Api mulai membakar bahan bakar yang tercecer dekat pintu, Kumud mundur, menjauh dari pintu dengan kaget. Di dalam Kusum mulai terbatuk-batuk kehabisan oksigen, ia bangkit, tersandar ke tempat tidur sambil menggapai, “kakak, kakak”, tapi suaranya sudah tak terdengar. Di luar, Kumud mengambil pajangan memecahkan kaca. Kaca pecah, Kumud melihat kondisi Kusum yang sudah pingsan, tersandar ke tempat tidur”Kusum” . Kumud membuka kunci pintu dari kaca yang pecah. Pintu terbuka.

Saraswatichandra episode 222 223 07

Kumud mau melangkah masuk tidak bisa, jilatan api sudah dimana-mana. Kumud ke ruang tamu lagi, mencari dengan panik apa yang bisa dia pergunakan untuk menolong Kusum. Ia membuka ruang lain, mengambil kain tebal dari situ, menggunakannya untuk memadamkan api agar bisa mendekat ke Kusum yang terduduk pingsan. Sambil menangis, menahan perih tangannya yang terkena panas kain, sambil menyebut nama Kusum, Kumud meraih tangan Kusum, menyeret Kusum keluar kamar yang penuh asap.

Di luar kamar, Kumud menyadarkan Kusum dengan menepuk pipinya, menggoyangkan wajahnya, “Kusum, sadarlah. Kusum buka matamu. Kusum buka matamu”, Kumud memeluk Kusum sambil menangis, “Kusum sadarlah”. Kusum tetap tak ada reaksi. Kumud melihat ke sekeliling lagi. Menaroh kepala Kusum dilantai dengan pelan. Ia berdiri, mengambil air, memerciki wajah Kusum dengan air, “Kusum, Kusum”.

Saraswatichandra episode 222 223 08

Saras, nyampai rumah, ia melihat api masih ada dilantai kamar. Saras kembali mengambil kain tebal, mematikan api dengan itu. Kumud masih terus menyadarkan Kusum, “Kusum, bangunlah. Kusum kau tidak akan apa-apa”. Kusum terbatuk, Kumud memeluk kepala Kusum. Ia membuka matanya, kaget.

Kusum melepaskan tangan Kumud yang memeluknya, menatap terpana ke arah Saras yang sedang mematikan api. Ia berdiri, menatap ke dalam kamar tak percaya. Kumud yang justru masih lemas, terduduk di lantai.

Saraswatichandra episode 222 223 12

Saras melompat keluar kamar, bertanya ke Kusum yang masih berdiri terpana, “Kusum, bagaimana ini bisa terjadi. Kau baik-baik saja Kusum”. Kusum meneteskan air mata, mau menatap Saras. Kumud di duduknya terisak, Saras spontan menoleh kerahanya, langsung berlari ke Kumud dengan khawatir, “Kumud”, jongkok disampingnya, dan melihat tangan Kumud dengan cemas, mengusap kepala Kumud yang tengadah, “Kau tidak apa-apa. Kumud, bicaralah. Kumud”, Saras meraih kepala Kumud ke dadanya. Kumud terisak.

Kusum yang sudah membalikkan badan, dengan air mata masih ada di pipi dan berharap di usap Saras, justru melihat kenyataan, Saras sangat mengkhawatirkan Kumud tak sedikitpun Saras memperhatikannya. Saras yang memeluk kepala Kumud sambil jongkok terlihat sangat-sangat cemas. Wajah Kusum terlihat sangat masam melihat kakaknya dan Saras.

Saraswatichandra episode 222 223 13

Danny sudah mau selesai dengan pekerjaannya di rumah Vidyachatur alias rumah ayah mertuanya. Ia sudah beberes map-mapnya saat Dugba membawakan secangkir teh untuknya, “Danny, diluar dingin sekali, minumlah tehnya dulu sebelum kau pergi”. Danny meminumnya sambil mengucapkan terima kasih. Hp nya berbunyi, Danny mengangkatnya, “ya, Kak”. Danny berdiri dari duduknya, “apa”. Danny hanya mendengar dengan terkejut, tak bisa berkata-kata. Dugba yang berdiri disitu ikut kaget melihat ekspresi Danny menerima telpon.

Saraswatichandra episode 222 223 14

Di kamarnya, Saras merawat luka bakar ditangan Kumud, sambil mengeluarkan air mata. Ia tak tahan melihat Kumud yang terus mengeluarkan air mata dalam diamnya, “tadi dokter bilang besok kau akan baik-baik saja. Apa kau, apa kau merasa kesakitan? Kau tidak pernah diam saja, bahkan disaat kita bertengkar, kau selalu mengejekku. Aku belum pernah melihatmu diam seperti ini sebelumnya. Bicaralah padaku Kumud. Berdebatlah denganku, marahlah padaku, katakan aku telah salah pergi ke Rachpurt. Aku pergi saat kau begini”.

Saras melihat ke tangan Kumud yang terluka, menggenggamnya, “sebenarnya apa yang terjadi padamu, bicaralah padaku. Kau jangan diam saja. Setidaknya katakan sesuatu”. Kumud hanya menatap ke depan sambil terus menangis dalam diam, tak bicara sepatah katapun. Saras terpekur, air matanya juga ikut mengalir di duduknya dipinggir tempat tidur.

Saraswatichandra episode 222 223 15

Kumud melihat ke arah Saras yang tercenung, kemudian kepalanya kembali ke posisi semula, tengadah, air matanya makin deras keluar, “aku bertanggung jawab atas semua situasi ini”. Saras langsung menoleh lagi ke arah Kumud dengan antusias. Kumud bicara, “Apa yang telah ku lakukan, padamu, juga pada Kusum”. Saras heran, “pada Kusum? Kau telah mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkannya”.

Kumud menggeleng, “tidak”. Saras mengingatkan, “kau menjauhkannya dari api”. Kumud ngelesh, “tidak, aku tidak ada disana. Ini tidak akan pernah terjadi. Apa kau lihat, dia tidak bisa hidup tanpamu”. Kumud terbatuk, ia memperbaiki posisi bersandarnya ke kepala tempat tidur, “saat ini adikku menjadi putus asa, itu semua karena aku”.

Saras membantah, “Jangan berkata seperti itu. Kusum sekarang masih hidup, itu karena dirimu”. Kumud minta keyakinan, “benarkah? Kusum masih hidup? atau apakah aku telah dihapuskan dari dia. Aku yang bertanggung jawab atas situasi ini”. Kumud memperbaiki duduknya lagi, “aku harus pergi jauh dari dia. Aku harus menjauh. Cuma ini jalan keluarnya. Jika aku pergi, semuanya baik-baik saja. Semuanya akan seperti semula”.

Saras bicara hati-hati, “Kumud. Sekarang, kau istirahat saja. Kita akan bicara lagi besok”. Saras merebahkan kepala Kumud ke posisi nyaman, “ayo, istirahatlah”, kemudian menyelimuti badan Kumud. Melihatnya dengan kuatir, membiarkan Kumud istirahat.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :