Saraswatichandra: Kusum Jatuh Cinta. Itu Bukan Cinta, Tapi Pengabdian. Cinta Tak Bisa Dipaksakan-Kumud


Saraswatichandra episode 202 203 46

Dugba yang tau apa yang dipikirkan Saras mencoba membantu, “Kalau memang kau sangat yakin, kenapa mereka merasa, kalau kau tidak bahagia”. Kusum mulai tertunduk, mulai menahan tangis melirik Kumud. Guniyal mengambil alih situasi, “Bukan seperti itu Dugba, dia hanya sedikit cemas tentang pernikahan. Aku sudah bicara dengannya”. Guniyal menatap Kusum dengan tatapan yang dipahami Kusum maksudnya.

Kusum kemudian pura-pura tersenyum, pura-pura bahagia, “Ya, jadi kalian bisa memulai persiapan pernikahannya. Aku baik-baik saja”. Kusum melihat ke depan seakan tegar. Saras menatapnya dengan perasaan Kusum telah mengabaikan perasaan adiknya.

Semua keluarga terlihat masih sedikit bingung. Kusum kembali melihatkan senyum kalau dia bahagia. Saras melirik Kumud, Kumud melirik Kusum dengan wajah sedih karena tau perasaan adiknya.

Saraswatichandra episode 202 203 47

Vidyachatur memperhatikan wajah Saras dari samping, ia memahami kekecewaan yang telihat di wajah itu. Vidyachatur melangkah mendekatinya, menepuk pundaknya, Saras melihat ke arahnya, Vidyachatur memberi pengertian, “Dengar Saras, kau dan Danny, seperti, Kumud dan Kusum bagiku. Tapi sayang, andai saja kau datang membawa lamaran untuk Kusum sebelum lamaran yang ini, maka percayalah, aku akan menjadi orang yang paling bahagia. Mungkin itu yang Tuhan inginkan”.

Dugba dan Kumud terlihat mendapat pencerahan mendengar ucapan Vidyachatur barusan itu. Saras tetap menunduk mendengarkan. Vidyachatur berbicara lagi, “Saras, itu akan jadi ketenangan bagi kita semua, jika Danny tidak datang kesini, sampai pernikahan Kusum”. Saras langsung menatap Vidyachatur mendengar ultimatum bernada lunak itu,” Baiklah”.

Vidyachatur menambahkan, “Saras, tolong urus Danny”. Saras yang terbiasa mengendalikan perasaannya dari kecil, kembali dengan wajah tenang tanpa senyum. Ia menyentuh kaki Vidyachatur, menghaturkan tangan di dada, melangkah mundur dari situ, pergi dengan kepala tertunduk.

Kusum melihat kepergian Saras itu dengan tatap merasa tak berdaya, Kumud dengan tatap sedikit bersalah, Vidyachatur menatap dengan perasaan tidak enak. Dugba terlihat sedih. Kalika menghias wajahnya dengan senyum, karena salah satu episode ‘drama’ yang di prediksinya sudah berjalan. Kumud menatap wajah Kusum dengan tatap kasihan.

Saraswatichandra episode 202 203 49

Malam harinya, di kamar, Kusum rebahan dengan kepala dipangkuan ibunya. Guniyal mengusap dengan kasih sayang seorang ibu. Kumud masuk dengan wajah masih menyimpan beban. Kusum langsung duduk, ia terlihat agak sedikit kikuk dengan Kumud. Kumud terus menatapnya. Guniyal memperhatikan kedua anak gadisnya itu bergantian.

Kusum memulai percakapan dengan mata tak berani menatap Kumud, “Selama ini kau selalu mema’afkan semua kesalahanku, kak. Maukah sekarang kau melakukannya”. Kumud melihat Kusum, menarik nafas, kemudian duduk dipinggir tempat tidur, memegang kakinya, “Aku sudah mema’afkan semuanya, semua kesalahan yang kau lakukan. Tapi aku tidak bisa mema’afkanmu untuk kesalahan yang kau lakukan saat ini”. Kusum tertunduk.

Saraswatichandra episode 202 203 50

Kumud menambahkan, “Kusum, pernikahan lebih dari sekedar kompromi”. Guniyal tak setuju dengan ucapan Kumud itu, ia berbicara, “Setiap pernikahan adalah kompromi. Baik itu sebelum pernikahan ataupun setelahnya. Aku adalah ibumu, aku selalu berdoa untuk kesejahteraan. Dan untuk kali ini, Kusum benar”. Kumud sedikit terpana dengan ucapan ibunya itu.

Kusum yang sudah terlihat tenang, pun menambahkan, “Iya, kak. Sama sepertimu, aku juga memutuskan untuk pergi dengan takdirku”. Kumud menahan sedihnya, ia melirik ibunya yang memilih menunduk. Kumud mengusap pipi adiknya sebagai bentuk doa dan dukungan. Kemudian berdiri, bergegas keluar dari kamar itu. Kusum kembali duduk memangku lututnya, disebelahnya, Guniyal ibunya membathin, ‘Tuhan, ini waktunya bagi kami membuktikan cinta dan perhatian satu sama lain. Tolong bantulah kami”.

Saraswatichandra episode 202 203 51

Pagi harinya, Kumud muncul di rumah Saras. Ia melihat Danny yang sedang sibuk menutup resleting tasnya dengan nafas agak sesak, sampai tak menyadari kehadirannya. Kumud menyapa, “Bagaimana kabarmu”. Danny melihat sebentar, “Aku baik”, membalikkan badan bergegas, hingga saat melangkah, kakinya menyenggol meja kecil disamping kursi. Vas yang ada disitu jatuh, Danny sigap menangkapnya. Kumud bergegas mendekat, “Danny, hati-hati”.

“Tidak apa-apa”, Danny mengembalikan vas yang jatuh ke tempatnya, merapikan meja kecil ke tempatnya semula. Kumud berbicara lagi, “Danny, aku bisa mengerti apa yang kau alami saat ini. Aku tau kalau kau menderita sekarang, ma’af”. Danny yang tertunduk langsung merespon, “Ma’af untuk apa?! Aku hanya tidak beruntung”. Danny menundukkan wajahnya dalam, “Aku harap kau tidak punya nasib sama sepertiku”.

Kusum kaget mendengar ucapan Danny itu, “Tidak, Tolong jangan katakan itu Danny. Aku bahkan berharap, nasibmu akan lebih baik daripada aku. Danny, hidup ini sangat luas, lanjutkan hidupmu”. Danny tersenyum kecil, “Ya, tapi aku tidak tau bagaimana aku akan bertahan”.

Danny menatap Kumud dengan mimik serius, “setelah tau orang yang kuharapkan ternyata, tidak sungguh-sungguh mencintaiku”. Danny kemudian pergi meninggalkan ruangan itu. Kumud mencoba memanggil, “Danny dengarkan aku”, Danny tetap pergi.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan