Saraswatichandra: Derita Cinta itu Semakin Terasa Perih


Adik lelaki Pramad yang udah pergi ke kamarnya untuk tidur, Kumud mau menutup pintu, bersamaan dengan munculnya Pramad yang langsung mendampratnya dengan kata-kata kasar sambil mendorong, ia kemudian mencekik leher Kumud,”Kau tak jera juga telah mengganggu hidupku. Semua botol minumanku kau singkirkan. Sekarang beri aku uang, kalau tidak,,,” Pramad mengencangkan tangannya yang nyekek leher Kumud. Kumud ketakutan sambil megap-megap, bilang kalau uang dipegang ayah mertuanya.

“Kalau tidak, apa!”, tiba-tiba muncul Saras di depan pintu dengan wajah menahan amarah, dan tangan mengepal. Pramad melepaskan tangannya dari leher Kumud. “Siapa kau, berani ikut campur!”, teriaknya.

“Aku diutus kepala keluarga disini untuk menjaga keluarganya. Aku karyawan terpercayanya dan diberi hak untuk melakukan apapun demi melindungi keluarganya”.

“Kau hanyalah hewan peliharaan ayahku, pergi berdiri di depan pintu dan jaga disitu, urus aja yang menjadi urusanmu!”, Pramad mengejek Naveenchandra. Naveenchandra sudah siap melayangkan tinjunya ke wajah Pramad. Kumud menenangkannya dengan gelengan dan tatapan, sambil bersuara lembut,”Tuan Naveen, bukankah seharusnya kau bersama mertuaku?”.

Mendengar pertanyaan Kumud, mata Saras yang nanap menatap Pramad beralih ke Kumud. Saat terjadi kontak mata dengan Kumud itu, emosi Saras langsung bisa turun. Ia ingat, jika ia gegabah dalam bersikap, keselamatan Kumud yang akan menjadi taruhannya, Kumud akan semakin menderita. Walau harga dirinya telah diinjak-injak lagi oleh kata-kata Pramad, ia harus bisa menahan sakit itu. Ia
mundur perlahan dari situ.

Kumud tak mau Saras terlibat dalam masalahnya, ia lebih memilih menyerahkan uang yang telah dipercayakan mertuanya untuk dikelola dengan baik itu kepada Pramad.

KLIK “ANGKA”  Halaman, dibawah  artikel “TERKAIT” untuk melihat foto dan membaca kelanjutan kisahnya ya kawans 🙂

Iklan