meninggalkan rumah?”. Vidia yang sedang menyeruput teh, langsung terhenti. Ibunya Yash yang sedang menyiangi paprika ditempat duduk lain, terpana. Kalika yang berdiri di belakang Guniyal menerima telpon ikutan kaget, kemudian tersenyum samar.

Vidya menaroh cangkir tehnya, ikut berdiri. Guniyal masih menerima telpon, “tidak Dugba, dia tidak datang kemari. Pergi kemana dia”. Dugba memberitau, “dirumah ini juga tidak ada seorangpun yang tau Kumud pergi kemana. Dia tidak membawa telpon. Kakak ipar,,”. Saras memegang bahu Dugba, meminta telpon, kemudian bicara, “hallo Bi. Bibi tidak perlu khawatir. Aku pasti akan membawa Kumud pulang. Tapi, tolong ingat satu hal. Jangan sampai kakek mengetahui hal ini”. Guniyal menyanggupi, “Baiklah Nak”. Ia menutup telpon. Saras juga menutup telpon.

Kalika langsung menahan senyum dan membathin, ‘aku sangat tau itu. Ada banyak tekanan diantara dua bersaudara yang tidak seorang pun melihatnya. Sekarang, hanya kesadaranlah yang bisa dilihatnya’. Kalika menundukkan kepalanya menahan senyum.

Saraswatichandra episode 222 223 32

Kakek masuk keruangan itu dengan kursi rodanya, “Apa yang terjadi Vidya. Apa Kumud baik-baik saja”. Vidya terpaksa ngibul, “Iya, ayah. Dugba baru saja menelpon. Semuanya baik-baik saja”. Guniyal pun mengiyakan. Kakek malah berkata, “Kalau begitu, bawa aku pada cucuku. Aku akan menghukumnya, kenapa dia melompat ke dalam api sendirian”. Vidya dan Dugba tidak bisa berkata-kata. Kakeknya dengan wajah mengernyit bilang, “Ayo”.

Kalika bersuara sambil melangkah ke hadapan Kakek, “Tidak kakek, sebenarnya Kumud baik-baik saja, aku baru saja menyajikan sarapan untuknya. Kalau kakek berbicara terlalu banyak, akan membuatnya merasa lelah”. Guniyal menguatkan ucapan Kalika dengan bilang iya.

Kakek yang bukan anak kecil, malah menajwab, “merasa lelah? Kalau begitu, aku akan memintanya duduk tenang dan mendengarkan perkataanku. Ayo”. Guniyal menahan, “Tunggu ayah. Mereka akan datang kemari nanti”. Vidya mengiyakan ucapan istrinya. Kakek mencoba memahami situasi dengan wajah masih kesal, “Baiklah. Tapi jika dia ada di depan mataku, setidaknya ke kahwatiranku akan berkurang. Begitu dia kemari, beritau aku”. Vidya menjawab, “Baik Ayah”. Kakek menjalankan kursi rodanya kembali ke kamarnya.

Kalika langsung berinisiatif, “Aku, aku akan bertanya pada teman-temannya Kumud”. Ibu mertuanya langsung berteriak, “hei, apa kau sudah gila”. Kalika mengernyitkan wajahnya. Ibunya Yash menjelaskan, “Para penduduk desa sudah tau kalau Kumud lari dari rumah mertuanya. Kau akan katakan ke mereka bahwa dia lari dari sini”. Vidya langsung menyela, “Ibunya Yash, aku mengkhawatirkan putriku, bukan penduduk desa. Aku akan melakukan apapun untuk menemukannya”.

Ibunya Yash berkata dengan nada kurang suka, “baiklah, lanjutkan saja kalau begitu, pergi cari dia. Pergi dan umumkan, setelah semua warga desa tau tentang hal ini, lalu bagaimana kau akan menyembunyikan rasa malumu”. Vidya menjawab, “kita akan pikirkan itu nanti. Pertama-tama, kita harus temukan Kumud”. Vidya kemudian melangkah keluar. Kalika semakin menahan senyum senang melihat situasi ini, ia mengambil cangkir teh, membawanya ke dapur. Ibunya Yash mendelik ke arah Guniyal, kemudian juga pergi. Guniyal bergumam sendiri, “Ini pertama kalinya aku marah padamu Kumud. Bagaimana kau bisa pergi tanpa memberitauku”.

Di rumahnya, Saras menerangkan situasinya, “kalau tidak ada satupun dari kita yang pergi ke sana, kakek akan curiga. Tolong, kalian semua pulanglah, beritaukan pada kakek, kalau aku pergi ke dokter untuk mengobati luka-lukanya. Setuju”. Saras menepuk pundak Dugba, menyerahkan hp ke tangan Dugba kembali. Danny, Kusum dan Dugba melangkah keluar ruangan.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :