Saraswatichandra episode 222 223 16

Vidyachatur dan keluarganya datang. Saras memberitau, “Kumud tidak apa-apa, dia ada dikamarnya”. Danny bertanya, “Apa yang terjadi kak”. Kusum muncul, “aku disini”. Danny langsung bergegas ke arahnya. Guniyal dengan cemas bertanya, “Kusum, kau tidak apa-apakan? Kau tidak ada yang terlukakan”. Kusum dengan wajah datar menjawab, “aku baik-baik saja ibu”. Dugba bertanya, “Bagaimana Kumud”. Saras menjawab, “tangannya, sedikit trebakar”.

Guniyal kaget, “Apa?!”. Saras menenangkan, “Jangan khawatir, Bi, dokter sudah mengobatinya, untuk saat ini Kumud beristirahat dulu”. Vidya bertanya, “Bagaimana ini bisa terjadi?”. Saras menjawab, “Aku sendiri juga tidak tau Paman. Aku ke Rachpurt, kerana pertemuanku dibatalkan, aku pulang kerumah, dan ruangan itu sudah terbakar dan Kumud menyelamatkan Kusum keluar dari ruangan itu”.

Dugba heran, “Dia menyelamatkan Kusum?”. Kusum tertunduk linglung. Vidya melihatnya, “Katakan pada ayah Kusum. Bagaimana ini bisa terjadi”. Saras menatap ikut menatap Kusum dengan tajam. Kumud kecewa, tak sesuai harapannya, “begini ayah, listriknya mati. Jadi aku menyalakan beberapa lilin. Lalu kakak datang dan memperbaiki sekringnya. Lalu ketika aku lihat keruangan, api sudah menyala. Saat aku memasuki ruangan, aku melihat sarinya sudah tebakar. Lalu aku mencoba memadamkannya, tapi apinya malah semakin parah ayah. Lalu aku jatuh pingsan, setelah itu, aku tidak ingat lagi, apa yang terjadi setelah itu”.

Saraswatichandra episode 222 223 18

Saras dengan wajah mengernyit menatap dengan teliti ekspresi Kusum saat mengarang cerita, “lalu, bagaimana tangan Kumud bisa terbakar”. Kusum yang mengeluarkan air mata menjawab, “karena sari ku terkena api. Mungkin kak Kumud mencoba memadamkan api dengan tangannya”. Saras menundukkan wajahnya dengan tetap berpikir. Dugba langsung bicara, “Kumud sangat pemberani, dia sudah menyelamatkan adiknya dari api, kalau tidak, apa yang akan terjadi”. Kusum tertunduk, melihat ke wajah semua keluarganya.

Vidya bergumam, “Kenapa menguji putriku dengan hal seperti ini. Dan Kumud, selalu saja terluka setiap kali dia mengulurkan tangannya untuk berpihak. Saras ini bukan waktu yang tepat untuk menemuinya”. Kusum terlihat gelisah. Saras yang dari tadi tertunduk menjawab, “tidak Paman, ini bukan waktu yang tepat untuk menemuinya. Dokter telah mengarahkannya dengan jelas, dia tidak boleh mendapatkan tekanan”. Guniyal langsung melirik Kusum. Kusum tertunduk.

Dugba menenangkan Vidya dengan memegang pundaknya, “Yang dikatakan Saras itu benar Kak Vidya. Sebaiknya kita pulang dulu. Ayah pasti merasa khawatir, kita harus segera memberitaunya bahwa semuanya baik-baik saja”. Vidya menarik nafas, melihat ke arah lantai atas, melangkah ke hadapan Saras, memegang kedua lengannya, “Saras, tolong jaga Kumud”. Saras memegang pundak ayah Kumud dengan memberi isyarat lewat kepalanya. Kusum memperhatikan dengan air mata di pipi. Semua keluarga meninggalkan rumah Saras.

Saras menuju Kumud. Kusum meperhatikannya dari belakang, Saras cuek. Kusum masuk lagi ke kamarnya dengan dada sesak. Menangis di pinggir tempat tidurnya, melihat ke pergelangan tangannya yang terluka, memegang luka dengan tangannya, ia mengaduh, Saras yang mendengarnya kaget, mengernyitkan jidatnya.

