Serial Saraswatichandra

Saraswatichandra: Kusum Jatuh Cinta. Itu Bukan Cinta, Tapi Pengabdian. Cinta Tak Bisa Dipaksakan-Kumud


Saraswatichandra episode 202 203 15

Kumud menatap Saras dengan dada yang semakin sesak. Saras sambil tersenyum memberikan alasan, “Karena Kumudku adalah seorang yang pemberani, dia tidak membutuhkan siapapun. Tapi Kusum itu sangat lugu”. Kumud tersenyum kecut, matanya berkaca-kaca, “Kau memahaminya dengan baik”.

Saras tersenyum mengiyakan, “Aku bertemu dengannya sebelum bertemu denganmu”. Denting di kepala Kumud semakin membuat kepalanya terasa berat. Saras berbicara lagi, “Kumud, dia itu sangat naif. Hari ini aku tidak suka melihatnya begitu tertekan. Dia harus mendapatkan cintanya”.

Kumud menelan ludah, dan berkata dengan nada setengah menangis, “benarkah?!”. Saras dengan yakin mengangguk dan menambahkan, “Dan bersama dengan dirimu, itu juga tanggung jawabku untuk bisa mengurus Kusum”.

Kumud tak kuat lagi, ia mulai emosi dengan ketenangan Saras, “Kalau kau sangat bertanggung jawab, lalu dimana kau pada hari itu! Sampai saat ini aku masih menderita karena kesalahanmu Saras. Setiap kali aku menghadapi masalah, kenangan itu selalu ada”. Saras bingung, berusaha bertanya, tapi tak ada kesempatan. Kumud masih nyerocos, “Bagaimana bisa kau membuat kesalahan itu. Bukan hanya aku, tapi hidup Kusum juga dipertaruhkan karena kesalahanmu!”.

Saras menatap Kumud dengan mata terbelalak, “Bagaimana bisa kesalahanku mempertaruhkan kehidupan Kusum?”. Kumud terdiam, menghindarkan tatapannya dari Saras. Saras semakin bingung, “Kumud, sebenarnya ada apa?”. Kumud hanya terisak dan tak melihat Saras. Saras keluar meninggalkannya. Kumud menangis, menjangkau kursi dengan tangan gemetar untuk duduk, melihat pemberian Saras untuk Kusum di tangannya”.

Saraswatichandra episode 202 203 16

Di kamar yang lain, Guniyal berlari dari duduknya dipinggir tempat tidur menuju Kusum berdiri, menarik tangan Kusum, “Apa yang sudah kau lakukan Kusum”. Kusum menjawab sambil menangis, “Aku tidak bisa menyembunyikannya Bu. Aku tidak bisa menyembunyikan dari kakak”. Guniyal kembali terpana. Kusum memegang lengan ibunya, ” Ibu, aku tidak bisa menahan beban ini lagi. Ia harus tau yang sebenarnya”.

Guniyal melepas pegangan tangan Kusum dengan keras, “Ini salah ibu. Cara mendidikku yang harus disalahkan. Yang satu menolak kemenangannya, *Guniyal pegang dagu Kusum*, yang lainnya menolak untuk menerima kekalahannya”. Kusum menangis sambil menggelengkan kepalanya.

Guniyal mengungkapkan kekecewaannya, “Yang satu telah dibutakan oleh pengrbanannya, yang lain ke egoisannya. Ini tidak boleh terjadi. Ini bukan mainan atau tali pinggang, yang bisa diberikan padamu dengan suka cita. Ingat satu hal, Kumud dan Saras adalah pasangan yang dibuat di surga. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka”.

Saraswatichandra episode 202 203 18

Kusum yang menangis, langsung protes, “Kalau begitu, kenapa dia masih dengan Pramad Bu. Kenapa dia melakukan semua ritual dengannya. Aku melakukan ritual dengan Saras sebelumnya!. Mungkin bahkan Tuhan pun ingin aku dan Saras. Aoww”. Tangan Guniyal melayang ke pipi Kusum. Kusum memegang pipinya.

