Saraswatichandra: Sulitnya Ma’af untuk yang Mengabaikan Hati & Cinta


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

***

Saat sarapan pagi, semua keluarga mertuanya sudah berkumpul, kecuali Pramad. Saras juga diminta bergabung. Kemudian Kumud datang, dan diminta juga ikutan sarapan bareng, ia terpaksa duduk dibangku kosong sebelah Saras.

Ayah mertua Kumud menawarkan Saras lauk buatan menantunya yang enak. Kumud refleks bersuara kalau lauk itu terlalu pedas untuk Saras. Semua mata yang ada di meja makan itu menatap Kumud penuh tanya. Kok bisa, Kumud tau persis selera Naveenchandra? Ada apa? *hampir aja ketauan kalau dua orang itu sebenarnya punya ikatan kuat*.

Untung dengan sigap Kumud ‘ngeles’, kalau orang kota biasanya tidak suka pedas. Saras yang melihat itu bergumam dalam hati dengan senyum samar,”mungkin ikatan itu masih ada yang tersisa, ma’afkan aku Kumud”.

Setelah itu Saras membantu ayah mertua Kumud yang politisi itu untuk kampanye. Kampanye itu dihadiri oleh masyarakat yang kena bencana banjir yang melanda penduduk wilayah tempat kampanye itu, serta seluruh anggota keluarga Pramad termasuk Kumud. Saras yang diminta mengonsep pidato yang akan dibawakannya.

Di kampanye itu Pramad tak hadir, Kumud datang belakangan dengan alasan menunggu suaminya. Saras yang sudah hadir, sangat cemas kalau Kumud tak bisa datang. Ternyata pidato yang dikonsep dan dibacakan oleh ayah mertua Kumud berupa ma’af karena telah menyebabkan bencana. Sebelum bencana itu sempat diperbaiki, takdir berkata lain. Hanya rasa penyesalan yang tulus dan pengampunan yang bisa disampaikan. Tolong jangan sebut itu sebagai pengkhianatan terhadap janji. Tolong bagi yang mema’afkan tetap berada di ruangan.

Kumud yang mendengar pidato yang diucapkan ayah mertuanya itu dan mengerti maksud dari si pengonsep pidato, justru beranjak meninggalkan ruangan. Saras terpana. Ternyata ma’af dari Kumud sangat sulit untuk diraih.

Selesai acara, ayah mertua dan semua keluarga yang hadir memuji konsep pidato yang dibuat Saras, “Pidato yang bisa meluluhkan hati sekeras batu sekalipun. Hanya orang jujur dan menghormati orang lain yang bisa menuliskan itu. Tapi menantuku saja yang sepertinya tidak nyaman ketika aku berpidato. Apa yang kau sembunyikan dariku Kumud. Dimana suamimu Pramad”.

Kumud yang sudah tak nyaman dengan hatinya, gelagapan mendengar ucapan ayah mertuanya. Ia seperti cacing kepanasan berada di tengah-tengah mereka. Di satu sisi tak mau menjelekkan suami, disisi lain perasaannya tak karuan oleh kata-kata ma’af Saras lewat pidato itu.

Saras juga tak terlalu menanggapi pujian ayah mertua Kumud. Karena tujuannya meminta ma’af ke Kumud, hasilnya tidak seperti yang diharapkannya. Begitu sulitnya kata ma’af untuk mereka yang telah mengabaikan hati dan cinta.

Saras memilih masuk ke kamar dengan alasan lelah dan ingin beristirahat. Di kamar ia gelisah. Ia memutuskan pergi jauh dari kehidupan Kumud selamanya, karena tau ia sudah kehilangan Kumud. Tapi ia hanya berharap ma’af satu kali aja agar ia tenang. Tapi sepertinya itu tak mungkin. Itu hukuman baginya, Kumud harus hidup dengan masalah karena ulahnya, ia sendiri harus hidup dengan rasa sesal seumur hidupnya. Ia tak ingin menyakiti Kumud lagi.

Belum selesai berkemas, Saras dikejutkan oleh kehebohan diluar. Ternyata Pramad datang dalam keadaan mabuk berat. Ayah mertua Kumud menyalahkan Kumud. Kenapa anaknya Pramad belum berubah juga dari sikap jeleknya itu.

Saras semakin bersalah menyaksikan semua itu. Sementara Kumud semakin keras hatinya untuk bisa mema’afkan Saras.

Penonton makin gregetan melihat tingkah Kumud dan Saras. Apa susahnya sih memberi ma’af. “Penonton kan ga merasakan sakit dan siksaan perasaan akibat pengkhianatan janji cinta 😛 “.

Iklan