Rasa Rindu Ini Menyiksa


Benar adanya jika sedang jatuh cinta dan dilanda rasa rindu, waktu seakan lambat berputarnya. Berpisah semenit, seakan sudah berhari-hari tidak bertemu *lebay.

Tapi memang itulah yang ditampilkan oleh episode serial 74 dan 75 Serial Saraswatichandra yang diputar pada tanggal 8 Januari kemaren di Trans 7 😳 . Para ABG dan mereka yang pernah jadi ABG dan jatuh cinta, pasti pada senyum-senyum malu saat melihatnya, seraya membathin,’itu kan gaya gw waktu jatuh cinta sama si anu’ 😆 . Yang ga suka tutup tab aja  😉 .

Sinopsis singkatnya lebih kurang seperti berikut:

Kumud, Ibunya, merasa lega setelah ancaman Guman dengan menggunakan surat yang berisi kejujuran hati Kumud tidak berhasil memupuskan cinta Saras. Malah Saras semakin menunjukkan cinta dan sayangnya. Di tambah Ayah Saras yang sangat ingin memboyong Kumud ke rumahnya sebagai menantu.

Ayah Saras sangat senang melihat perubahan pribadi Saras. Anak lelaki yang tak pernah tersenyum, takut melibatkan hati dalam berhubungan dengan orang lain, setelah mengenal Kumud malah bisa tertawa lepas. Ayah mana yang tak senang. Dia ingin buru-buru menikahkan keduanya.

Secara keluarga Kumud masih menganut tradisi, maka untuk menetapkan tanggal
baik itu, dipanggillah peramal. Tukang ramalnya ngeles dengan mengatakan masih ada sedikit halangan dan meminta beberapa syarat untuk bisa memuluskan langkah keduanya. Saras yang ternyata ahli astronomi, langsung membantahnya. Si peramal ngambek dan memilih meninggalkan rumah keluarga itu.

Akhirnya semua keluarga justru meminta calon pengantin pria itu sendiri yang ‘melihat/meramal’ hari baik pernikahannya. Saras kemudian mengatakan bahwa hari pernikahannya dan Kumud sebaiknya dilakukan 15 hari setelah hari itu. Hari itu sama dengan harinya Rama dan Shinta bertemu. Semua senang, kecuali si ibu tiri.

Kumud harus mengikuti perkemahan sekolah dengan murid-muridnya selama dua hari. Saras merasa kelimpungan akan berpisah dengan Kumud. Di mulailah adengan khas sinetron *eh serial* orang jatuh cinta, Kumud yang kebingungan mau pamit ke Saras, tapi orangnya ga ada di rumah. Ditunggu sampai bus mau jalan, ga muncul-muncul. Setelah bus jalan baru datang Saras yang ngos-ngosan ngejar waktu sambil membawa sesuatu. Kumud melihatnya, tapi suaranya untuk menghentikan busa, kalah oleh suara anak didiknya.

Saraspun berlari mencari jalan pintas, sampai akhirnya bisa menghadang jalannya bus 😆 . Dan menyerahkan bungkusan yang dibawanya ke Kumud, ternyata sebuah hp baru, maksudnya biar bisa saling mendengarkan suara setiap saat.

Kumud dan Saras Mesra

Setelah bertatapan penuh cinta, Kumud melanjutkan perjalanan dengan rombongannya. Saat bus jalan, Kumud masih berdiri di pintu bus, demi bisa memegang tangan Saras *Kumud, berpakaian Sari khas gadis India, gelantung di pintu bus, ada jiwa reman juga, huahaha, tapi semua terlihat alamiah*

Ga berapa lama, mulailah Saras menelpon Kumud dan ngegombal. Dia mengatakan baru beberapa detik berpisah dari Kumud, dia sudah merana dan salah orientasi waktu, gimana beberapa hari ke depan. Kumud sampai meneteskan air mata mendengarnya. Duh, cinta.

Nyampai di rumah, saat rasa rindu yang sangat menyiksa itu menghampiri Saras, dia pun mengeluarkan hp. Cilakanya, sinyal tak ada di sepenjuru rumah, bahkan ia berburu sinyal sampai lantai atas, dipinggir-pinggir tembok pembatas, nyerempet-nyerempet mau jatuh. Giliran ketemu sinyal, panggilannya ga diangkat Kumud. Giliran hpnya yang bunyi, udah main nyerocos aja, marah-marah kangen, eh ga taunya yang nelpon adek tirinya, bukan si Kumud 😆 . *yang pernah dimabuk asmara kemudian bermasalah dengan sinyal, ya begitu itu gambarannya 😛 *.

Rasa rindu itu terasa semakin menyiksa.

Sementara itu, Guman si ibu tiri memulai langkah baru untuk menghancurkan keluarga Kumud, dengan memanfaatkan Kumari yang sedang kebingungan menghadapi sosok ayah yang tiba-tiba muncul.

Iklan

5 responses to “Rasa Rindu Ini Menyiksa

  1. Ping-balik: Saraswatichandra: Membatalkan Pernikahan Lewat Telpon? | Dizaz·

Gimana Menurutmu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s