Saraswatichandra: Harga Diri Seseorang yang Saling Mencintai


Saat makan bersama, minus Kumud yang sedang ke kuil. Ayah mertua Kumud
memuji-muji masakan Kumud. Eh si Pramad ogah memakannya dan minta makanan yang lain. Ibunya menuruti dan meminta pembantu untuk membawakannya. Di larang sama suaminya. “Aku tak pernah mengajarkanmu untuk mengabaikan makanan yang sudah tersedia dihadapanmu. Kalau di tempat lain, silahkan, tidak di sini”. Pramad marah mendengar kata-kata ayahnya dan pergi dari meja makan sambil membanting piring.

Yang lain terpana melihat sikap ayah dan anak itu. Tapi tuan Darmadhikarim menyuruh mereka semua untuk menyelesaikan makannya.

Saat Pramad bertemu Kumud di kamarnya ia langsung menyerangnya dengan kata-kata,”Kenapa kau tak bosan-bosan tetap pura-pura menjadi istriku. Seorang
pembantu aja akan pergi setelah dihina”. Kumud melotot ke arah Pramad. Pramad tak terima dan membentak Kumud untuk menundukkan pandangannya, dan bersiap melayangkan tamparannya ke wajah Kumud. Untung di tahan oleh ayahnya. Dan memintanya untuk tidak mengganggu Kumud yang banyak pekerjaan. Kalau sudah sadar dari pengaruh minuman kera Pramad diminta segera ke ruang kerjanya.

Di ruang kerjanya ia menjelaskan teknis memberikan bantuan pada korban bencana, agar tidak terkesan kampanye terselubung. Pramad tetap asyik dengan hp ditangannya. Ayahnya menegur supaya menyimak, karena ia juga akan ikut.

Pramad langsung bereaksi dan mengatakan heran dengan sikap ayahnya yang selama ini malu mengakui keberadaannya, kok sekarang tiba-tiba ingin ia terlibat dalam kampanye itu.

Bukannya ayah sudah punya pengikut setia yang mau melakukan apa saja, karena ia tak punya rumah. Makanya ia harus mengemis untuk makan dengan mengibaskan ekornya supaya tuannya senang. Ayah sangat bangga dengan ia, hanya satu yang tak bisa ayah sangkal, ia takkan pernah bisa jadi anak ayah.

Ayah Pramad marah mendengar ucapan anaknya yang ditujukan kepada Naveen. Ia menghardik Pramad untuk minta ma’af.

Naveenchandra awalnya sudah mengepalkan tinjunya, ia tak rela harga dirinya telah diinjak-injak oleh Pramad. Tapi demi mengingat kata Kumud yang begitu dicintainya, “Aku melindunginya dengan sumpah pernikahan, kau tak boleh menyentuhnya dan mengatakan apapun”, emosinya kembali reda.

Naveen hanya berucap dengan nada tenang ke Pramad,”Semua yang kau katakan benar, aku hanya karyawan ayahmu. Dan takkan pernah bisa jadi anaknya. Tapi aku menganggap beliau seperti ayahku. Aku mencintai dan menghormatinya”.

Kumud yang kebetulan menyaksikan dan mendengar semua pertengkaran itu hanya bercucuran air mata dalam diam. Ia tau kepribadian Saras, lelaki yang sangat dicintai dan mencintainya itu, ia tak sungkan melayangkan bogem mentah kepada mereka yang telah menghina harga diri dia dan orang-orang yang disayanginya.

KLIK “ANGKA”  Halaman, dibawah  artikel “TERKAIT” untuk melihat foto dan membaca kelanjutan kisahnya ya kawans 🙂

Iklan