Serial Saraswatichandra

Saraswatichandra: Kita Saling Mencintai & Pernikahan Yash-Kalika


Saraswatichandra episode sebelumnya, Kumari menanyakan pria idaman Kusum, dan aku akan selalu bersamamu Kumud, Saras memberikan janjinya, apapun yang terjadi, apapun taruhannya. Janji itu terucap. saat menyaksikan ketakutan Kumud akan trauma pernikahan yang dialaminya. Saras semakin merasa, itu menjadi tanggung jawabnya, karena dia, Kumud memutuskan menikah tanpa berpikir. Di sisi lain, Kumud berpikir, ia harus menjauhkan Saras dari penderitaan, ia tak mau Saras ikut menderita.

Saraswatichandra episode 182 183 00

Sinopsis serial Saraswatichandra episode 182 dan 183, Kumud yang ketakutan sambil menangis dalam rengkuhan Saras di hari Diwali (Deepavali), terus ditenangkan Saras, “tidak apa-apa Kumud”. Kumud tetap stres, dia berkata dengan cemas, “tidak Saras, tidak, jangan tenang dulu, dia akan membakar kita hidup-hidup, kita semua, kita akan berubah menjadi abu Saras, kita semua akan mati”. Kumud tergugu.

Saras mengguncang bahu Kumud, “Kumud, dia tidak bisa melakukan apa-apa, bukankah kita sudah menanganinya, sekarang tidak ada yang akan terjadi pada kita”.

Saraswatichandra episode 182 183 01

Kumud masih menangis sambil menatap Saras. Saras, dengan tatap tenangnya mengucapkan, “ikutlah dengan ku, aku akan memeperlihatkan sesuatu, ayo”. Saras menuntun Kumud, memperlihatkan gambar simbol senyum dari cahaya lampu yang dipersiapkannya di lorong, “lihat ini”, Saras tersenyum. Kumud terlihat sedikit mulai tenang dan menarik bibirnya.

Tapi, kemudian, tarikan Kumud malah berlanjut tangis, “cukup, jangan katakan apa-apa lagi. Aku mendengar percakapanmu semalam, itu tidak bisa terjadi Saras, tidak akan bisa”. Mata Saras terlihat berpikir mendengar apa yang diucapkan Kumud.

Saraswatichandra episode 182 183 02

Kumud mau pergi, Saras menariknya, “lihat aku”. Saras mengatupkan geraham, “apa itu sebabnya kau menghindari ku”. Kumud menjawab, “Ya, karena kita tidak bisa menghadapinya lagi Saras. Saras, kita telah melangkah terlalu jauh”.

Saras tak mengerti jalan pikiran Kumud, ia berkata dengan suara keras, “Tapi kita tetaplah sama, kita tidak akan tenang kalau yang satunya marah, kita tidak lengkap tanpa yang satunya, kita sampai berkeping-keping tanpa yang satunya”. Sambil terus menatap Kumud, dengan nada rendah Saras berucap, “kita saling mencintai lebih dari apapun di dunia. Sekarang jangan pikirkan masa lalu, kita harus memikirkan masa depan Kumud”.

Saraswatichandra episode 182 183 03

Kumud malah makin menangis, gantian ia yang meyakinkan Saras terhadap apa yang dipikirkannya, “dengar Saras! Lihat aku! Aku bukan lagi orang yang sama yang kau cintai, keberanianku dan keyakinanku telah hancur, seiring dengan itu, keluargaku juga hancur. Jika kau ada disisiku, maka kau akan menanggung beban juga”.

Saras mendengar ucapan Kumud dengan ekspresi menahan tangis, tak percaya dengan jalan pikiran Kumud yang seperti itu. Kumud menghapus air matanya, kemudian berkata, “ini seperti benang yang sudah terputus dari layang-layang, *mulai nangis lagi*, Tapi layang-layang itu, masih ingin terbang diketinggian langit. Demi benang itu, jangan pernah kembali untuk melihatnya”.

Saraswatichandra episode 182 183 04

Saras menahan perasaannya dengan menarik nafas, “Kumud, dengar”, *Kumud berbalik mau meninggalkanya*. Saras memanggil, “Kumud”. Kumud tetap melangkah.
Tinggal Saras sendirian tercenung, lututnya seperti lemes seketika, ia perlahan berjongkok, semangatnya seperti menghilang, tercenung dan merenung.

Tak jauh dari situ, ternyata Dugba memperhatikan Saras dan Kumud dari balik tiang tembok. Dugba terlihat sangat sedih melihat apa yang dialami putra dan putri yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Ia kemudian membiarkan Saras dalam renungannya dengan meninggalkan tempat itu.

Saraswatichandra episode 182 183 06

Di kamar, Kumud tercenung di pinggir jendela sambil melihat keluar, tak berapa lama ia melihat kembang api berpendar dilangit tanda pergantian tahun Hindu. Ia kemudian menyadari keberadaan Dugba yang sedang mengambil pakaian di almari. Kumud berjalan tengah kamarnya pura-pura tak terjadi apa-apa dengannya, “eeh,bibi. Bibi belum tidur”.

Dugba menghampiri Kumud, “aku belum mengantuk”. Kumud melirik kain yang di pegang Dugba, kemudian melihatnya, “bukankah ini sari yang diberikan nenek waktu bibi di hari pernikahan bibi?”. Dugba mengiyakan, “iya, ini memang sari yang itu, tapi sekarang sudah sangat usang, dan itu ada nodanya. Dan, aku ingin menjualnya, setidaknya aku dibayar untuk bordirannya”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Satu tanggapan untuk “Saraswatichandra: Kita Saling Mencintai & Pernikahan Yash-Kalika”

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.