Guniyal menunjuk tepat di dekat mata Kusum, dengan wajah sangat geram, “Jangan pernah berpikir seperti itu. Kenapa aku harus melahirkanmu, kenapa aku tidak di steril saja setelah aku melahirkan kakakmu Kumud”. Guniyal menahan amarahnya, sebelum berefek lebih jauh lagi, dengan mata berkaca, ia melangkah keluar dari situ. Kusum berusaha memanggilnya, “Ibu”. Guniyal tetap jalan. Kusum terduduk di lantai sambil menangis, “Kau adalah ibuku, setidaknya kau harus mengerti aku”. Kusum menangis tergugu.

Saraswatichandra episode 202 203 20

Saras keluar rumah Kumud, melintas halaman sambil menelpon, “Danny, cobalah untuk mengerti. Kita tidak bisa buru-buru dalam masalah seperti ini. Kita harus memilih waktu yang tepat untuk mengajukan ini. Danny aku sedang berusaha dan kau,,”. Ada yang memanggil, “Tuan Saras”, Saras menoleh ke belakang, disana, ada Pramad memanggilnya. Saras berbicara pada Danny di telpon, “Tunggu sebentar, aku akan menelponmu nanti”.

Pramad berjalan pelan mendekati Saras. Saras menunggunya dengan wajah kurang bersahabat. Setelah dihadapan Saras, Pramad tersenyum ragu, agak berat memulai percakapan, menunduk, memegang gulungan kertas yang dari tadi dibawanya. Akhirnya Pramad memberanikan diri, “Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu Kumud. Bicara denganmu lebih baik daripada harus bicara dengannya”. Pramad menyodorkan gulungan yang dibawanya ke tangan Saras, “Berikanlah pada Kumud”.

Saraswatichandra episode 202 203 21

Saras membuka tali pengikat gulungan tersebut, membacanya tulisan lembar demi lembar, kemudian berbicara pada Pramad, “Ini adalah dokumen perwalianmu”. Pramad mengangguk, “Mmmm. Aku pikir, dana itu pasti akan berguna untuk sekolah yang Kumud bangun”. Saras memperhatikan Pramad saat bicara.

Saras menggulung dokumen itu lagi, mengangkatnya ke arah Pramad, “Kau sudah mencoba untuk membunuhnya demi uang ini”. Mata Pramad menghindar dari tatapan Saras, menunduk, “Aku harap, hal ini akan membawa kebahagiaan dalam hidup Kumud nantinya”. Pramad membalikkan badan mau masuk ke dalam rumah lagi.

Saras berbicara dengan wajah geram, “Kebahagiaannya adalah perceraiannya. Kenapa kau tidak menceraikannya?!”. Pramad kembali menghadap Saras. Menunduk, lama berpikir mencari jawaban yang pas, kemudian tersenyum dikit, “Tuan Saras, aku adalah orang yang tidak pernah meminta ma’af, bahkan pada diriku sendiri. Tapi sekarang aku ingin Kumud mema’afkanku karena Kumud sangat istimewa. Dan selama aku masih hidup, tidak akan kubiarkan dia pergi, tapi setelah aku bertobat untuk semua dosa-dosaku itu. Aku yakin kami pasti akan sama-sama bebas. Dia akan bebas dariku dan aku akan bebas darinya”. Saras mendengar semua ucapan Pramad itu dengan alis berkerut, bahkan sampai Pramad melangkah kembali ke dalam meninggalkannya. Saras mengangkat gulungan dokumen yang dipegangnya sambil berpikir.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Satu tanggapan untuk “Saraswatichandra: Kusum Jatuh Cinta. Itu Bukan Cinta, Tapi Pengabdian. Cinta Tak Bisa Dipaksakan-Kumud”

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.