Saraswatichandra episode 222 223 22

Kusum tengkurap di tempat tidur sambil menangis. Tangan Danny memegang bahunya, ia terkejut, tadinya masih berharap Saras yang datang. Ia duduk dipinggir tempat tidur di samping Danny. Danny berkata dengan lembut, “Kakak memberiku obat, mau ku oleskan”. Danny meraih tangan Kusum, membersihkannya. Kusum mengaduh, Danny lebih pelan dan hati-hati lagi membersihkan luka Kusum sambil melihat ke wajah Kusum yang penuh air mata. Yang dilihat dan diobati malah membathin, ‘setiap kali kau menyakitiku, kau selalu menyuruh orang lain menghiburku’.

Danny terus mengoleskan obat. Kusum mengaduh lagi, Danny menyabarkannya, “tunggu, aku hampir selesai”. Danny kemudian mengusap wajah Kusum, merapikan poninya yang menutupi wajah Kusum dan berkata dengan penuh sayang, “sekarang kau istirahat ya. Panggil aku kalau kau butuh sesuatu”. Danny menaroh salap yang diolesinya tadi di meja kecil dekat tempat tidur, disamping Kusum. Kemudian melangkah keluar kamar.

Kusum mengambil salap itu, kemudian melemparnya ke sudut kamar, bersamaan dengan Kalika membuka pintu kamarnya, Kalika tersenyum, “bagaimana keadaanmu Kusum”. Kusum menoleh ke arahnya, “Sana, kau pergi!”. Kalika tetap berdiri tersenyum, “Kau tau, aku harus kembali lagi. Ini, kotak makan. Bibi memintaku untuk memberikannya padamu. Dan dia memintaku untuk kembali diam-diam. Saat ini, bagaimana aku tidak kembali. Akulah satu-satunya orang yang memahami perasaanmu. Katakan yang sebenarnya Kusum, apa penyebab kebakaran itu”.

Saraswatichandra episode 222 223 25

Kusum menjawab, “Seperti yang aku bilang, itu karena lilin”. Kalika yang masih berdiri dipinggir tempat tidur, menatap Kusum yang duduk, memperhatikan ekspresi Kusum, “Bagaimana api sebesar itu dimulai dari lilin. Jika itu kecelakaan bagaimana bisa kondisi ruangan itu, saat aku membersihkan kamar, aku menemukan ini”, Kalika menunjukkan ikat pinggang yang diagung-agungkan Kusum sebagai bagian dari Saras yang datang padanya.

Kalika mengayunkannya disamping wajah Kusum, “ini ikat pinggang, iya kan”. Kusum menoleh, berdiri, merebutnya dari tangan Kalika, “Aku memang memakainya, tapi, mungkin ini terlepas. Jika sudah selesai penyelidikannya, silahkan pergi. Aku tidak mau melihatmu”. Kalika hanya melirik Kusum dan berkatak, “baik”. Kalika melangkah keluar kamar diikuti Kusum yang langsung menutup pintu kamarnya. Kalika tersenyum di luar kamar dan bergumam, “Peneylidikan telah dimulai Kusum. Aku harus mencari tau darimana api itu berasal. Bukan hanya itu, tapi bagaimana juga api bisa membakarmu”.

Saraswatichandra episode 222 223 26

Paginya, Dugba masuk ke kamar Saras yang masih tertidur sambil terduduk dibangku disamping tempat tidur, menunggui Kumud. Dugba membuka horden kamar. Cahaya matahari menerangi kamar. Dugba memegang bahu Saras, “Saras”. Mengusap jidat Saras yang masih tertidur sambil duduk, “Saras”. Saras membuka mata, “bibi”. Dugba langsung bertanya, “Dimana Kumud?”.

Saras yang masih terkantuk melihat tempat tidur, “Tadi dia tidur disini”. Dugba melangkah meninggalkan Saras sambil memanggil, “Kumud”. Saras yang masih mengantuk, mengusap matanya, berdiri. Duga berbalik lagi memberitau, “Dia tidak ada Saras. Sedang pergi kemana dia”. Saras berkata, “kita lihat diluar”. Ia bergegas keluar, turun tangga sambil memanggil nama Kumud, diikuti Dugba.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :