Saraswatichandra: Cinta, Pernikahan, Kesetiaan, Semua Hanya Pura-Pura


Kumud masuk ke dalam rumah, mencari bibinya Dugba. Bibinya yang memperhatikan dari jauh menelitinya lebih serius. Salah satu bibi termudanya langsung memberondong Kumud dengan pertanyaan:

Saraswatichandra episode 124 125 10

“Kumud lihat dirimu sekarang setelah menjadi menantu di keluarga Dharmadikareem, cantik, dahimu dihiasi vermillion, kalung pernikahan, memakai sari yang bagus, pasti Pramad yang beli khusus untukmukan”. Kumud gagap diberondong seperti itu, kemudian mengiyakan.

Bibi Dugba langsung ‘menyelamatkannya’ dengan nyamperin Pramad dan menarik kupingnya, “Kenapa baru sekarang kau ajak Kumud ke rumah orangtuanya? Ini perayaanmu”. Pramad dan Kumud sontak kaget, Kumud ‘tegang’ menunggu respon yang akan diberikan Pramad terhadap tindakan bibinya.

Pramad yang dalam keadaan ‘sadar’, berusaha melepaskan tangan Dugba sambil mengatakan kalau ia sudah lama menyuruh Kumud mengunjungi orangtuanya, tapi ia tak mau mendengar. Harusnya telinganya yang kau jewer bibi. Sekali-sekali ia harus mengikuti apa yang disuruh suaminya. Semua anggota keluarga Kumud tertawa mendengarnya *dikira candaan*.

Kusum dan Kumari sibuk menggoda Pramad. Mereka terlalu sibuk berbicara sampai tidak memperhatikan Pramad yang tak fokus pada pembicaraan itu. Saat ayah Kumud mau berbicara dengan Pramad dan meminta anak gadisnya itu untuk tidak menggoda menantunya itu terus. Pramad justru mengatakan kalau ia lelah selama perjalanan dan ingin melihat keadaan kampung.

Ayah Kumud menawarkan diri untuk menemani jalan-jalan, langsung ditolaknya dengan alasan kalau ayah mertuanya itu baru bertemu dengan Kumud pastinya ingin melepas rindu. Kusum dan Kumari dengan semangat menawarkan diri untuk menemani kakak iparnya. Salah satu bibinya datang dan meminta mereka untuk membantu di dapur. Pramad langsung memanfaatkan situasi itu biar bisa keluar rumah sendiri.

***
Naveenchandra memberikan laporan ke Alak. Saat mengeceknya satu persatu, Alak menemukan tulisan puisi Kumud terselip diantara kertas laporan tersebut. Saras langsung gelagapan sambil berpikir keras untuk menjelaskannya.

“Ini apa ini? Kau beri aku luka tapi tak bisa ku tunjukkan. Kau beri air mata yang tak bisa ku tumpahkan. Ini puisikan? Apa maksudnya?”.

Naveen dengan terbata-bata mengatakan kalau itu tulisan Nyonya Kumud.

“Bagaimana kau tau itu tulisan Nyoya Kumud?”, tiba-tiba Kalika yang sedang mengantarkan minuman ikutan nyerocos.

Naveen semakin agak panik. Alak langsung meminta Kalika untuk keluar ruangan. Naveen berusaha menegasan kalau waktu itu ia mendengar Nyonya Kumud membacakannya untuk Sid. Mungkin tanpa sengaja saat merapikan kertas ikut terbawa olehnya.

KLIK “ANGKA”  Halaman, dibawah  artikel “TERKAIT” untuk melihat foto dan membaca kelanjutan kisahnya ya kawans 🙂

Iklan